Ketika Salafi-Wahabi Menyusun Ensiklopedi


oleh: Abdul Wahab Ahmad, MHI

 

Sudah jamak diketahui bahwa Salafi-Wahabi tidak punya akar sejarah hingga ke zaman salaf (tiga generasi pertama). Akar gerakan tersebut hanya sampai pada Muhammad ibn Abd al-Wahhab (1206 H) dari Nejd yang banyak meramu pemikirannya dari pendapat-pendapat Ibnu Taymiyah al-Harrani (728 H.) dan murid-muridnya, terutama Ibnu Qayyim al-Jauziyah (751 H). Namun demikian, sudah maklum bahwa mereka mengklaim gerakannya adalah gerakan yang bersumber langsung dari al-Qur’an, Hadis serta tindak tanduk para ulama saleh. Atas klaim ini mereka menyebarkan gerakannya ke seluruh dunia dengan label purifikasi atau pemurnian; Pemurnian pemahaman agama yang menurut mereka telah dikotori dengan bid‘ah dan kemusyrikan.

Meskipun gerakan Salafi-Wahabi kini telah menyebar luas, namun tentu saja gerakan ini tetaplah minoritas di kalangan muslim dunia saat ini yang mayoritas bermazhab Syafi’i dan ketiga mazhab fikih lain dan mengikuti konsep tauhid ulama salaf yang dihidupkan kembali oleh Imam al-Asy’ari dan al-Maturidi. Kalau kita melihat ke belakang hingga ke zaman sahabat, tentu gerakan Salafi-Wahabi ini makin terlihat minoritas karena yang diajarkan oleh mayoritas ulama dari dulu hingga sekarang tidaklah sama, bahkan bertentangan, dengan apa yang diserukan oleh gerakan ini.

Dewasa ini ada kalangan Salafi-Wahabi yang menyusun sebuah Ensiklopedi tentang akidah dan metode pengajaran para intelektual muslim dari zaman sahabat hingga kini. Isinya antara lain tentang akidah dan posisi lebih dari seribu ulama dalam menyikapi bid‘ah, kemusyrikan dan berbagai aliran menyimpang. Judulnya adalah Mausu’ah Mawāqif a-Salaf Fi al-Aqidah wa al-Manhaj wa al-Tarbiyah (Ensiklopedi posisi Salaf dalam akidah, manhaj dan pengajaran) karya Abu Sahl Muhammad dan diterbitkan di Kairo oleh penerbit al-Maktabah Islamiyah. Fenomena ini sangat menarik karena bila Ensiklopedia tersebut menyebutkan profil tokoh-tokoh besar dari generasi salaf hingga kini, maka semestinya itu menjadi “senjata makan tuan” bagi mereka karena mayoritas tokoh-tokoh tersebut tidak sependapat dengan Salafi-Wahabi dalam banyak masalah. Di sinilah menariknya dan di sini pulalah kejanggalannya hingga membuat saya menulis artikel ini di situswahab.

Ternyata, meskipun Ensiklopedi tersebut dibuat seilmiah mungkin, karena karya ini sebenarnya adalah sebuah disertasi doktoral dari si penulis, dan berukuran jumbo hingga sepuluh jilid, namun itu tidak membuatnya objektif dan netral. Karya yang seharusnya hebat tersebut tak lebih dari sekedar apologi dan klaim terhadap ajaran Salafi-Wahabi dengan “bersembunyi” di belakang nama-nama besar para ulama. Sangat disayangkan karya besar tersebut bukan hasil penelitian objektif tentang pemikiran tokoh-tokoh Islam yang diakui dunia dalam memandang akidah, bid‘ah, kemusyrikan dan aliran sempalan.

Untuk membuktikan subtjektifitas pengarang ensiklopedi yang sangat tendensius itu sangat mudah. Ini bisa dilihat dari indikasi sederhana berikut:

  • Pandangan ulama salaf tentang masalah bid‘ah.

Dalam wacana Islam sudah maklum bahwa Imam al-Syafi’i (204 H), Imam Imam al-Qurthubi (656 H), Imam Izz Ibn Abd al-Salam (660 H), Imam Abu Syamah al-Dimasyqi (665 H), Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani (852 H), Imam Nawawi (676 H) dan banyak sekali nama besar lain­—terutama dari kalangan Syafi’iyah—yang secara global membagi bid‘ah menjadi dua, yakni bid‘ah sayyi’ah (buruk) dan bid‘ah hasanah (baik) dan secara detail membagi bid‘ah menjadi lima hukum, yakni: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Hal ini salah satunya didasarkan pada perkataan Khalifah Umar bin Khattab (23 H) yang terkenal tentang salat Tarawih: نعمت البدعة هذه (bid‘ah yang paling baik adalah ini).

Namun tentu saja karena pembagian bid‘ah menjadi dua dianggap sebagai pendapat sesat oleh Salafi Wahabi, maka jangan harap anda temukan pembagian seperti ini dalam profil nama-nama besar yang saya sebut di atas. Perkataan “cerdas” Khalifah Umar tersebut juga tidak ada dalam profil beliau ketika memandang bid‘ah. Seperti diduga sebelumnya, perkataan Khalifah Umar tersebut justru dibahas panjang lebar dalam pembahasan tentang posisi Ibnu Taymiyah al-Harrani dalam memandang bid‘ah yang tentu saja sesuai dengan madzhab Salafi-Wahabi sendiri meskipun nyata-nyata berbeda dengan pemahaman ulama-ulama besar sebelum dan sesudah era Ibnu Taymiyah.

Dalam profil Imam Abu Syamah al-Dimasyqi misalnya (Vol. VII, hlm. 394), ditulis bahwa secara global di masa itu tidak ada orang yang seperti beliau dalam keberagamaannya, iffah-nya dan amanahnya. Tapi kemudian kitab beliau yang berjudul al-Bā’its ‘ala Inkar al-Bida’ (Motivasi pengingkaran terhadap bid‘ah) disebut “mengandung sesuatu yang berlawanan dengan akidah salaf” karena kitab tersebut mendukung perayaan maulid Nabi. Padahal hakikatnya kitab tersebut membahas tentang bid‘ah dengan baik dan objektif dengan disertai dalil-dalil yang memadai. Silakan anda buktikan sendiri objektivitas kitab Imam Abu Syamah itu dan bandingkan dengan isi Ensiklopedi tersebut.

  • Pandangan ulama salaf dalam masalah takwil.

Sudah maklum dalam kajian-kajian hadis dan tafsir bahwa Sahabat yang bergelar Tarjuman al-Qur’an, yakni Ibnu Abbas (68 H) melakukan takwil terhadap ayat sifat Allah, seperti komentarnya terhadap ayat al-Qalam: 42 yang mentakwil kata “betis” dengan arti “kesulitan”, begitu pula komentarnya terhadap ayat al-Dzariyat: 47 yang mentakwil kata “tangan-tangan” dengan “kekuasaan”. Takwilan Ibnu Abbas terhadap ayat sifat Tuhan tersebut diikuti oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah setelah beliau, semisal Imam Mujahid (101 H), Qatadah (117 H), Sufyan al-Tsauri (161 H) dan mayoritas ulama lain setelah mereka. Ini bisa dilihat dalam tafsir-tafsir salaf semisal al-Thabari, al-Qurthubi, Ibnu Kathir atau lainnya selain tafsir-tafsir karya Salafi-Wahabi.

Namun tentu saja karena takwil terhadap ayat-ayat sifat merupakan “kesesatan yang tak terampuni” menurut Salafi-Wahabi, maka jangan buang-buang waktu mencari komentar para ulama salaf yang melakukan takwil terhadap ayat-ayat sifat dalam ensiklopedia tendensius ini kecuali pasti “dihakimi”.

Kita lihat misalnya pembahasan tentang Imam besar Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah, Imam Abu al-Hasan al-‘Asy’ari (324 H). Sudah maklum bersama bahwa beliau melakukan takwil terhadap ayat-ayat sifat sehingga Salaf-Wahabi sangat anti terhadap para Asy’ariyah (Pengikut Imam Asy’ari). Si penulis Ensiklopedi tampaknya tak kuat menahan kegundahannya pada tokoh mulia satu ini sehingga berkomentar sinis seperti berikut:

 والذي تبين لي أن أبا الحسن رجع عن مذهب الاعتزال، ورد عليه، وهذا أمر مجمع عليه، واعتنق مذهب أهل السنة، ولكن مع بقايا من علم الكلام والتأثر بمذهب المعتزلة، والرجل لم يكن له علم بالحديث ولا أهله، وإن ذكروا في ترجمته أنه تلقى بعض علم الحديث، عن زكريا بن يحيى الساجي، فلعل ذلك كان قليلاً. (أبو سهل محمد بن عبد الرحمن المغراوي، موسوعة مواقف السلف في العقيدة والمنهج والتربية، المكتبة الإسلامية للنشر والتوزيع، القاهرة،  ج: 5 ص: 88)

Yang jelas bagiku sesungguhnya Abu al-Hasan keluar dari madzhab Muktazilah dan menolaknya, ini sudah jadi kesepakatan. Kemudian dia memeluk madzhab Ahlus Sunnah, tetapi tetap menyisakan ilmu kalam dan pengaruh madzhab Muktazilah. Orang itu tidak punya ilmu hadis dan bukan ahlinya. Meskipun mereka menyebut dalam profilnya bahwa dia menerima sebagian ilmu hadis dari Zakaria bin Yahya al-Saji, mungkin itu hanya sedikit.

