Mengenal dan Menolak Tauhid Rububiyah


Mengenal dan Menolak Tauhid Rubūbiyah

oleh: Abdul Wahab Ahmad, MHI.

Akhir-akhir ini di berbagai LKS (Lembar Kerja Siswa), buletin, tabloid atau buku-buku keislaman marak disebut tentang tauhid rubūbiyah bersanding dengan tauhid ulūhiyah dan tauhid asmā’ wa al-shifāt. Banyak orang yang mungkin kurang paham dengan konsep tauhid yang bermacam-macam ini karena memang belum lama betul teori tentang ketiga macam tauhid ini menyebar di Indonesia seiring dengan semakin banyaknya saudara kita yang mengadopsi pemikiran Syaikh Ibnu Taymiyah, tokoh abad ke delapan yang pertama kali menelorkan teori pembagian tauhid menjadi tiga.

Secara mudahnya, tauhid rubūbiyah  berarti level tauhid yang hanya mengakui ketuhanan Allah I tapi masih menyekutukan-Nya dengan sesembahan yang lain dalam prakteknya. Karena keterbatasan ruang, tulisan kali ini tidak akan membahas kedua jenis teori tauhid yang terakhir, tapi yang pertama saja, yakni tauhid rubūbiyah .

Sebagaimana kita tahu, tauhid adalah masalah yang paling penting dalam islam. Tauhid adalah satu-satunya hal yang membedakan antara muslim dan kafir. Dengan tauhid, jiwa, harta dan kehormatan seorang muslim diharamkan (wajib dijaga). Tauhid berarti meyakini bahwa tiada tuhan yang layak disembah selain Allah (lā ilaha illa Allah). Ini berarti tauhid berlawanan secara mutlak dengan syirik (menyekutukan Allah), karenanya tidak pernah ada ayat atau hadis yang menyebut adanya percampuran antara tauhid dan syirik.

Tauhid ini diperoleh dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat, bersaksi bahwa tiada tuhan yang layak disembah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Tentang hal sepenting ini, konsep tauhid pastilah telah sempurna sejak pertama kali islam diajarkan oleh Rasulullah SAW. Seharusnya, tidak mungkin ada teori tauhid yang muncul belakangan tanpa diketahui umat generasi awal. Sayangnya, di abad kedelapan hijriah Ibnu Taymiyah muncul dengan teori tauhid yang sama sekali baru seolah tujuh abad sebelumnya umat islam tidak mengenal tauhid dengan sempurna.

Muhammad Ibnu Abdil Wahhab, pendiri gerakan Salafi-Wahabi, bercerita tentang dirinya sewaktu belum menekuni ajaran tauhid teori Ibnu Taymiyah:

وأنا أخبركم عن نفسي والله الذي لا إله إلا هو، لقد طلبت العلم، واعتقد من عرفني أن لي معرفة، وأنا ذلك الوقت، لا أعرف معنى لا إله إلا الله، ولا أعرف دين الإسلام، قبل هذا الخير الذي من الله به؛ وكذلك مشايخي، ما منهم رجل عرف ذلك. فمن زعم من علماء العارض: أنه عرف معنى لا إله إلا الله، أو عرف معنى الإسلام قبل هذا الوقت، أو زعم من مشايخه أن أحدا عرف ذلك، فقد كذب وافترى.

“Aku pada saat itu tidak tahu makna lā ilaha illa Allah dan tidak tahu makna agama islam sebelum kebaikan ini yang dianugerahkan Allah. Begitu pula guru-guruku, tak ada satu pun dari mereka yang mengetahuinya. Maka siapa pun dari ulama yang menentang yang menyangka bahwa dia mengetahui makna lā ilaha illa Allah atau mengetahui makna islam sebelum masa ini, atau menyangka dari guru-gurunya bahwa ada yang mengetahuinya, maka dia telah berbohong dan membuat-buat”. (al-Durar al-Saniyyah: X/51)

Begitulah pandangan Muhammad bin Abdil Wahhab tentang umat islam di masanya dan masa sebelumnya yang menurutnya tidak tahu tentang tauhid. Baginya, tauhid yang diyakini oleh kaum muslimin di luar golongannya hanyalah sebatas tauhid rubūbiyah  atau tauhid yang masih diliputi kesyirikan. Konsekuensi adanya konsep tauhid rubūbiyah  ini sangat serius, dengannya seseorang bisa dengan mudah menuduh muslim lain yang berbeda pendapat dalam beberapa persoalan (semisal ziarah kubur, tawassul, dan tabarruk) sebagai orang yang bertauhid tapi masih syirik atau sering disebut sebagai mukmin-musyrik atau qubūriyyun (penyembah kuburan).

