Mendudukkan Masalah Jenggot dan Kecerdasan Dengan Tepat

Ilustrasi

Baru-baru ini dunia maya dihebohkan oleh pernyataan seorang tokoh muslim Indonesia yang mengatakan bahwa orang yang cerdas-cerdas tidak berjenggot dan bahwa semakin panjang jenggot seseorang, maka ia semakin goblok.[1] Pernyataan provokatif ini tentu membuat sakit hati banyak kaum muslimin yang selama ini memang identik dengan jenggot karena meyakini bahwa hal ini adalah bagian dari sunnah Rasul, apalagi faktanya hampir semua ulama besar di dunia memiliki jenggot termasuk para wali songo yang menyebarkan islam di Indonesia. Baca pos ini lebih lanjut

Mengenal dan Menolak Tauhid Rububiyah

Mengenal dan Menolak Tauhid Rubūbiyah

oleh: Abdul Wahab Ahmad, MHI.

Akhir-akhir ini di berbagai LKS (Lembar Kerja Siswa), buletin, tabloid atau buku-buku keislaman marak disebut tentang tauhid rubūbiyah bersanding dengan tauhid ulūhiyah dan tauhid asmā’ wa al-shifāt. Banyak orang yang mungkin kurang paham dengan konsep tauhid yang bermacam-macam ini karena memang belum lama betul teori tentang ketiga macam tauhid ini menyebar di Indonesia seiring dengan semakin banyaknya saudara kita yang mengadopsi pemikiran Syaikh Ibnu Taymiyah, tokoh abad ke delapan yang pertama kali menelorkan teori pembagian tauhid menjadi tiga. Baca pos ini lebih lanjut

Ketika Salafi-Wahabi Menyusun Ensiklopedi

oleh: Abdul Wahab Ahmad, MHI

 

Sudah jamak diketahui bahwa Salafi-Wahabi tidak punya akar sejarah hingga ke zaman salaf (tiga generasi pertama). Akar gerakan tersebut hanya sampai pada Muhammad ibn Abd al-Wahhab (1206 H) dari Nejd yang banyak meramu pemikirannya dari pendapat-pendapat Ibnu Taymiyah al-Harrani (728 H.) dan murid-muridnya, terutama Ibnu Qayyim al-Jauziyah (751 H). Namun demikian, sudah maklum bahwa mereka mengklaim gerakannya adalah gerakan yang bersumber langsung dari al-Qur’an, Hadis serta tindak tanduk para ulama saleh. Atas klaim ini mereka menyebarkan gerakannya ke seluruh dunia dengan label purifikasi atau pemurnian; Pemurnian pemahaman agama yang menurut mereka telah dikotori dengan bid‘ah dan kemusyrikan. Baca pos ini lebih lanjut

BARAKAH; Definisi, Kisah & Pernak-perniknya

Barakah, banyak yang mengenal kata ini, tapi tidak semua mengetahui dengan persis apa sih barakah itu? Apakah barakah benar-benar ada? Siapa saja sih yang punya barakah? Apakah benda-benda juga punya barakah? apakah ada hubungan antara mencari barakah dengan kemusyrikan? Bisakah barakah dibuat ancaman, dijual atau dicabut? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang mencoba diuraikan dalam SitusWahab kali ini dengan bahasa yang disederhanakan sebisa mungkin dan referensi sebaik mungkin. Baca pos ini lebih lanjut

Mau Jihad ko’ Ngawur?!!! Tinjauan terhadap praktik pengeboman di Indonesia

Pagi ini saya agak kaget karena melihat statistik SitusWahab yang agak tidak biasa. Artikel yang paling aktif sewaktu tulisan ini dibuat adalah ternyata artikel saya tentang Hukum Bom Bunuh Diri Dalam Islam. Setelah saya amati ternyata artikel itu selalu jadi paling aktif ketika ada peristiwa pengeboman di negeri kita tercinta ini. Dalam kasus sekarang adalah kasus pengeboman di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo. Yah, sepertinya saya menulis hal yang tepat di momen yang tepat pula, tatkala rakyat ini sudah terbiasa mendengar kata “pengeboman“. Baca pos ini lebih lanjut

Wujudul Hilal Vs Imkanur Rukyah, mana yang paling tepat?

