Mendudukkan Masalah Jenggot dan Kecerdasan Dengan Tepat


Ilustrasi

Baru-baru ini dunia maya dihebohkan oleh pernyataan seorang tokoh muslim Indonesia yang mengatakan bahwa orang yang cerdas-cerdas tidak berjenggot dan bahwa semakin panjang jenggot seseorang, maka ia semakin goblok.[1] Pernyataan provokatif ini tentu membuat sakit hati banyak kaum muslimin yang selama ini memang identik dengan jenggot karena meyakini bahwa hal ini adalah bagian dari sunnah Rasul, apalagi faktanya hampir semua ulama besar di dunia memiliki jenggot termasuk para wali songo yang menyebarkan islam di Indonesia. Sontak saja, ada banyak komentar pedas yang dialamatkan pada tokoh yang tersebut. Namun sebagian lainnya menganggap hal ini tak lebih dari sekedar guyonan lucu yang tak patut dipermasalahkan.

Terlepas dari respon orang-orang itu, ada beberapa hal yang telah jamak diketahui kaum muslimin tentang jenggot berdasarkan berbagai hadis Nabi dan atsar (perkataan sahabat), yakni:

  1. Jenggot adalah fitrah bagi laki-laki.
  2. Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar seorang muslim membiarkan jenggotnya
  3. Jenggot sebagai identitas keislaman yang membedakan dari orang Yahudi
  4. Jenggot yang panjangnya melebihi segenggaman tangan sebaiknya dipotong dan dirapikan
  5. Nabi Muhammad SAW memotong jenggotnya, sisi panjang dan lebarnya.

Saya tak akan membahas hal-hal di atas panjang lebar karena sudah jamak diketahui, meskipun ada sedikit perdebatan tentang masing-masing poin di atas dari kalangan muslim yang tak suka berjenggot. Yang tak banyak diketahui oleh kaum muslim pada umumnya, sebenarnya isu jenggot sebagai tanda kebodohan ini adalah “isu lama” yang banyak sekali dibahas dalam berbagai kitab referensi kaum muslimin, mulai dari kitab sastra hingga kitab-kitab hadis. Beberapa orang menjadikannya sebagai pembelaan atas pernyataan tokoh yang saya singgung di awal tulisan ini dan mulai juga ramai di media sosial. Melalui tulisan santai ini saya ingin mengajak untuk melihat masalah ini secara objektif dan mendudukkan inti persoalannya pada tempatnya. Pernyataan tokoh itu, kita bahas setelah ini.

Di masa lalu, ada yang namanya Ilmu Firasat yang salah satunya membahas tentang kaitan antara satu kondisi tubuh dengan suatu sifat tertentu, misalnya kaitan antara tahi lalat, bentuk hidung dengan sifat atau peristiwa tertentu, dan begitu seterusnya. Tentu saja tidak ada prosedur ilmiah dalam penarikan kesimpulannya karena apa yang sekarang kita kenal sebagai prosedur ilmiah belumlah dikenal di masa itu. Banyak orang di masa lalu menjadikan materi ilmu firasat ini sebagai “kebenaran umum” yang diterima luas karena memang sifat kritis ilmiah belum membudaya. Sebagian dari materi “kebenaran umum” itu adalah hubungan antara panjang jenggot (طول اللحية) dan kedunguan (الحمق).

Berikut ini beberapa pernyataan para ulama terkemuka perihal jenggot dan kebodohan sesuai dengan ilmu firasat yang ada pada masa itu:

  1. Ibnu al-Jauzi al-Hanbali, ulama besar Mazhab Hanbali, beliau yang nampaknya paling terkenal dalam topik ini karena beliau menulis panjang lebar dengan menyertakan banyak kutipan dari para tokoh islam dalam kitabnya yang berjudul Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin tentang sifat-sifat orang dungu yang dua halaman darinya menyebutkan bahwa di antara ciri-ciri orang dungu adalah jenggotnya panjang. Berikut ini adalah sedikit pernyataan beliau:

ومن العلامات التى لا تخطىء طول اللحية فان صاحبها لا يخلو من الحمق. وقد روي انه مكتوب فى التوراة إن اللحية مخرجها من الدماغ فمن أفرط عليه طولها قل دماغه ومن قل دماغه قل عقله ومن قل عقله كان أحمق[2

Termasuk tanda-tanta yang tidak salah lagi, yaitu panjangnya jenggot. Sesungguhnya pemiliknya tidaklah absen dari kedunguan. Telah diriwayatkan bahwa tertulis di Taurat bahwa sesungguhnya jenggot asal mulanya keluar dari saraf otak, siapa yang berlebihan memanjangkannya maka sedikit otaknya dan siapa yang sedikit otaknya maka sedikit akalnya dan siapa yang sedikit akalnya berarti dungu.

  1. Ibrahim al-Nakha’i, beliau adalah seorang imam periwayat hadis terkemuka. Ia berkata

عجبت للعاقل كيف لا يأخذ من لحيته فيجعلها بين لحيتين، فإن التوسط في كل شيء حسن[3

Aku heran terhadap orang berakal yang tidak memangkas jenggotnya dan menjadikannya antara pendek dan terlalu panjang. Sesungguhnya bersikap moderat dalam segala sesuatu itu baik.