Muhammad Ahmad Basyamil, salah satu tokoh Salafi-Wahabi mengatakan:

أن المشركين الأولين ما كانوا يكفرون بوجود اللّه ، وما كانوا يعتقدون أن له شريكًا يشاركه التصرف في شيء من ملكه بل كانوا يوحدونه في الربوبية توحيدًا كاملا

Kaum Musyrik awal tidak mengingkari keberadaan Allah, mereka tidak meyakini bahwa Allah punya sekutu dalam berbuat sesuatu dalam kekuasan-Nya, tapi mereka bertauhid rubūbiyah  secara sempurna”. Bahkan di halaman yang sama dia berkata:

المشركون الأولون كانوا أكثر إيمانا من مشركي هذا الزمن

“Kaum Musyrik awal lebih banyak imannya daripada musyrik di zaman ini”. (Kaifa Nafhamu al-Tauhid: 14).

Yang dimaksudnya sebagai musyrik zaman ini adalah orang-orang yang biasa berziarah ke makam para wali untuk mencari barakah mereka atau orang-orang yang bertawassul. Dengan demikian, menurut mereka berarti Abu Jahal dan Abu Lahab lebih bertauhid dan beriman pada Allah daripada kebanyakan muslim sekarang. Subhanallah! sungguh sesat perkataan ini.

Keyakinan adanya tauhid rubūbiyah  ini biasanya didasarkan pada ayat-ayat berikut dan yang senada:

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Yunus: 31)

Ayat tersebut dijadikan landasan bahwa orang musyrik jahiliah bertauhid karena mereka mengakui bahwa yang memberi rizki dan mengatur segala urusan adalah Allah. Padahal ayat tersebut sama sekali tidak menyebut mereka bertauhid atau menyebut bahwa orang musyrik meyakini bahwa berhala-berhala mereka tidak dapat menjadi sekutu Allah. Karena itu, ayat ini tidak bisa menjadi dalil untuk mentauhidkan orang musyrik jahiliah. Lebih-lebih, akhir ayat tersebut justru menandakan bahwa orang musyrik jahiliah tidak mau patuh pada Allah yang memerintahkan mereka bertauhid.

Ayat lainnya adalah:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ.

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan agama kepada-Nya; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). (QS. Al-Ankabut: 65)

Ayat tersebut dianggap sebagai hujjah bahwa orang musyrik jahiliah telah bertauhid sewaktu menghadapi keadaan genting, mereka menjadi musyrik tatkala senang saja. Padahal tidak ada satu pun kata dalam ayat tersebut yang memuji mereka sebagai orang yang bertauhid. Yang ada hanyalah mukhlishīna lahu al-dīn yang berarti saat genting mereka tidak berdoa kepada pada berhala-berhala, tapi hanya pada Allah seperti perkataan kaum musyrik saat itu: أخلصوا لربكم الدعاء (murnikan berdoa hanya pada rabb/tuhanmu!). (lihat kutipan ini di Tafsir Ibnu Katsir terhadap al-Ankabut: 65).

Maksud ayat itu sebenarnya hanya memberitakan bahwa mereka tidak berdoa pada tuhan-tuhan yang lain di saat genting, tapi bukan berarti bahwa hati mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak untuk disembah atau dijadikan sebagai rabb (tuhan). Mereka sendiri tetap meyakini bahwa berhala-berhala adalah arbāb (tuhan-tuhan) yang layak disembah di saat-saat normal, terbukti ketika selamat dari bahaya mereka kembali berdoa pada berhala-berhala itu. Yang seperti ini tentu tidak layak disebut sebagai bertauhid, tapi syirik murni.

Allah mengabarkan keadaan kaum musyrik di neraka yang berkata pada berhala-berhala mereka:

تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kalian (berhala-berhala) dengan rabb/Tuhan semesta alam”. (al-Syu’ara’: 97-98).