Sudah tahu yang dimaksud judul tersebut bukan? Ya, kali ini SitusWahab akan menulis tentang kriteria penetapan Idul Fitri yang dipakai oleh Muhammadiyah dan pemerintah bersama NU. Kedua patokan ini membuat Idul Fitri 1432 H atau 2011 M kemarin jadi berbeda. Bagi yang belum atau kurang paham, begini ceritanya: Baca pos ini lebih lanjut

Problema Pemahaman Sifat Mutasyabihat Allah

Sifat Mutasyabihat adalah sifat-sifat Tuhan yang sepintas menyerupai makhluk, seperti “Tangan Allah”, “Wajah Allah”, “Bersemayam di atas ‘arasy” dan sebagainya yang menurut arti dhahirnya menunjukkan Allah punya tangan, wajah dan anggota badan layaknya makhluk-makhluknya. Padahal sudah diketahui bahwa Allah tidak serupa dengan siapapun atau apapun yang diciptakan-Nya sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: Baca pos ini lebih lanjut

Mazhab, Taklid dan Talfiq

I.       Pendahuluan

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita selalu berhubungan dengan apa yang kita sebut sebagai hukum fiqh. Mulai dari membersihkan kotoran-kotoran, najis dan hadath di pagi hari hingga menjelang tidur di malam hari, kesemuanya memakai fiqh. Dalam fiqh kita sehari-hari, biasanya kita menganut mazhab tertentu yang sebelumnya telah dikenal luas oleh masyarakat tempat kita tinggal. Baca pos ini lebih lanjut

Toleransi Beragama Dalam Islam

Oleh:

Abdul Wahab, MHI

Islam sendiri pada hakikatnya tidak membeda-bedakan penghormatan terhadap setiap orang dari segi kemanusiaannya. Apapun agama yang dianutnya, perlakuan dan penghormatan yang diberikan tetaplah sama selama mereka tidak memerangi Islam. Dalam sebuah hadith disebutkan: Baca pos ini lebih lanjut

Religius Truth Claim; Klaim kebenaran agama, benar atau tidak?

Buku Fiqih Lintas Agama yang diterbitkan Paramadina beberapa tahun lalu dan banyak orang lainnya dari kalangan liberal mengatakan bahwa sebab utama dari konflik, khususnya konflik antar umat beragama, adalah adanya truth claim atau klaim kebenaran. Mereka lalu mengusulkan agar setiap golongan atau agama tidak merasa paling benar atau tidak bertingkah seolah memonopoli kebenaran. Menurut hemat penulis, argumen seperti ini dalam semua tafsirannya adalah tidak logis. Baca pos ini lebih lanjut

Islam dan dorongan untuk menjadi pemikir

Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad, 38: 29). Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir.[1]

Baca pos ini lebih lanjut

Al QUR’AN YANG HAMPA

Al Qur’an merupakan buku/kitab yang sangat istimewa. Al Qur’an adalah satu-satunya buku yang mempunyai cara baca yang khusus. Seseorang tidak dapat membaca Al Qur’an seenaknya atau dengan lagu yang seenaknya. Tak ada satupun buku yang lebih banyak dihafal manusia di luar kepala daripada Al Qur’an. Selama berabad-abad dan untuk selamanya, Al Qur’an menjadi satu-satunya buku yang tak dapat dibuat padanannya. Banyak yang mencoba membuat tandingannya, tetapi yang dihasilkan tak lain hanyalah buku yang bermutu rendah, baik dari segi keindahan bahasanya maupun keluasan maknanya. Baca pos ini lebih lanjut

Hukum meletakkan foto di Facebook

Ada seorang teman di FB yang memberikan sebuah pesan berisi link ke halaman FB yang berisi nasihat-nasihat bagi kaum muslimah. Isi nasihat yang dikirimkan pada saya adalah kajian tentang haramnya menampilkan foto muslimah di FB. Saya pun akhirnya membalas pesan tersebut dengan menampilkan sudut pandang saya mengenai hal tersebut. Isi pesan balasan saya kurang lebih begini (dengan sedikit editan untuk mempermudah pemahaman Anda): Baca pos ini lebih lanjut

Hubungan Antara Pemikiran Imam Shafi’i dan Perubahan Sosial Budaya

Oleh: Abdul Wahab, MHI

  I.      Pendahuluan

 Imam al-Shafi’i adalah seseorang yang jasa-jasanya tidak dapat dilupakan oleh seluruh umat islam. Beliau adalah penyusun pertama ilmu usūl fiqh. Sebelum kelahiran beliau, ilmu kaidah hukum islam ini tidak mengenal fungsi serta peran al Qur’an, sunnah dan ijma’ secara baik, mereka hanya memakainya saja tanpa mengetahui hubungan antar dalil-dalil tersebut.