Tidak perlu saya sebutkan bagaimana pendapat penulis Enskilopedi tendensius tersebut panjang lebar, tapi yang perlu digarisbawahi adalah “penghakimannya” terhadap tokoh Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah yang ilmunya diakui semua ulama besar tersebut karena seperti biasa didasari pada statemen-statemen “hakim agungnya” yang sepertinya menurut si penulis Ensiklopedi itu tidak mungkin salah. Anda pasti paham siapa yang saya maksud, siapa lagi kalau bukan Ibnu Taymiyah dan muridnya, Ibnu al-Qayyim al-Jawziyah yang notabene jauh lebih khalaf daripada Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari tapi selalu mengesankan dirinya sebagai “salafi”.

Begitulah secuil contoh di antara subjektivitas penulis ensiklopedi yang sangat menyalahi norma keilmuan tersebut karena menyembunyikan kebenaran tentang posisi ulama salaf dalam memandang banyak permasalahan. Penulisnya terlihat jelas dengan sengaja mengesankan bahwa madzhab Salafi-Wahabi benar-benar madzhab salaf dengan cara membuang komentar-komentar para ulama salaf yang bertentangan dengan keyakinan pribadinya. Tetapi bagaimana pun kebenaran disembunyikan, dia akan tetap mencuat keluar dengan sendirinya dengan pertolongan Allah. Berikut ini beberapa contoh kebenaran yang samar-samar mengintip keluar di antara aura tendensius ensiklopedi tersebut:

  • Dalam profil Ibnu Abbas ra, disebutkan komentar beliau:

ما كان في القرآن من حلال أو حرام فهو كذلك، وما سكت عنه فهو مما عفي عنه. (ج: 1 ص: 324)

Apa yang dalam al-Qur’an dihalalkan atau diharamkan, maka seperti itulah dan apa yang didiamkan, maka termasuk yang dimaafkan (mubah).

Mungkin penulisnya tidak menyadari bahwa komentar Ibnu Abbas ra. tersebut adalah dalil bahwa apa-apa yang tidak diterangkan oleh al-Qur’an dan al-Hadis hukum asalnya adalah mubah, bukan dengan serta merta divonis sebagai bid‘ah yang sesat.

  • Klaim bahwa tauhid terbagi tiga sama sekali tidak ada dalam profil ulama salaf manapun karena yang memulai pembagian kontroversial yang menyulut fitnah besar itu (fitnah menggolongkan orang yang disebut al-Qur’an sebagai musyrik pada golongan orang bertauhid dan fitnah menggolongkan ahli tauhid pada golongan kaum musyrik serta fitnah akidah tajsim hasyawiyah) memang bukan ulama salaf, tapi ulama belakangan. Anda tentu bisa menebak siapa yang saya maksud.
  • Dalam mukaddimahnya (hlm. 7), Si Penulis mengakui bahwa yang mencela gerakan yang dia sebut sebagai “Salafiyah” adalah ندوة كبيرة في بعض البلاد الإسلامية (Kumpulan besar orang di sebagian negeri-negeri Islam) meskipun sebenarnya bukan di sebagian negara Islam saja, tapi di hampir semua negara Islam. Tapi setidaknya penulisnya juga mengakui bahwa كبار القوم (orang-orang besar/ulama) juga ikut andil dalam usaha mencela “Salafiyah” itu dan menyebarkan kritik melalui media masa. Ini bukti kalau gerakan yang dibelanya adalah minoritas.
  • Juga dalam mukaddimahnya (hlm. 7), Si Penulis yang waktu itu masih kandidat Doktor itu mengaku bahwa posisi dan manhaj salaf (yang menurutnya benar) tidak diketahuinya kecuali dalam buku-buku Ibnu Taymiyah, ibnu al-Qayyim dan Muhammad bin Abd al-Wahab saja. Bagi orang yang berpikiran jernih, tentu aneh dan tidak masuk akal bila manhaj dan posisi ulama salaf hanya ada dalam buku tiga orang muta’akhkhirin (ulama belakangan) itu karena kitab-kitab ulama salaf (yang sebenarnya) telah tersebar luas ke seluruh dunia. Ucapan Si penulis yang kandidat Doktor itu justru menandakan bahwa keyakinan yang dianutnya tidak punya akar sejarah pada ulama salaf dan bahwa pemikirannya eksklusif terfokus pada pemikiran tiga orang itu saja tanpa memedulikan ulama lain.

Semoga tulisan sederhana ini dapat menjadi informasi bermanfaat mengingat ensiklopedi ini sekarang telah dijadikan salah satu standar rujukan profil (tarjamah) dalam aplikasi Maktabah Syamilah terbaru saat tulisan ini dibuat.

*Informasi lengkap tentang kitab-kitab yang membahas tentang bid’ah, madzhab Asy’ariyah, Wahabiyah, takwil dan hal lain-lain yang disinggung dalam tulisan ini tidak disampaikan secara lengkap karena sempitnya waktu dan ruang. Mohon maaf bila ini tidak memuaskan, tapi semuanya terjamin valid dan saya rasa dapat dengan mudah dilacak.

Karya Asli Abdul Wahab

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

39 Responses to Ketika Salafi-Wahabi Menyusun Ensiklopedi

  1. ikhwan mengatakan:

    abdul wahab@MAAF IKUT MASUK…lbh baik gk usah d ladeni tu wahabiers(sy ndk nyebut salafi), dlm stiap debat sunni dg wahabi yg sy bc d internet{trmasuk debat Ust. M. Idrus R. dg org2 wahabi(firanda dkk..)}, mereka(wahabi)selalu mngalihkn pokok bahasan ketika sdh terpojok, ujung2nya pling mnjawab “maaf sy tdk mnguasai itu” lalu mncul wahabiers lain yg ikut2an nimbrung biar kelihtan eksis..haha..(GITU KQ GK MALU)…
    WAHABI, NO
    SUNNI FOREVER….

  2. Akbar Kusuma Dandi mengatakan:

    Assalamualaikum Ikhwani fiddiin..

    Subhanallah, jarang saya menemukan blog yang berbobot seperti blok antum.. Hadakallah Akh Abdul Wahab..

    Sepertinya antum termasuk orang yang mempunyai akses dan tingkat literasi yang tinggi ke kitab-kitab asli sehingga cukup kuat dalam hujjah..

    Ana mohon antum coba menulis sebuah buku yang cukup serius tentang hal ini. Karena ana lihat, terutama di sekitar ana tinggal di Cikarang Bekasi atau Jakarta dan sekitarnya sebagian besar buku tauhid yang ada di toko toko buku adalah terjemahan dari Masyayikh dari Saudi yang tentunya bermadzhab Salafi-Hambali.

    Tentu saja Tauhid yang mereka jelaskan adalah tentang pembagian tauhid menjadi 3, Yaitu Tauhid Rubbubiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma’ wa Sifat.

    Sehingga mau tidak mau buku mereka-lah yang saat ini menjadi rujukan saya dalam ilmu Tauhid. Alangkah baiknya jika buku-buku tersebut ada lawan yang sebanding dalam hujjah ( kalaupun ada buku Tauhid tandingan sepertinya tidak cukup kuat dalam hujjah baik naqli maupun aqli-nya). Dan ana melihat hujjah ada pada antum Akhi..

    Mohon sudi kiranya antum membuat buku yang Insya Allah akan sangat bermanfaat bagi kaum muslimin. Dan ana melihat antum sebagai seorang yang Insya Allah cukup Adil dalam mengutip perkataan ulama baik yang pro maupun kontra tanpa memelintir makna-nya..

    Semoga Allah melindungi antum akhi fillah..

    • Abdul Wahab mengatakan:

      Wa’alaikum salam. buku saya sedang dalam masa editing. doa antum saya harapkan. insya Allah nanti kalau sudah terbit, akan saya beritakan di situswahab ini. syukron.

  3. abu abdil barr mengatakan:

    Abul-Hasan Al-Asy’ariy sangat mengingkari ta’wil istiwaa’ dengan istilaa’ (menguasai) sebagaimana perkataannya :

    وقالت المعتزلة أن الله استوى على عرشه بمعنى استولى

    “Mu’tazilah berkata bahwasannya Allah ber-istiwaa’ di atas ‘Arsy-Nya dengan makna berkuasa (istaulaa)” [Maqaalaatul-Islaamiyyiin, 1/284].