Ayat ini jelas menegaskan bahwa kaum musyrik meyakini ada banyak rabb/tuhan yang layak disembah, hanya saja kalau sedang susah mereka biasanya hanya berdoa pada Allah saja. Ini bukti bahwa yang disebut tauhid rubūbiyah (tauhid level sifat rabb) itu sebenarnya tidak pernah ada.

Selain itu, Allah sendiri di akhir ayat al-Ankabut: 65 itu menyebut mereka telah melakukan kesyirikan, jadi tidak seyogianya ada yang menyebut kaum musyrikin jahiliah itu sebagai orang yang bertauhid meskipun sedikit, apalagi menyebut mereka telah bertauhid sempurna. Lebih parah lagi kalau mengatakan bahwa mereka lebih bertauhid dari kebanyakan kaum muslimin saat ini.

Ayat lainnya yang biasa menjadi dalil teori tauhid rububiyah adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka mengapa mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)?. (al-Ankabut: 61).

Ayat yang senada dengan ini adalah surat al-Ankabut: 63, Luqman: 25, al-Zumar 38, al-Zukhruf: 87 serta al-Mu’minun: 84-89. Semua ayat-ayat tersebut menyatakan bahwa orang musyrikin jahiliah mengakui ketuhanan Allah (rububiyah Allah), bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya, yang menurunkan hujan dan yang menjadi tuhan semesta alam. Hal ini benar adanya, akan tetapi tidak dapat serta merta disimpulkan bahwa musyrikin jahiliah itu bertauhid karena mereka nyata-nyata menyekutukan Allah dengan berhala-berhala yang mereka sembah dan mintai pertolongan.

Sebagaimana dimaklumi, kesyirikan bukanlah mengingkari ketuhanan Allah, tapi meyakini bahwa sifat ketuhanan itu tidaklah dimiliki oleh Allah semata. Orang musyrik jahiliah memang telah mengakui ketuhanan Allah, tapi mereka juga mengakui ketuhanan berhala-berhala sesembahan mereka seperti disebutkan dalam banyak sekali ayat. Karena itulah mereka disebut musyrik dalam semua ayat dan hadis. Di lain pihak, tidak ada satu pun ayat atau hadis yang menyebut bahwa mereka bertauhid atau bahwa mereka tidak mengakui berhala sebagai tuhan. Karena itulah, maka sebagai muslim Ahlusunnah Wal Jama’ah kita tidak selayaknya menyebut musyrikin jahiliah sebagai orang yang bertauhid, meskipun dalam level terkecil. Semakin salah bila menyebut bahwa mereka lebih bertauhid daripada kebanyakan umat Islam sekarang, seperti dikatakan oleh Muhammad bin Abdil Wahhab  dalam Kasyf al-Syubuhat: 31.

Ada juga ayat lain yang biasa dipakai sebagai dalil keberadaan Tauhid Rububiyah, yakni:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ.

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang pendusta dan sangat kafir. (al-Zumar: 3).

Dari ayat di atas biasanya disimpulkan bahwa kaum musyrik jahiliah sebenarnya hanya menyembah Allah semata. Adapun berhala-berhala itu hanyalah dijadikan wasilah (perantara) saja. Inilah yang oleh sebagian orang disebut sebagai Tauhid Rububiyah itu. Padahal, di akhir ayat itu Allah telah jelas-jelas menyebut para musyrikin itu sebagai “orang-orang yang pendusta dan sangat kafir”. Bagaimana mungkin seorang muslim dapat menyebut mereka sebagai orang yang bertauhid jika Allah telah menyebut mereka sebagai orang yang sangat kafir? Andai saja kaum musyrikin jahiliah benar-benar bertauhid dalam rububiyah (ketuhanan) Allah, maka pastilah ada satu saja ayat atau hadis yang menyebutnya secara gamblang dan pastilah ulama islam sejak abad ke satu hingga ketujuh (sebelum Ibnu Taymiyah) ada yang menyebutkannya.

Menurut Ibnu Taymiyah, ulama abad ke delapan hijriah yang pertama kali menelurkan teori tauhid rububiyah ini, tauhid yang diperintahkan Allah pada para hamba-Nya hanyalah tauhid uluhiyah saja (menyatukan penyembahan terhadap Allah semata) yang di dalamnya telah terkandung tauhid rububiyah. (Minhaj al-Sunnah: III, 289). Menurutnya, misi Rasul pada orang musyrik jahiliah hanyalah tauhid uluhiyah saja karena tauhid rububiyah telah mereka yakini sebelum diutusnya Rasul.