Dalam perkembangan pemikirannya, Imam al-Shafi’i mempunyai dua pendapat yang berbeda. Kedua pendapat ini biasa dikenal dengan qaul qadīm dan qaul jadīd. Berbagai tafsiran muncul berkisar hal ini, ada yang menyelidiki kemungkinan pengaruh sosio-kultural yang sangat kontras antara Irak dan Mesir sebagaimana nanti akan diutarakan, dan ada juga yang melihatnya sebagai peristiwa ralat biasa yang disebabkan penemuan hadith baru yang lebih kuat.

Makalah ini mencoba mendiskusikan fenomena tersebut dengan menyertakan beberapa contoh perubahan pendapat al-Shafi’i. Sebagaimana diketahui, qaul qadīm dan qaul jadīd tetap dibahas dalam kajian-kajian fiqh kita, karenanya, makalah ini masih dapat menemukan urgensinya. Baca pos ini lebih lanjut

HUKUM BOM BUNUH DIRI MENURUT ISLAM

Oleh Abdul Wahab, MHI

I.       Pendahuluan

Perjuangan tidak pernah mengenal kata akhir, namun cara berjuang tiap umat seringkali mengalami perubahan searah dengan perubahan sarana-sarana perang. Pada tahun-tahun terakhir, sering terdengar upaya beberapa kelompok muslim yang melakukan bom bunuh diri atau juga dikenal sebagai suicide bombing dan human bombing atau bom manusia. Hemat penulis, istilah yang lebih tepat untuk ini adalah bom jihad—untuk membedakannya dari “bunuh diri yang memakai bom”—tapi ada baiknya penulis memakai istilah bom bunuh diri karena lebih banyak digunakan, dengan cataan bahwa: istilah “bom bunuh diri” dalam makalah ini adalah dimaksud untuk merujuk pada “bom jihad.” Secara umum ada dua reaksi para ulama dalam menyikapinya, sebagian melarang dan sebagian lagi memuji. Kedua kelompok tersebut sama-sama menyertakan argumen-argumennya, baik naqly maupun aqly. Baca pos ini lebih lanjut

KEBERADAAN HADITH DI TENGAH PERAN GANDA NABI; DALAM KAPASITASNYA SEBAGAI RASUL DAN MANUSIA BIASA

Oleh: Abdul Wahab, MHI

A.     Pendahuluan

Kita tahu bahwa Nabi Muhammad adalah salah satu dari sekiau banyak tokoh sejarah. Perbedaan beliau dengan tokoh sejarah lain adalah dalam kapasitas beliau sebagai penyampai wahyu. Tokoh-tokoh sejarah selain beliau, sebagai msnusia, hanya mampu menghasilkan ajaran-ajaran yang kebenarannya temporal, terbatas ruang dan waktu. Nabi Muhammad berbeda dari mereka semua karena ajaran beliau sebagai rasul terakhir haruslah berlaku abadi sampai hari akhir.

Suatu fakta sejarah yang tidak mungkin dipungkiri adalah bahwa selain sebagai rasul, Nabi Muhammad juga seorang manusia. Artinya, Nabi Muhammad mempunyai sisi manusiawi seperti manusia lainnya. Beliau bisa saja melakukan salah dan mempunyai keterbatasan keterbatasan yang dimiliki manusia lainnya. Sisi manusiawi ini dicoba untuk diungkap dalam makalah ini guna mendudukkan posisi beliau dalam tempat semestinya, tentunya tanpa mengurangi respect terhadap kemuliaan dan keutamaan beliau sebagai rasul terbaik  atau mereduksi rasa cinta kita kepada pribadi beliau.

Pengetahuan tentang sisi manusiawi nabi dapat memberi pemahaman yam lebih utuh tentang hadith-hadith beliau. Dengannya, kita tahu sejauh mana ruang lingkup sabda beliau, apakah berlaku umum lintas sejarah, ataukah hanya berlaku khusus di masa beliau saja. Tanpa tahu mana hadith yang keluar dari kapaitas beliau sebagai rasul dan kapasitas beliau sebagai manusia, kita dapat terjerumus dalam kesimpulan yang keliru, kaku dan sempit karena kita tidak mampu membedakan mana dimensi ilahiyah dan mana dimensi historis. Baca pos ini lebih lanjut