  1. Ibnu Nujaim al-Hanafi, seorang ulama besar mazhab Hanafi yang melahirkan banyak karya yang dirujuk hingga kini. Ia berkata:

ويستدل على صفته من حيث الصورة: بطول اللحية؛ لأن مخرجها من الدماغ، فمن أفرط طول لحيته قل دماغه، ومن قل دماغه قل عقله، ومن قل عقله فهو أخف[4

Dan yang dibuat dalil bagi sifat kedunguan dari segi rupa adalah panjangnya jenggot karena keluarnya dari saraf otak, siapa yang berlebihan panjang jenggotnya maka sedikit otaknya dan siapa yang sedikit otaknya maka sedikit akalnya dan siapa yang sedikit akalnya maka ia lebih remeh.

  1. Abu Hayyan al-Tauhidi, ia adalah salah seorang tokoh serba bisa: filsuf, sastrawan, sufi dan konon beraliran fikih Syafi’i. Beberapa ulama menyebutnya sesat karena ada pemikirannya yang sulit mereka terima (sebagaimana kebanyakan filsuf-sufi islam lain) sedangkan Imam as-Subki memasukkannya dalam deretan ulama Syafi’iyah dan menegaskan bahwa ia berakidah benar. Tentang masalah jenggot, Abu Hayyan berkata:

قال بعض الأطباء: موضع العقل الدماغ وطريق الروح الأنف وموضع الرعونة طول اللحية[5

Beberapa tabib mengatakan: Tempat akal adalah otak dan jalah ruh adalah hidung dan tempat ketololan adalah panjangnya jenggot.

  1. Ibnu Abidin al-Hanafi, salah satu Imam besar dari mazhab Hanafiyah. Ia menulis dalam karya besarnya Radd al-Mukhtar sebagai berikut:

روى الطبراني عن ابن عباس رفعه { من سعادة المرء خفة لحيته } واشتُهر أن طول اللحية دليل على خفة العقل.[6

Al-Tabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan ia menyandarkannya pada Nabi: Termasuk kebahagiaan seseorang adalah keringanan jenggotnya.

  1. Ali Haidar al-Hanafi, seorang ulama sekaligus pejabat dalam Dinasti Utsmaniyah, ia berkata dalam karyanya yang terkenal, Durar al-Hukkam sebagai berikut:

والعلامات التي تدل على الحمق هي طول اللحية[7

Tanda-tanda yang menunjukkan kedunguan adalah panjangnya jenggot

  1. Al-Hasan bin al-Mutsanna, cucu Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ia berkata:

إذا رأيت رجلا له لحية طويلة، ولم يتخذ لحيته بين لحيتين: كان في عقله شيء [8

Bila engkau lihat seorang laki-laki panjang jenggotnya dan ia tidak memangkasnya antara terlalu pendek dan terlalu panjang, maka ada sesuatu di akalnya.

Dan masih banyak pernyataan ulama yang lain. Tapi kadar di atas rasanya sudah cukup untuk membuktikan adanya anggapan di masa lalu yang mengaitkan antara panjang jenggot dengan kedunguan. Cerita-cerita lucu pun tentang ini juga mudah dijumpai di kitab-kitab klasik, misalnya saja di kitab hadis Faidl al-Qadir karya al-Munawi ketika menerangkan hadis habi كان يأخذ من لحيته من عرضها وطولها  (Nabi memangkas jenggotnya dari sisi lebar dan panjangnya). Ia menceritakan obrolan Khalifah al-Makmun dengan para sahabatnya yang suatu saat menyinggung soal kebodohan orang-orang yang berjenggot panjang. Tak lama kemudian hadirlah seseorang yang berjenggot panjang tetapi dengan penampilan yang baik dan pakaian yang indah. Al-Makmun kemudian bertanya kepada para sahabatnya tentang orang tersebut, mereka menjawab: “orang pandai”. Kemudian al-Makmun memanggilnya dan bertanya beberapa hal padanya, ternyata jawaban-jawaban orang itu sedikit error yang menyebabkan hadirin tertawa. Saking lucunya, al-Makmun sampai terpingkal-pingkal kemudian mengucap sebuah syair berikut ini yang di kemudian hari menjadi amat populer karena banyak dikutip:

ما أحد طالت له لحية # فزادت اللحية في هيئته

Tak seorang pun yang panjang jenggotnya hingga jenggot itu menambah penampilannya

إلا وما ينقص من عقله # أكثر مما زاد في لحيته

Kecuali berkurang akalnya lebih banyak dari bertambahnya panjang jenggotnya

Silakan anda baca sendiri kisah al-Makmun itu bila berkenan, sengaja tidak saya tulis lengkap di sini J.