    وكذا لو كان مستويا على العرش بمعنى الإستيلاء، لجاز أن يقال : هو مستو على الأشياء كلها ولم يجز عند أحد من المسلمين أن يقول : إن الله مستو على الأخلية والحشوش، فبطل أن يكون الإستواء [على العرش] : الإستيلاء.

    “Begitu pula apabila istiwaa’ di atas ‘Arsy itu bermakna menguasai (istilaa’), maka akan berkonsekuensi untuk membolehkan perkataan : ‘Allah ber-istiwaa’ di atas segala sesuatu’. Namun tidak ada seorang pun dari kaum muslimin yang membolehkan untuk berkata : ‘Sesungguhnya Allah ber-istiwaa’ di tanah-tanah kosong dan rerumputan’. Oleh karena itu, terbuktilah kebathilan perkataan bahwa makna istiwaa’ (di atas ‘Arsy) adalah istilaa’ (menguasai)” [Al-Ibaanah, hal. 34].

    • Abdul Wahab mengatakan:

      saudaraku Abu Abdil Barr, poin apa yang bisa didapat dari nukilan anda ini? saya sudah mengatakan sebelumnya bahwa argumen seperti itu sudah “pasaran” dalam arti banyak ulama yang memakainya, baik ulama Ahlussunnah ataupun ulama Salafi-Wahabi. Ahlussunnah yang enggan atau menolak takwil juga banyak sekali, SAYA TERMASUK DARI MEREKA. Hanya saja, bedanya penolakan Ahlussunnah dan Salafi-Wahabi adalah: Ahlussunnah menolaknya karena alasan memilih TAFWIDH sedangkan Salafi-Wahabi menolaknya karena mereka memilih MAKNA DHAHIR yang jelas-jelas beraroma tajsim itu!. catat itu baik-baik sehingga anda tidak perlu repot-repot menukil kutipan al-Asy’ari yang menolak takwil lagi.

      Saudaraku, ada Beberapa POIN PENTING yang anda lupakan, yakni:
      1. Menolak pengartian Istiwa’ dengan Istila’ tidaklah dengan sendirinya berarti menolak seluruh takwil. Kalau anda tetap mau mengesankan bahwa Imam al-Asy’ari seakidah dengan Salafi-Wahabi, maka carilah ibarat beliau yang berkata bahwa: Allah punya tangan dan mata yang jumlah tangan dan mata-Nya ada dua dan tangan Allah itu adalah tangan sebenarnya, dan seterusnya seperti yang ada di kitab2 Ibnu Taymiyah, Ibnu Qayyim dan ulama salafi-Wahabi itu.
      2. Saya bukan orang yang fanatik buta pada Imam al-Asy’ari, percuma anda memakai nukilan beliau tatkala saya telah memberi anda nukilan dari Imam Ahmad rahimahullah bahwa beliau mentakwil. Soal kitab al-Ibanah yang berulang kali anda nukil itu, Saya persilakan anda membaca Tabyinul Kadzib al-Muftara karangan al-Hafidz Ibnu ‘Asakir agar anda tahu bagaimana meragukannya kitab al-Ibanah itu. Maaf saja, saya lebih percaya pada al-Hafidz Ibnu Asakir daripada pada penerbit Salafi-Wahabi yang menerbitkan al-ibanah itu.
      4. Ulama yang mengartikan istiwa’ dengan istila’ itu sangat banyak, maksud mereka adalah istila’ bil Qahri sesuai dengan sifat Allah al-Qahhar. Alasan kenapa Arsy yang disebut di sana adalah karena Arsy adalah makhluk terbesar. Logikanya kalau Arsy saja dikuasai, maka apalagi yang lain.
      5. Alasan kenapa tidak ada yang mengatakan: “Allah istiwa’ di rerumputan” bukan karena istiwa’ tidak mungkin diartikan sebagai “menguasai” seperti yang anda sangka, tapi karena kalimat itu tidak berfaedah, bahkan justru terkesan mengurangi kebesaran Allah. Tapi secara Hakikat, tak dapat dipungkiri bahwa Allah menguasai segala sesuatu di langit dan di bumi tanpa kecuali, termasuk hal-hal kecil. Dengan ini, saya sudah menjawab argumen al-Ibanah itu.

  4. abu abdil barr mengatakan:

    Masalah penetapan sifat istiwaa’ dan fauqiyyah Allah ta’ala.

    Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkata :

    وقال تعالى حاكيا عن فرعون لعنه الله: (يا هامان ابن لي صرحا لعلي أبلغ الأسباب أسباب السماوات فأطلع إلى إله موسى وإني لأظنه كاذبا)، كذب موسى عليه السلام في قوله: إن الله سبحانه فوق السماوات .
    وقال عز وجل: (أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض)
    فالسماوات فوقها العرش، فلما كان العرش فوق السماوات قال: (أأمنتم من في السماء) … لأنه مستو على العرش الذي فوق السماوات، وكل ما علا فهو سماء، والعرش أعلى السماوات، وليس إذا قال: (أأمنتم من في السماء) يعني جميع السماوات، وإنما أراد العرش الذي هو أعلى السماوات، ألا ترى الله عز وجل ذكر السماوات، فقال تعالى: (وجعل القمر فيهن نورا) ، ولم يرد أن القمر يملأهن جميعا، وأنه فيهن جميعا، ورأينا المسلمين جميعا يرفعون أيديهم إذا دعوا نحو السماء؛ لأن الله تعالى مستو على العرش الذي هو فوق السماوات، فلولا أن الله عز وجل على العرش لم يرفعوا أيديهم نحو العرش

    “Allah ta’ala juga berfirman mengenai hikayat/cerita Fir’aun : ‘Dan berkatalah Firaun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta” (QS. Al-Mukmin : 36-37). Fir’aun mendustakan Musa ‘alaihis-salaam yang mengatakan : ‘Sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’ala berada di atas langit. Allah ‘azza wa jallaa berfirman : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu’ (QS. Al-Mulk : 16). Yang berada di atas langit adalah ‘Arsy (dimana Allah bersemayam/ber-istiwaa’ di atasnya). Ketika ‘Arsy berada di atas langit, maka segala sesuatu yang berada di atas disebut langit (as-samaa’). Dan bukanlah yang dimaksud jika dikatakan : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit’ ; yaitu semua langit, namun yang dimaksud adalah ‘Arsy yang berada di puncak semua langit. Tidakkah engkau melihat bahwasannya ketika Allah ta’ala menyebutkan langit-langit, Dia berfirman : ‘Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya’ (QS. Nuuh : 16) ? Bukanlah yang dimaksud bahwa bulan memenuhi seluruh langit dan berada di seluruh langit. Dan kami melihat seluruh kaum muslimin mengangkat tangan mereka – ketika berdoa – ke arah langit, karena (mereka berkeyakinan) bahwa Allah ta’ala ber-istiwaa’ di atas ‘Arsy yang berada di atas semua langit. Jika saja Allah ‘azza wa jallaa tidak berada di atas ‘Arsy, tentu mereka tidak akan mengarahkan tangan mereka ke arah ‘Arsy” [Al-Ibaanah, hal. 33-34].

    Tidak berbeda dengan yang dikatakan oleh Al-Imaam Ahmad bin Hanbal, sebagaimana dibawakan oleh Ibnu Abi Ya’laa rahimahumallaah :

    قيل لأبي عبد الله : والله تعالى فوق السماء السابعة على عرشه بائن من خلقه. وقدرته وعلمه بكل مكان ؟. قال : نعم، على عرشه لا يخلو شيء من علمه

    “Dikatakan kepada Abu ‘Abdillah : ‘(Apakah) Allah ta’ala berada di atas langit yang tujuh, di atas ‘Ars-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Adapun Kekuasan-Nya dan Ilmu-Nya berada di setiap tempat ?’. Beliau menjawab : ‘Benar, (Allah) berada di atas ‘Arsy-Nya. Tidak ada sesuatupun yang luput dari Ilmu-Nya” [Thabaqaat Al-Hanaabilah 1/341 – melalui perantaraan Al-Masaailu war-Rasaailu Al-Marwiyyatu ‘an Al-Imaam Ahmad fil-‘Aqiidah, 1/318 no. 306].