Pemahaman Ibnu Taymiyah tersebut tentu tidak tepat. Kalau saja kaum musyrik jahiliah telah betul-betul mengakui ketuhanan Allah (rububiyah Allah) secara mutlak dan tidak mengakui ketuhanan berhala-berhala, maka mustahil mereka menyembah berhala. Mereka menyembah berhala karena mereka meyakini bahwa berhala itu punya sifat ketuhanan juga dan dapat menjadi saingan Allah. Ayat berikut ini buktinya:

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesungguhnya patutkah kalian kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu jadikan saingan-saingan bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”. (al-Fushshilat: 9).

Ayat tersebut jelas menegaskan perintah Allah agar kaum musyrikin jahiliah beriman pada rububiyah Allah (ketuhanan Allah). Ini artinya mereka masih kafir dan tidak mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya tuhan. Andai kaum musyrik sudah benar-benar bertauhid dalam level rububiyah Allah sebagaimana diklaim Ibnu Taymiyah dan pengikutnya, maka tentu ayat di atas percuma.

Selain itu, andai klaim Ibnu Taymiyah itu benar bahwa orang musyrik jahiliah telah bertauhid pada ketuhanan Allah, maka tidak mungkin dalam surat al-Ghasyiyah: 17-20 Allah masih memerintahkan untuk mengamati penciptaan unta, langit, gunung dan bumi. Tidak mungkin juga Allah berfirman yang artinya:

Dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) bersama-Nya, sehingga masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu. (al-Mu’minun: 91).

Selain tidak tepat, meyakini adanya pembagian tauhid menjadi rububiyah dan uluhiyah sangat berbahaya bagi persatuan umat Islam karena orang yang meyakininya dapat dengan mudah menuduh orang yang tidak sependapat sebagai orang yang tidak bertauhid secara benar. Ibnu Taymiyah sendiri, sebagai pionir teori ini, dalam kitabnya yang berjudul Minhaj al-Sunnah vol. III halaman 287-289 mengkritik pendapat ahli filsafat muslim Ibnu Sina (Avecina) dan Suhrawardi serta para ahli kalam seperti Imam al-Ghazali, Fakhruddin al-Razi dan al-Amidi. Dalam mengomentari tokoh-tokoh tersebut, dengan entengnya Ibnu Taymiyah berkata:

وَلَمْ يَعْرِفُوا مِنَ التَّوْحِيدِ إِلَّا تَوْحِيدَ الرُّبُوبِيَّةِ، وَهُوَ الْإِقْرَارُ بِأَنَّ اللَّهَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَرَبُّهُ. وَهَذَا التَّوْحِيدُ كَانَ يُقِرُّ بِهِ الْمُشْرِكُونَ

Mereka tidak mengerti tauhid kecuali tauhid rububiyah saja, yakni mengakui bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu dan tuhan segalanya. Tauhid ini sudah diakui oleh kaum musyrikin. (Minhaj al-Sunnah: III, 289).

Bila cara pandang Ibnu Taymiyah terhadap orang yang tak sepaham ini diikuti, tentu umat islam akan dihadapkan pada perpecahan yang serius. Sayangnya, paham berbahaya tersebut justru dikembangkan oleh Muhammad bin Abdil Wahhab, pendiri gerakan Salafi-Wahabi, hingga dia mengafirkan muslim lain yang memahami ajaran tauhid tidak seperti yang dia pahami. Dia berkata:

فمعلوم أن التوحيد هو أعظم فريضة جاء بها النبي – صلى الله عليه وسلم – وهو أعظم من الصلاة والزكاة والصوم والحج فكيف إذا جحد الإنسان شيئا من هذه الأمور كفر، ولو عمل بكل ما جاء به الرسول، وإذا جحد التوحيد الذي هو دين الرسل كلهم لا يكفر، سبحان الله ما أعجب هذا الجهل

“Sudah maklum bahwa tauhid adalah kewajiban yang dibawa oleh Rasul dan tauhid itu lebih besar dari masalah salat, zakat, puasa dan haji. Maka bagaimana bisa seseorang yang ingkar terhadap salah satu dari hal-hal ini menjadi kafir meskipun dia melakukan semua hal yang dibawa Rasul, akan tetapi ketika dia menentang tauhid yang telah menjadi agama semua Rasul lalu orang itu tidak kafir? Subhanallah, betapa mengherankan kebodohan ini?!” (Kasyf al-Syubuhat: 33).