Satu hal yang perlu diingat, ketika orang Arab menyifati sebuah jenggot sebagai “panjang”, itu berbeda dengan standar orang Indonesia. Orang Arab sudah biasa berjenggot sedangkan orang Indonesia tidak, sehingga tolok ukur “panjang” itu berbeda jauh. Jenggot panjang menurut standar orang Indonesia seringkali masih pendek dalam standar orang Arab. Sama seperti ketika seorang nelayan menyebut “ikan kecil”, belum tentu itu dianggap kecil oleh orang pegunungan. Jadi ketika orang Arab mengatakan bahwa jenggot panjang adalah pertanda kebodohan, maka yang dimaksud adalah yang sangat panjang menurut standar orang Indonesia, bukan sama sekali tak berjenggot atau berjenggot hanya beberapa centimeter saja. Jenggot yang panjangnya hingga segenggaman tangan, dalam standar Arab adalah ukuran yang wajar tapi sudah panjang sekali dalam standar orang Indonesia.

Dari berbagai uraian di atas, bisa ditarik dua kesimpulan sebagai berikut:

  1. Ada kaitan antara panjang jenggot dengan kedunguan (dalam perspektif ilmu firasat)
  2. Jenggot yang terlalu panjang hingga tidak wajar adalah tanda kedunguan

Dengan demikian sebenarnya yang tercela karena identik dengan kebodohan adalah jenggot yang terlalu panjang hingga melebihi batas kewajaran, bukan semua jenggot. Meskipun belum ada penelitian ilmiah tentang ini, tampaknya secara kasat mata memang ada korelasi positif antara panjang jenggot yang tidak wajar dengan kecerdasan yang dimiliki orang yang bersangkutan. Makin tidak wajar panjang jenggotnya, makin aneh ia dan makin tidak meyakinkan kemampuannya dan sepintas terlihat seperti orang yang bermasalah. Meskipun kesimpulan ini tidak bisa digeneralisir.

JENGGOTLalu dapatkah uraian ini dipakai untuk membela tokoh penghina jenggot yang saya singgung di awal tulisan ini? Tidak. Tampaknya ia (meskipun sudah tak berjenggot sama sekali) salah paham terhadap ucapan para tokoh islam di masa lalu itu dan mengira bahwa jenggot secara mutlak adalah identik dengan kebodohan. Meskipun menyandang kesarjanaan doktoral, ia pun jatuh pada kesalahan yang kedua yang merupakan warisan kesalahan metodologis sejak berabad-abad, yakni terlalu menggeneralisir kesimpulan. Akhirnya ia menyatakan bahwa orang yang cerdas-cerdas seperti Gus Dur, Nurcholis Madjid dan Quraish Shihab justru tidak berjenggot sedangkan yang berjenggot adalah orang goblok. Padahal yang dipermasalahkan oleh para ulama itu bukan antara berjenggot dan tidak, tapi antara jenggot yang rapi (dikontrol panjang dan lebarnya) dan yang dibiarkan terlalu panjang. Semoga saja tokoh tersebut kelak lebih hati-hati dalam memberikan statemen agar tidak memberikan opini yang salah. Tapi setidaknya ada hikmah yang bisa kita petik di balik pernyataan kontroversial tokoh itu: Ternyata, makin habis jenggot dipangkas, bukan berarti makin cerdas.

Dari sudut pandang ilmiah modern, sepertinya sulit dibuktikan adanya hubungan apapun antara jenggot dan kecerdasan seseorang. Tidak ada kesimpulan yang bisa ditarik darinya, baik untuk mengatakan bahwa berjenggot berarti bodoh atau berjenggot berarti tidak bodoh. Hadis nabi pun tak mengaitkan antara keduanya, yang pasti tradisi di masa Nabi dan Sahabat adalah memangkas jenggot yang melebihi segenggaman tangan. Meskipun perlu diingat juga bahwa beberapa ulama, misalnya Imam al-Nawawi mengatakan bahwa jenggot sebaiknya tidak perlu dipotong secara mutlak, tapi dibiarkan saja apa adanya sesuai dengan salah satu hadis Nabi. Ini adalah ikhtilaf yang tidak akan saya bahas panjang lebar di sini.

Semoga tulisan santai ini bermanfaat.

[1] Lihat di tautan ini https://www.youtube.com/watch?v=KU2x9ktmvb4

[2] Ibnu al-Jauzi, Akhbar al-Hamqa wa al-Mughaffalin, 31-32

[3] Al-Munawi, Faidl al-Qadir, V, 193

[4] Ibnu Nujaim, al-Bahru al-Ra’iq, VI, 287.

[5] Abu Hayyan al-Tauhidi, al-Basha’ir wa al-Dakha’ir, IV, 69.

[6] Ibnu Abidin, Radd al-Mukhtar, IV, 407

[7] Ali Haidar, Durar al-Hukkam Syarh Majallat al-Ahkam, IV, 580.

[8] Al-Munawi, Faidl al-Qadir, V, 193

Asli

 

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

2 Responses to Mendudukkan Masalah Jenggot dan Kecerdasan Dengan Tepat

  1. dias mengatakan:

    Siiip…

  2. Ping-balik: Mendudukkan Masalah Jenggot dan Kecerdasan Dengan Tepat | - Selamat Datang di PC NU Kencong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s