    • Abdul Wahab mengatakan:

      Tentang penolakan makna istiwa’ dengan istila’, itu bukan hanya Imam Asy’ari yang mengatakan, tapi banyak yang lain karena takwil memang punya sedikit celah untuk dikritik. solusinya adalah tafwidl!

      soal kutipan Imam al-Asy’ari di atas, saya termasuk orang yang sangat meragukannya karena saya sendiri meragukan keaslian kitab al-Ibanah karena banyak alasan, jadi kalau bisa carilah kitab yang kita sepakati bersama. andai itu shahih, maka saya menolaknya dan lebih memilih hadis Nabi berikut:
      وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ —مسلم
      “Engkau maha Dhahir, maka tidak ada sesuatu pun di atas-Mu. dan Engkau Maha Bathin, maka tiada sesuatu pun di bawah-Mu”. (Muslim)

      kalau di atas dan di bawah Allah tidak ada sesuatu, berarti Allah tidak bertempat di mana pun! kata “fawqa” dan “duna” di atas harus diterjemah selaras, jangan inkonsisten yang satu diambil makna lahiriyahnya dan yang satunya diambil makna majaznya (seperti tafsiran a la
      Salafi)

      Imam al-Hafidz Ibnu Hajar juga menegaskan:
      وَلَا يَلْزَمُ مِنْ كَوْنِ جِهَتَيِ الْعُلُوِّ وَالسُّفْلِ مُحَالٌ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُوصَفَ بِالْعُلُوِّ لِأَنَّ وَصْفَهُ بِالْعُلُوِّ مِنْ جِهَةِ الْمَعْنَى وَالْمُسْتَحِيلُ كَوْنُ ذَلِكَ مِنْ جِهَةِ الْحِسِّ
      “Kedua Sifat tinggi dan rendah tidaklah mesti mustahil atas Allah sehingga Dia tidak disifati dengan sifat ‘uluw (Maha Tinggi) karena sifat Allah “Maha Tinggi” adalah dari segi abstrak dan mustahil itu dari segi inderawi”

      jadi menurut Imam Ibnu Hajar, menyifati ketinggian Allah dengan makna inderawi dengan mengatakan bahwa Allah ada di arah atas sana adalah tafsiran yang mustahil. saya mengikuti pendapat beliau ini.

  5. abu abdil barr mengatakan:

    Jumhur Asyaa’irah dalam hal ini menerapkan metode tafwiidl (menyerahkan maknanya kepada Alah ta’ala) dan sebagian mereka memilih metode ta’wiil. Namun mereka sepakat menolak menetapkan sifat Allah sebagaimana dhahirnya atau hakekatnya (haqiqiy). Cukuplah satu bait syi’ir dalam kitab Al-Jauharah berikut sebagai bukti :

    وكل نص أوهم التشبيها * اوله أو فوض ورم تنزيها

    “Setiap nash yang mengandung penyerupaan (terhadap makhluk)

    takwilkanlah atau serahkanlah dan berishkanlah Allah (dari kekurangan)”.

    Dan inilah praktek ta’wil Asyaa’irah yang diwakili oleh Abu Manshuur ‘Abdul-Qaahir Al-Baghdaadiy Al-Asy’ariy rahimahullah :

    وقد تأول بعض أصحابنا هذا التأويل – أي : تأويل اليد بالقدرة – وذلك صحيح على المذهب

    “Sebagian shahabat kami memang telah melakukan ta’wil dalam perkara ini – yaitu ta’wil sifat tangan dengan kekuasaan (qudrah) – . Hal itu shahih dalam madzhab” [Ushuuluddiin, hal. 111].

    • Abdul Wahab mengatakan:

      Anda sudah mengakui bahwa mayoritas Asy’ariyah tidak memakai takwil, tapi tafwidl. ini benar dan saya termasuk dari mereka. Imam Asy’ari sendiri di akhir hayatnya lebih cenderung pada tafwidl, bukan takwil, ini juga saya dukung.

      tentang takwil, maka itu jalan yang lemah, tapi lebih selamat daripada mengikuti makna lahiriyah yang bisa membuat orang salah paham itu. selain itu, takwil juga bukan berdasarkan hawa nafsu, tapi berdasarkan kaidah bahasa Arab sehingga masih bisa dibenarkan. karena alasan itulah sebagian kecil dari muta’akhkhirin memakainya. itu langkah yang bijak, meskipun tidak ideal. Imam Ahmad bin Hanbal sendiri mentakwil bukan?

      metode Takwil juga diakui oleh Imam Nawawi, meskipun beliau secara pribadi memilih tafwidl. anda mengakui otoritas Imam Nawawi bukan?

  6. abu abdil barr mengatakan:

    Ibnu ‘Abdil-Barr – sebagaimana dikutip oleh Adz-Dzahabiy dalam kitab Al-‘Ulluw – berkata :

    أهل السنة مجمعون على الإقرار بالصفات الواردة في الكتاب والسنة وحملها على الحقيقة لا على المجاز إلا أنهم لم يكيفوا شيئا من ذلك . وأما الجهمية والمعتزلة والخوارج فكلهم ينكرها ولا يحمل منها شيئا على الحقيقة ويزعمون أن من أقر بها مشبه وهم عند من أقر بها نافون للمعبود

    “Ahlus-Sunnah telah bersepakat untuk mengakui sifat-sifat yang tertuang dalam Al-Kitab dan As-Sunnah dan membawanya kepada makna hakekat, tidak kepada makna majaaz. Namun, mereka tidak men-takyif sesuatupun dari sifat-sifat tersebut. Adapun Jahmiyah. Mu’tazilah, dan Khawaarij; semuanya mengingkarinya dan tidak membawanya kepada makna hakekatnya. Dan mereka menyangka bahwa siapa saja yang mengatakannya (yaitu membawa makna sifat Alah sesuai dengan hakekatnya) berarti telah menyerupakan-Nya dengan makhluk. Padahal, mereka di sisi orang yang menetapkan sifat Allah secara hakiki, sama saja menafikkan yang disembah (yaitu Allah)” [Mukhtashar Al-‘Ulluw, hal. 268-269 no. 328].

    • Abdul Wahab mengatakan:

      Tentang klaim ijmak salaf dari al-Dzahabi itu tidak bisa diterima. Saya sudah sebutkan sebelumnya (di komentar sebelum ini) bahwa Imam Ahmad mentakwil. begitu pula banyak yang lain yang terlalu panjang kalau saya kutip.

      secara spesifik, anda bisa membaca Daf’u Syubah al-Tasybih karya Imam Ibnu al-Jauzi tentang kritik beliau terhadap komentar-komentar seperti yang anda nukil dari al-Dzahabi itu. atau silakan anda baca ta’liq al-Saqqaf terhadap kitab al-‘Uluw itu yang ternyata penuh dengan riwayat lemah dan bertentangan dengan dalil shahih. silakan baca sendiri. terlalu panjang nulisnya di sini!

      tapi kalau anda masih mau konsisten memakai pernyataan al-Dzahabi itu, silakan maknai sifat Allah yang berikut secara hakikat:
      فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا.
      “Maka hari ini Aku melupakan mereka seperti halnya mereka melupakan pertemuan dengan hari ini”.

      kalau mau konsisten berarti menjadi begini: lupanya Allah adalah lupa yang sebenarnya secara hakikat, bukan majaz, meskipun tidak sama dengan lupanya makhluk!

      itu makna yang ngawur bukan?

  7. abu abdil barr mengatakan:

    Setali tiga uang ‘aqidah Abul-Hasan adalah ‘aqidah Al-Imaam Ahmad bin Hanbal rahimahumallaah sebagaimana tertera dalam Kitaabul-‘Aqiidah saat menjelaskan sifat wajah :

    ومذهب أبي عبد الله أحمد بن حنبل رضي الله عنه أن لله عز وجل وجها لا كالصور المصورة والأعيان المخططة بل وجهة وصفه بقوله {كل شيء هالك إلا وجهه} ومن غير معناه فقد ألحد عنه وذلك عنده وجه في الحقيقة دون المجاز

    “Dan madzhab Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Allah ‘azza wa jallaa mempunyai wajah yang tidak seperti bentuk-bentuk (makhluk-Nya) dan benda-benda yang terlukis. Bahkan sifat wajah telah Ia sifatkan dengan firman-Nya : ‘segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya’ (QS. Al-Qashshaash : 88). Dan barangsiapa yang mengubah maknanya, sungguh ia telah berbuat ilhad kepada-Nya. Sifat wajah itu menurutnya (Al-Imam Ahmad) adalah sebagaimana hakekatnya, bukan dalam makna majaz” [Kitaabul-‘Aqiidah, riwayat A-Khallaal, hal. 103].

    • Abdul Wahab mengatakan:

      Pertama:
      Kalimat وذلك عنده وجه في الحقيقة دون المجاز (Sifat wajah itu menurutnya adalah sebagaimana hakekatnya, bukan dalam makna majaz) dalam kutipan itu bukanlah perkataan Imam Ahmad, tapi semata komentar periwayat saja pada perkataan Imam Ahmad. Apalagi komentar itu tidak konsisten dengan kalimat sebelumnya; Sebelumnya disebutkan kalau “wajah Allah” adalah sifat-Nya, bukan seperti bentuk apapun, bukankah ini berarti bukan makna wajah secara hakikat yang berarti anggota wajah yang punya bentuk itu? diakui atau tidak ketika menafsirkan wajah dengan sifat Allah berarti itu takwil.