Selain tidak tepat, teori tauhid yang aneh ini karena menyebut orang jahiliyah sebagai muwahhidun ini sangatlah menyakitkan hati sesama muslim yang sama-sama bersyadahat lā ilāha illa Allah. Parahnya, orang-orang ekstrem seperti Muhammad bin Abdil Wahhab itu malah mengatakan bahwa ucapan syahadat lā ilāha illa Allah, salat, puasa, dan seterusnya tidak cukup untuk menjadikan seseorang sebagai muslim yang terjaga darah dan hartanya. Dalam kitab yang sama, dia menjelaskan pertanyaan seorang muslim yang bertanya kepadanya seperti berikut:

ونحن نشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله، ونصدق القرآن، ونؤمن بالبعث، ونصلي، ونصوم. فكيف تجعلوننا مثل أولئك. فالجواب أنه لا خلاف بين العلماء كلهم أن الرجل إذا صدق رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في شيء وكذبه في شيء أنه كافر لم يدخل في الإسلام، وكذلك إذا آمن ببعض القرآن وجحد بعضه، كمن أقر بالتوحيد وجحد وجوب الصلاة.

Kami bersyahadat bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad Rasulullah dan kami membenarkan al-Qur’an dan kami beriman pada hari kebangkitan, kami salat dan kami puasa, bagaimana engkau menyamakan kami dengan orang-orang kafir itu?“. Jawabannya adalah: tidak ada perbedaan di antara semua ulama bahwa kalau seseorang membenarkan Rasulullah SAW dalam sesuatu tapi mendustakannya dalam suatu hal lain, maka dia adalah kafir yang tidak masuk dalam Islam, begitu pula kalau dia beriman dengan sebagian al-Qur’an dan menentang sebagian yang lain, seperti halnya orang yang mengakui tauhid dan menentang kewajiban salat… (Kasyfu al-Syubuhat: 32).

Itu bukti nyata bahwa Muhammad bin Abdil Wahhab mengafirkan muslim yang tidak sependapat dengannya, meskipun dia telah bersyahadat, salat, puasa, beriman pada al-Qur’an dan pada Rasulullah dan sebagainya. Baginya, orang yang tidak sependapat dengan dirinya sendiri dalam satu hal berarti telah mendustakan sebagian syariat sehingga orang itu tetap kafir. Dia menyamakan antara orang yang mendustakan ajarannya yang anti tawassul, anti tabarruk, anti pergi ziarah kubur dan lain-lain itu sama dengan orang yang mendustakan salat, puasa, zakat dan haji. Baginya, orang yang bertawassul berarti menyembah selain Allah, bertabarruk ke kuburan para wali berarti menyembah wali itu sendiri, dan lalu dia menutup telinganya rapat-rapat dari segala penjelasan dan hujjah yang disampaikan oleh orang yang dia vonis syirik itu.

Dengan alasan seperti itu dia bersama Raja Saud menjajah negeri-negeri muslim di jazirah Arab dan lalu menyebut penjajahan itu sebagai dakwah dan menyebut harta jarahan mereka sebagai ghanimah dan menyebut prajurit-prajurit mereka yang mati dalam invasi berdarah itu sebagai syahid. (Baca selengkapnya dalam buku sejarah tulisan mereka sendiri semisal Unwan al-Majdi dan tarikh Ibnu Ghannam)

Semoga kita tidak mengikuti pola-pola dakwah semacam ini demi ukhuwah Islamiyah. Wallahu a’lam.

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

2 Responses to Mengenal dan Menolak Tauhid Rububiyah

  1. sari mengatakan:

    intinya tauhid yang benar itu harus yang seperti apa? mohon penjelasannya yang jelas. jazakallahu khairan

  2. ulil mengatakan:

    assalamualaikum? wah mantab tu artikelnya numpang share ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s