      Ibnu Taymiyah sendiri tidak memaknai “wajah Allah” itu apa adanya secara hakekat. Dia berkata:
      فَقَوْلُهُ: {كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إلَّا وَجْهَهُ} أَيْ دِينَهُ وَإِرَادَتَهُ وَعِبَادَتَهُ — مجموع الفتاوى :2/ 433
      “Firman Allah {segala sesuatu hancur kecuali wajah-Nya} artinya agama-Nya, kehendak-Nya dan ibadah kepada-Nya”.(majmu’ fatawa: 2/433)

      Tentang penggunaan makna majaz oleh Imam Ahmad, maka telah sahih bahwa beliau berkata:
      روى البهيقي عن الحاكم عن أبي عمر بن السماك عن حنبل أن أحمد بن حنبل تأول قول الله تعإلى وجاء ربك أنه جاء ثوابه ثم قال البهيقي وهذا اسناد لا غبار عليه (البداية والنهاية لابن كثير)
      “al-Baihaqi meriwayatkan dari Hakim dari Umar dari Hanbal dari Ahmad bin Hanbal: Sesungguhnya Ahmad bin Hanbal mentakwil firman Allah {telah datang Tuhanmu} dengan arti bahwa “telah datang pahala-Nya”. Kemudian Imam al-Baihaqi berkata: “ini sanad yang tak berdebu”. (al-Bidayah wa al-Nihayah karya Ibnu Katsir) *ket: Imam Ibnu Katsir tidak menyalahkan riwayat ini, bahkan menukilnya dalam konteks mendukung.

      Sudah jelas di sana kalau beliau memakai takwil juga yang berarti memakai majaz! Inilah salah satu metode yang diakui jama’ah Asy’ariyah.

      Kedua:
      Kenapa anda tidak melanjutkan kutipan yang anda yakini itu? Saya kutip lanjutannya agar lengkap. Setelah itu:
      وليس معنى وجه معنى جسد عنده ولا صورة ولا تخطيط ومن قال ذلك فقد ابتدع.
      “MAKNA WAJAH BUKANLAH ALLAH PUNYA JASAD, tidak pula bermakna bentuk tertentu atau garis/lukisan. Siapa yang berkata itu maka telah berbuat bid‘ah”.

      Sekarang bandingkan akidah Imam Ahmad itu dengan akidah Ibnu Taymiyah yang berkata:
      وَقَالُوا أَيْضًا: إِنَّ الْيَدَ وَالْوَجْهَ لاَ تَكُوْنُ إِلاَّ جِسْمًا، فَيَدُ اللهِ وَوَجْهُهُ كّذَلِكَ؛ وَالْمَوْصُوْفُ بِهَذِهِ الصِّفَاتِ لاَ يَكُوْنُ إِلاَّ جِسْمًا، فَاللهُ تَعَالَى جِسْمٌ لاَ كَاْلأَجْسَامِ. قَالُوْا: وَهِذَا مِمَّا لاَ يُمْكِنُ النِّزَاعُ فِيْهِ، إِذَا فُهِمَ الْمَعْنَى الْمُرَادُ بِذَلِكَ، لَكِنْ أَيُّ مَحْذُوْرٍ فِي ذَلِكَ، وَلَيْسَ فِي كِتَابِ اللهِ وَلاَ سُنَّةِ رَسُوْلِهِ وَلاَ قَوْلِ أَحَدٍ مِنْ سَلَفِ اْلأُمَّةِ وَأَئِمَّتِهَا، أَنَّهُ لَيْسَ بِجِسْمٍ، وَأَنَّ صِفَاتَهُ لَيْسَتْ أَجْسَامًا وَأَعْرَاضًا؟ (بيان تلبيس الجهمية)
      “Mereka berkata: “Sesungguhnya tangan dan wajah pastilah berupa jisim, maka tangan Allah dan wajah-Nya begitu juga. Dan yang disifati dengan sifat-sifat itu pastilah jisim, maka Allah ta’ala adalah jisim yang tidak seperti jisim”. Mereka berkata: “Hal ini tidak dapat dibantah kalau dipahami seperti itu”. Tetapi, apa yang dilarang dari itu? sedangkan tidak ada di kitabullah dan sunnah Rasul dan ucapan satu pun umat salaf dan para imamnya yang mengatakan bahwa Allah bukanlah jisim dan bahwa sifat-sifatnya bukanlah jisim atau sifat baru?”

      Kesimpulan objektifnya, status orang semisal Ibnu Taymyah menurut Imam Ahmad adalah mubtadi’ (ahli bid‘ah) karena Imam Ahmad menafikan kejasadan (kejisiman) sedangkan Ibnu Taymiyah malah menetapkannya atau minimal tidak menafikannya.

  8. abu abdil barr mengatakan:

    Adz-Dzahabiy menyepakati adanya tiga fase dalam diri Abul-Hasan, namun dengan bahasa berbeda :

    فله ثلاثة أحوال: حال كان معتزلياً، وحال كان سنياً في البعض دون البعض، و حال كان في غالب الأصول سنياً، وهو الذي علمناه من حاله

    “Ia mempunyai tiga keadaan (fase) : Fase awal sebagai seorang Mu’tazilah, fase seorang Ahlus-Sunah dalam sebagian perkara namun tidak di perkara lainnya, dan fase secara umum ia berada di atas prinsip Ahlus-Sunnah. Itulah yang kami ketahui dari keadaannya” [Al-‘Arsy, 1/400].

    • Abdul Wahab mengatakan:

      Sebelumnya, marhaban bikum ya akhi fi al-din, Abu Abdil Barr. terima kasih atas kunjungannya dan diskusi sopan anda. maaf saya baru balas karena baru sempat ngecek blog. berikut jawaban saya:

      Perkataan al-Dzahabi itu multi tafsir. saya sendiri menafsirkannya sebagai fase muktazilah, fase takwil dan fase tafwidl. Intinya, kutipan itu sama sekali tidak menegaskan adanya tiga fase seperti yang diklaim oleh Salafi-Wahabi. Kalau saja memang 3 fase itu memang fase yang diklam Salafi, maka buku-buku tarikh pasti penuh dengannya.

      silakan anda cari pernyataan yang sharih (jelas) untuk masalah yang se-urgen ini. ini masalah penyesatan imam besar dan jama’ah besar loh, jangan gegabah!

  9. Azrul Azwar mengatakan:

    Hmm, saya tidak bisa menuliskan komentar yang sangat panjang, selalu ditolak, padahal saya sudah memecah kecil2. Jawaban saya yang terakhir masih separuh, silahkan berdiskusi dengan saya melalui email

    • Abdul Wahab mengatakan:

      alhamdu lillah… anda mulai menampakkan sikap simpatik saudaraku, tidak seperti karakter yang anda perlihatkan pertama kali. setelah 4 hari absen dari internet, ternyata doa saya terhadap anda dikabulkan Allah, saudaraku Azrul Anwar.

      sebelumnya, mungkin komentar anda memuat kata yang dianggap sebagai spam oleh SitusWahab. maaf saya tidak bisa menyortir folder spam SitusWahab karena saking banyaknya isinya, mulai iklan sampai cacian gak penting. Silakan tulis kembali dengan bahasa yang enak didengar, dipotong2 jadi beberapa komentar juga tidak mengapa.

      tentang Imam Asy’ary yang membantah Muktazilah dengan bahasa mereka, itu saya akui dan memang itulah cara yang terbaik. kalau tidak memakai bahasa yang sama lalu dengan apa lagi? mereka tidak memandang seperti apa yang kita pandang sehingga kita harus menaklukkan ahli bid’ah dengan cara yang mereka akui. kalau menghadapi orang kristen, caranya tentu dengan hal2 yang diakui oleh orang kristen, bukan dengan al-Qur’an hadis karena mereka tidak mengakuinya. berdebat dengan orang syiah lain lagi caranya, dengan kebatinan lain juga, begitu pula berdebat dengan aliran tasawuf falsafi, pendekatannya juga harus lain. inilah yang membuat Imam besar Abu Hasan al-Asy’ari (dan pengikutnya), yang akidahnya memang sesuai dengan manhaj salaf seperti halnya imam yang 4 itu, melawan muktazilah dengan cara yang mereka akui, yakni logika. al-Ghazali juga melawan filsafat dengan cara yang mereka akui, filsafat juga, tapi filsafat yang ujung2nya selaras dengan al-Qur’an dan hadis. Saya tanya pada anda sekarang, haramkah metode dakwah ini sehingga pelakunya dianggap sebagai ahli bid‘ah? kalau anda mengharamkan, sebutkan dalilnya! Kalau tidak haram karena memang begitulah caranya, maka kenapa anda memojokkan?

      Kalau anda tetap mau mencela cara dakwah ini tidak mengapa, itu hak anda, tapi jangan lupa untuk juga mencela Ibnu Taymiyah yang juga memakai metode serupa. Ibnu Taymiyah menyerang Asy’ariyah dengan argumen kalamiyah juga loh. sudah berulang2 saya tegaskan ini tapi tampaknya anda tidak mengerti. Silakan anda baca sendiri kitab kalam ala Ibnu Taymiyah, semisal Risalah al-Arasyiah, bayanu talbisil jahmiyah dan yang serupa, maka anda akan sadar sesadar-sadarnya bahwa Ibnu Taymiyah adalah ahli kalam sejati, bahkan salah satu pionirnya!!! (cuma nggak ngaku). Jangan lupa juga untuk membaca Daf’u Syubahi al-Tasybih karya Imam Ibnu al-Jauzi al-Hanbali yang mengkritik hujjah kalamiyah a la Ibnu Taymiyah dan Ibnu Qayyim yang beraroma tajsim! Anda juga mengakui kesalafan Imam Ibnu al-Jauzi al-Hanbali bukan?

      begitu juga anda sekarang, bukankah dalam komentar anda yang mengkontraskan permasalahan jisim dengan “melihat Allah” itu adalah murni argumen kalamiyah? Sahabat dan Tabiin tidak pernah berhujjah dengan cara seperti itu. ini berarti anda juga harus adil menyalahkan diri anda sendiri yang sudah tanpa sadar memasuki ranah ilmu kalam!.

      Objektivitas, jujur, adil dan tidak fanatik, itu yang saya tuntut dari anda saudaraku! adillah dalam memperlakukan orang lain, jangan gampang memvonis muslim lain seperti kawan2 anda di madrasah yang katanya salafiyah tapi jauh dari akhlak salaf itu!
      agar memperjelas keadaan, saya akan tulis daftar ketidakobjektivan dalam menilai lawan anda (saya dan Asy’ariyah lain) dan fanatisme terhadap mazhab anda sendiri selama diskusi kita, sekaligus disisipi jawaban dan kritik saya.
      1. Anda mengecam Imam Asy’ari kerena memakai ilmu kalam. Lalu saya buktikan bahwa Ibnu Taymiyah juga memakai ilmu kalam, tapi sedikitpun anda tidak mengecam Ibnu Taymiyah, bahkan komentar saja tidak ada (kecuali saat terakhir anda mengaku kalau tidak menguasai).
      2. Anda mengecam Asy’ariyah yang menurut anda menyifati Allah tidak dengan sifat yang ditetapkan Allah sendiri. Lalu saya buktikan bahwa Ibnu Taymiyah juga demikian, tapi anda tidak mengecam Ibnu Taymiyah.
      3. Anda mengkritik penggunaan istilah2 ilmu kalam seperti wujud, qidam, baqa’ dan lain2 yang menurut anda tidak ada dalam al-Qur’an. Lalu saya persilahkan anda mengkritik istilah2 teknis dalam seluruh ilmu islam yang tidak ada dalam al-Qur’an, tapi anda tidak berkomentar sedikit pun.
      4. Anda menuduh Imam Asy’ari pindah akidah. Lalu saya buktikan bahwa baik takwil maupun tafwidh (mempercayai sifat apa adanya tanpa takwil, takyiif dan tasbih/tajsim) adalah mazhab Asy’ariyah dari awal mulanya. Di Ibanah pendekatan tafwidh yang dipakai, bukan takwil, tapi tidak bisa diklaim bahwa Imam Asy’ari pindah mazhab. Tidak pernah beliau pindah mazhab ke mazhab anda yang tidak menafikan tajsim itu. Sama saja dengan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani yang kadang mentakwil dan kadang mentafwidh hingga salah satu ulama anda menyebut beliau tadhabdub (plin-plan). Tapi lagi-lagi anda tidak berkomentar tentang kedua sikap Asy’ariyah ini, terutama tafwidh. Anda bahkan seolah tidak mau mengakui bahwa di mazhab kami ada tafwidh dan seolah kami mewajibkan takwil secara mutlak! Ataukah anda tidak paham artinya tafwidh? (sekedar info bagi anda, Ibnu Taymiyah mengkritik dan mencela tafwidh dan menekankan bahwa arti yang dimaksud adalah arti lahiriyahnya yang jelas2 beraroma tajsim itu. saya tunggu anda menyatakan yang serupa agar posisi anda jelas. Tapi kalau anda tidak setuju dengan Ibnu Taymiyah dan memilih tafwidh seperti kami, maka alhamdu lillah.)

      Kalau anda tetap menuduh beliau pindah mazhab ke mazhab anda, silakan buktikan bahwa beliau berkata bahwa Allah itu bertempat di atas sana dan dia bisa ditunjuk jari dan bahwa tangan Allah itu harus diartikan secara lahiriah sebagai tangan anggota badan! Perkataan beliau dalam Ibanah yang memakai pendekatan tafwidh itu tidak cukup sebagai bukti bahwa beliau pindah mazhab.

      Sekarang giliran saya bertanya, dalam al-Duror al-Kaminah karya Ibnu Hajar disebutkan secara jelas bahwa Ibu Taymiyah bertaubat dan rujuk dari mazhabnya dan mengaku sama dengan Asy’ariyah! Bagaimanakah komentar anda tentang ini?
      -> Ibnu Hajar meriwayatkan berita bohong. (kalau ini jawaban anda, silakan buktikan dengan ilmiah!)
      -> Ibnu Taymiyah waktu itu taqiyyah (seperti Syiah) karena dia takut pada tekanan ulama2 dan penguasa.
      -> Mengakui bahwa di akhir hayatnya Ibnu Taymiyah rujuk dari mazhabnya yang pro tajsim.
      Silakan dijawab dengan jujur, objektif dan ilmiah! Jangan hanya Imam Asy’ari yang anda sorot!

      5. Anda mengecam Asy’ariyah sebagai jahmiah karena dianggap tidak mengakui dalil2 yang lahiriahnya menyebut Allah ada di atas sana. Lalu saya tantang anda untuk memaknai dalil2 yang lahiriahnya menyebut bahwa Allah ada dekat bersama kita di sini, di sekitar kita. Sekali lagi, anda tidak sedikitpun berkomentar. Inti pemikiran anda adalah: kalau ada dalil yang mengatakan Allah di atas, maka dipahami lahiriah dan menyebut orang yang tidak sependapat (mentakwil) sebagai jahmiah dan ahli bid’ah. Tapi kalau ada dalil yang mengatakan Allah di depan kita, di sekitar kita dan di dekat kita, maka harus ditakwil dan jangan dipahami lahiriyahnya. Inkonsisten bukan?
      6. Anda mengecam Asy’ariyah karena dianggap tidak mengakui sifat yad sebagai makna lahiriahnya yang berarti tangan. Lalu saya tantang anda untuk memaknai sifat “lupa” yang disifati Allah atas dirinya sendiri dengan makna lahiriahnya. Lagi2 anda tidak berkomentar. Inkonsisten dalam pemahaman dalil bukan?
      7. Anda menuduh Asy’ariyah mengingkari istiwa’, yad, dan uluw. Lalu saya tegaskan bahwa kami mempercayai dan beriman pada seluruh sifat itu, hanya saja maksud dari itu semua yang kita berbeda. Anda pun tidak menjawab dengan sepantasnya, malah menukil komentar imam2 yang menegaskan sifat istiwa’ dan yad yang dari awal sudah disepakati bersama seolah kami mengingkarinya.
      8. Saya bertanya atas landasan apa anda memilih arti “tangan” yang jelas2 anggota badan, padahal arti kata yad itu ada 25 arti, sesuai dengan konteks bahasanya. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata dalam Fathul Bari:
      وَالْيَدُ فِي اللُّغَةِ تُطْلَقُ لِمَعَانٍ كَثِيرَةٍ اجْتَمَعَ لَنَا مِنْهَا خَمْسَةٌ وَعِشْرُونَ مَعْنًى مَا بَيْنَ حَقِيقَةٍ وَمَجَازٍ
      Tangan dalam bahasa diucapkan untuk banyak makna. Kami sudah mengumpulkan 25 arti antara yang hakikat dan majaz.
      Tapi anda justru menyebut ketidakmungkinan arti “aid” pada ayat2 tertentu. Padahal saya tidak pernah sekalipun menekankan arti “aid” itu. jadi, pertanyaan dan jawaban sama sekali tidak nyambung. Lagian siapa juga yang mengartikan kata “yad” hanya sebagai kekuatan atau kekuasaan semata. Yang benar adalah diartikan sesuai konteks! Itu prinsip saya dan para Asy’ariyah yang alhamdu lillah sudah terlepas dari taklid. (beda dengan yang jadi Asy’ariyah atas landasan taklid semata tanpa paham betul dalilnya).

      Dengan cara yang sama, saya juga bisa berkata “Kalau Anda terjemahkan Yad sebagai tangan maka makna nash2 berikut bisa jadi lucu:
      يد الله فوق أيديهم diartikan “tangan Allah di atas tangan-tangan mereka”, padahal waktu ayat itu turun, sama sekali tidak ada tangan lain di atas tangan sahabat dan tangan Rasulullah yang sedang membaiat mereka!
      أن الفضل بيد الله diartikan “keutamaan itu ada di tangan Allah”, padahal keutamaan itu hal yang abstrak, mana bisa ada di tangan?

      9. Saya juga bertanya bagaimana bisa anda meyakini kalau “tangan” Allah ada dua (seperti manusia) padahal dalilnya tidak hanya demikian? Tapi anda tidak menjawab. Kalau saya simpulkan pemikiran aliran anda begini: “kalau ada dalil yang mengatakan tangan Allah dalam bentuk mufrad (tunggal), maka jangan diambil lahiriahnya. Kalau ada dalil yang mengatakan tangan Allah ada dua, maka ambillah makna lahiriahnya. Kalau ada dalil yang mengatakan tangan Allah dalam bentuk jamak (aydun = tangan-tangan), maka jangan mau diartikan sebagai tangan karena agar tidak disangka bahwa tangan Allah ada banyak”. Ini inti pemikiran Ibnu Qayyim, imam anda yang anda ikuti. Inkonsisten bukan?
      10. Anda mengutip Kitab Aqidah Tahawiyah yang isinya tidak memakai takwil, tapi tafwidh untuk menyerang saya. Lalu saya tantang anda untuk mengutip kitab tersebut yang isinya: “Allah tidak diliputi dengan arah yang enam seperti keyakinan ahli bid‘ah”. Lagi2 anda tidak menjawab tantangan saya atau mengomentarinya. Yang anda nukil sepotong2.
      11. Anda mengutip perkataan Imam Asy’ari bahwa beliau berakidah seperti akidah Imam Ahmad. Ya, saya dan seluruh Asy’ariyah mengakui hal itu karena akidah kami memang 100 % sama (cara kami menyampaikan saja yang beda). Akidah Imam Ahmad sendiri seperti dituturkan oleh Imam al-Hafidz Ibnu al-Jauzi al-Hanbali dalam Daf’u Syubahittasybih seperti berikut:
      وكان أحمد لا يقول بالجهة للباري لأن الجهات تخلى عما سواها.
      “Adapun Imam Ahmad, dia tidak berkata dengan [menetapkan] arah bagi Allah karena [penetapan] arah itu berarti meniadakan di arah lain.”

      Itulah akidah Imam Ahmad sebenarnya yang ditegaskan oleh Imam besar mazhab Hanbali yang jelas2 lebih salaf dan lebih kenal dengan mazhab Hanbali dari Ibnu Taymiyah. Andalah yang harus membuktikan bahwa Imam Ahmad meyakini bahwa Allah punya tempat tertentu dan arah tertentu seperti dalam kitab2 Ibnu Taymiyah!
      Silakan dijawab dengan jujur!

      12. Anda mengutip perkataan Imam Abu Hanifah, saya juga setuju dengan beliau. Sama saja dengan kutipan2 anda sebelumnya. Beliau-beliau memakai pendekatan tafwidh. Tidak ada yang salah dengan itu! yang salah karena anda menjadikan ucapan para Imam itu untuk menekankan arti lahiriah bagi sifat2 Allah yang khabariah hingga berkonotasi tajsim. padahal tidak satupun mereka berkata demikian. Jangan lagi2 menukil hal percuma yang memang saya yakini, tapi nukillah perkataan imam yang berkesimpulan seperti anda!
      13. Saya sudah buktikan bahwa pengartian secara lahiriah, seperti akidah anda, adalah bentuk takyif (menyatakan bagaimananya). Mengatakan Allah punya tangan tapi beda dengan tangan yang lain, berarti tetap menetapkan sifat tangan sebagai anggota badan dan malah anda menetapkan tangan Allah ada dua. Ini jelas takyif . Tapi lagi-lagi anda tidak berkomentar. Kenapa anda tidak mencela diri anda sendiri dan katakan pada diri anda: “Bukankah lebih selamat kalau Anda imani khabar itu apa adanya, tanpa bertanya bagaimana?”.SILAKAN JUGA ANDA IMANI SIFAT LUPA ALLAH ITU APA ADANYA dan jangan tanya bagaimana kalau anda memang jujur dan konsisten!

      14. Soal takyif ini (berkata bagaimana), dari mana anda menuduh saya bertakyif dan karenanya akidah saya cedera? Saya meyakini bahwa Allah tidak bertempat, tidak berada di arah manapun, tidak serupa dengan makhluknya dan tidak mengatakan bagaimana secara mutlak (baik secara menetapkan arti lahiriah atau dengan cara lain). Baca baik2 pernyataan saya itu yang kesemuanya dalam bentuk PENAFIAN. Ini bukan takyif namanya karena takyif itu suatu PENETAPAN cara (bentuk ITSBAT, bukan bentuk penafian), seperti anda yang menetapkan sifat yang tidak pernah ditetapkan oleh Allah seperti menetapkan arah atas itu.

      15. Dulu anda mengatakan bahwa tuduhan tajsim pada aliran anda hanya fitnah semata yang tak berdasar. Sekarang anda sendiri yang berkata: “Bukankah “terlihat” berarti ada jisim yang dilihat?”. BUKANKAH INI ADALAH PENGAKUAN NYATA KALAU ANDA MEYAKINI ALLAH SEBAGAI JISIM YANG BISA DILIHAT? Sebenarnya, pernyataan anda ini telah saya tunggu sejak awal diskusi kita. Kalau begitu jangan keberatan kalau saya atau orang lain menyebut anda mujassimah!

      Lihat sekarang siapa yang berkata bagaimana/takyif? Hadis mengatakan Allah bisa dilihat seperti melihat purnama, lalu ANDA MENAMBAHI BAHWA YANG DILIHAT ITU ADALAH JISIM!!! Saya mengajak anda untuk bertaubat dari akidah bid‘ah ini wahai saudaraku dan kembali ke akidah ulama salaf yang bertafwidh.

      Pertanyaan anda: “Bagaimana Anda mentakwil “melihat sejelas bulan purnama”?” Bagi saya, hadis itu tidak perlu ditakwil karena dari konteksnya saja sudah jelas bahwa maksudnya adalah penetapan rukyah dan bahwa rukyah itu jelas dan nyata sejelas waktu kita menatap bulan purnama. Tapi saya dan semua ulama Salaf tidak ada yang berkata bahwa Allah adalah jisim seperti halnya bulan purnama adalah jisim. ANDALAH YANG MENGATAKAN ITU DAN KARENANYA ANDALAH YANG AHLI BID‘AH YANG TELAH MENETAPKAN TAKYIF DAN TAJSIM.

      Sangat banyak poin yang anda tidak jawab dengan layak, tapi terus berpindah ke bahasan baru hingga diskusi kita tidak fokus. Silakan jawab semua poin di atas satu-satu, poin per poin. Kalau tidak bisa jawab per poin, maka saya sangat menghargai kalau anda mengaku kalau anda tidak bisa memberikan jawaban yang konsisten.

      Kalau tidak bisa membahas sekaligus, Silakan pilih poin mana yang akan anda bahas, lalu kita fokus di sana saja. Silakan nukil dari manapun (asal jangan yang percuma biar saya tidak perlu mengulangi pernyataan yang sama berulang-ulang). Soal diskusi lewat email, maaf saya merasa tidak perlu selama masih bisa di blog ini agar dunia bisa mendapat pelajaran dari diskusi kita. Lain halnya kalau sudah tidak bisa di blog ini.

      Hadaakallah Akhi. maaf kalau ada kata2 saya yang menyebut anda sebagai bid’ah, itu memang konsekuensinya yang harus anda akui dan sadari. lagian itu masih belum apa2 dibanding hujatan2 kawan2 anda atas Asy’ariyah.

      • Azrul Azwar mengatakan:

        Saya sudah nyerah kirim komentar di sini, terlalu banyak ditolaknya, lebih baik diskusi lewat email, lalu kalau perlu, boleh jawabannya dimuat ulang di sini. Saya tidak yakin email Anda yang tercantum di sini bisa dihubungi, karena halaman facebooknya saja error. Silahkan kirim email ke saya, nanti saya balas.

  10. hamba Allah mengatakan:

    “Apa yang dalam al-Qur’an dihalalkan atau
    diharamkan, maka seperti itulah dan apa yang
    didiamkan, maka termasuk yang dimaafkan
    (mubah).

    Mungkin penulisnya tidak menyadari bahwa
    komentar Ibnu Abbas ra. tersebut adalah dalil
    bahwa apa-apa yang tidak diterangkan oleh al-
    Qur’an dan al-Hadis hukum asalnya adalah
    mubah, bukan dengan serta merta divonis
    sebagai bid‘ah yang sesat.”

    rasanya pelajar tsanawiyah/aaliyah jg paham, yg dimaksud ibnu abbas di atas adalah ttg urf/duniawi. kok anda menggunakannya utk menjustifikasi semua hal baru secara mutlak? adapun soal keagamaan/ukhrowi/ubuddiyyah, bukankah sejak kita mengucap dua kalimat syahadat, kita setuju bahwasanya segala bentuk penghambaan harus dihapuskan….kecuali kepada Allah sahaja? itu pun dgn mengikuti petunjuk dari Muhammad utusan Allah, bukan sekadar wangsit/firasat belaka. wallahu a’laam.

    • Abdul Wahab mengatakan:

      “adapun soal keagamaan/ukhrowi/ubuddiyyah, bukankah sejak kita mengucap dua kalimat syahadat, kita setuju bahwasanya segala bentuk penghambaan harus dihapuskan….kecuali kepada Allah sahaja? itu pun dgn mengikuti petunjuk dari Muhammad utusan Allah, bukan sekadar wangsit/firasat belaka.”

      benar sekali itu, tapi anda mengucap itu untuk siapa? untuk orang kafir atau untuk orang islam? memangnya siapa yang menyembah selain Allah selain orang kafir? silakan anda perinci maksud anda dahulu.

  11. Aswaja (Asy'ariyyah wa Jahmiyyah) mengatakan:

    Pantas aja, yang nulis Aswaja (Asy’ariyyah Wa Jahmiyyah), nulisnya nggak pernah berdasarkan fakta, selalu dari apa katanya katanya.

    • Abdul Wahab mengatakan:

      silakan buktikan mana yang tidak sesuai fakta. Rasul bersabda: al-bayynatu lil mudda’i. ! buktikan dulu baru bicara!

    • Abdul Wahab mengatakan:

      Asy’ariyah adalah mazhab akidah terbesar di dunia. di dalamnya ada banyak nama para ulama besar, di antaranya al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam Nawawi. Ilmu-ilmu islam dari masa ke masa disebarkan oleh ulama Asy’ariyah. Ya Allah jadikanlah aku bersama mereka, mayoritas ulama-Mu di akhirat nanti.

      wa la taj’al fi quluubina ghillan lilladzina amanuu (dan jangan Engkau jadikan rasa benci di hati kami pada orang beriman) sehingga dengan ghillan (rasa benci) itu kami akan menyesat-menyesatkan mayoritas umat islam dan para ulamanya hanya karena bertaklid pada Syaikh Ibnu Taymiyah dan Ibnu Qayyim atau lain-lain yang menyimpang dalam akidah dan hanya minoritas!

      • Aswaja (Asy'ariyyah wa Jahmiyyah) mengatakan:

        Sungguh menggelikan kalau ada orang yang mengatakan mazhabnya sayfi’iyah, akidahnya Asy’ariyyah. Imam Syafi’i sangat tidak suka dengan ahli kalam. Kalau bertemu dengan Abu Hasan Al-Asy’ari, mungkin dia akan diikat lalu didudukkan di atas unta, dipukuli pelepah kurma diarak keliling kampung sambil diteriaki inilah hukuman buat orang yang suka ilmu kalam dan meninggalkan Qur’an dan Sunnah.

        Ayat yang Anda kutip itu akan pas kalau yang berdo’a adalah orang yang tidak suka bid’ah, dan mengikuti apa yang diimani kaum salaf, yaitu muhajirin dan anshar. Dan kenyataannya orang2 asy’ariyyah wa jahmiyyah selalu mencap salafi/wahabi sebagai mujassim kafir sesat.

      • Abdul Wahab mengatakan:

        siapa yang berkata imam Syafi’i suka ilmu kalam. beliau memang tidak menyukainya karena konteks saat itu memang lebih baik menjauhhi ilmu kalam. namun di zaman berikutnya para ulama membahas ilmu kalam karena merasa itu ilmu yang dibutuhkan. salah satu yang membahas ilmu kalam dengan mendetail adalah Syaikh Ibnu Taymiyah dalam hamwiyah dan lain2, bahkan Ibnu Taymiyah sampai berkesimpulan bahwa Allah berada di arah tententu (atas) dan arah itu bisa ditunjuk. ini adalah kesimpulan Ibnu Taymiyah yang tidak pernah diucapkann oleh ulama salaf manapun.
        kalau Imam Abu Hasan al-Asy’ari yang berkata bahwa Allah tidak berada di arah tertentu sesuai akidah salaf dibilang dibenci Imam Syafi’i, maka apalagi Ibnu Taymiyah yang akidahnya berkesimpulan bahwa orang yang di atas gunung lebih dekat dengan Allah dengn orang yang ada di lembah.

        anda bawa2 Muhajirin dan Ansar? yang mana yang anda maksud mendukung kesimpulan Ibnu Taymiyah? Asy’ariyah tidak semuanya mencap Ibnu Taymiyah sebagai Mujassim, tapi hanya sebagian. Saya pribadi meyakini Ibnu Taymniyah bukan Mujassim, tapi cenderung pada akidah Tajsim karena banyaknya komentar beliau yang pro Tajsim.

      • Aswaja (Asy'ariyyah wa Jahmiyyah) mengatakan:

        Komentar yang satunya kok nggak muncul ya?

      • Aswaja (Asy'ariyyah wa Jahmiyyah) mengatakan:

        Hanya karena mematahkan klaim ahlul kalam, terus ibnu taimiyyah dianggap ahlul kalam?

        Allah ada di atas, beristiwa’ di atas ‘arsy. Itulah akidah ahlussunnah wal jama’ah yang sesungguhnya. Qur’an, hadits, atsar sahabat, pendapat para Imam mengatakan demikian. Yang lucu adalah pendapat yang mengatakan Allah ada di mana2 dan tidak ada di mana2 (seperti orang Budha/Konfusian), subhanallah.

        Kaum Asy’ariyah (lebih tepat sebenarnya adalah Kullabiyah atau Maturidiyah, karena Abul Hasan Al-Asy’ari sudah bertobat dari akidah tajsim) sungguh dekat dengan kaum Jahmiyyah karena lebih mengedepankan akal daripada wahyu. Sifat Allah mempunyai dua tangan dibantah, katanya itu tajsim. Padahal mereka sudah tajsim, karena membayangkan tangan Allah seperti tangan makhluk, lalu membantah sifat yang Allah tetapkan sendiri. Lebih konyol lagi orang lain dituduh mujassim karena tidak mau tajsim.

        Karena tidak suka dengan sifat2 yang Allah tetapkan sendiri, mereka dengan lancang membuatkan sifat2 baru untuk Allah yang tidak ada dasarnya. Wujud, Qidam, Baqa’ sampe elek digolek’i asale teko Qur’an/Hadits yo gak bakalan ketemu. Sing ono iku Awwal karo Akhir. Jadi, sing tajsim iku sopo?

      • Abdul Wahab mengatakan:

        Ibnu Taymiyah memang ahli kalam sejati. beliau bukan hanya mencoba mematahkan argumen ahli kalam lain, tapi bahkan sampai pada kesimpulan yang benar-benar baru (tidak diwarisi dari generasi salaf). Saya tidak mau panjang lebar bahas Istiwa’, saya dan seluruh Asy’ariyah mengimani dan mempercayainya, tidak seperti yang anda tuduhkan. Tapi apa yang dimaksud dengan istiwa’ itu? Pemikiran Ibnu Taymiyah sampai pada kesimpulan bahwa orang yang di atas gunung lebih dekat kepada Allah dengan orang yang di lembah karena beliau meyakini makna dhahir lafdhiyahnya. Pernahkah ulama salaf sampai pada kesimpulan seperti ini?
        beliau juga meyakini bahwa adanya hawadits yang tak bermula (la awwala laha), pernahkah ulama salaf (tiga kurun pertama) mengatakan ini?
        beliau juga meyakini bahwa Kalamullah itu secara nau’ (jenisnya) adalah qadim, akan tetapi secara juz’iyahnya adalah hadits. pernahkah ulama salaf (tiga kurun pertama) mengatakan ini?

        Perkataan Anda juga menandakan anda tidak mengerti akidah Asy’ariyah itu seperti apa. Secara resmi, Asy’ariyah itu menganut dua pendekatan terhadap sifat-sifat khabariyah. ada kalanya tafwidh (memasrahkan artinya kepada Allah) dan ada kalanya ta’wil (mencari arti yang paling mendekati tuntutan dalil). kalau Imam Asy’ari sekali waktu melakukan ta’wil dan di waktu lain melakukan tafwidh, itu bukan rujuk namanya.

        kalau anda mau mempermasalahkan istilah dalam ilmu kalam, maka silakan anda permasalahkan juga istilah2 di ilmu2 islam yang lain. yang penting maksudnya bang. hadaakallah.

      • Abdul Wahab mengatakan:

        oya ada yang ketinggalan, saya mau tanya mas.
        Pertama:
        anda bilang dalam akidah ahlus sunnah Allah bersifat punya dua tangan? dari mana anda mendapat kesimpulan ada “dua” tersebut, padahal dalam qur’an hadis juga disebut “yadullah” dengan bentuk tunggal dan “bi aidiinaa” dalam bentuk jamak? atas dasar apa anda memastikan bahwa jumlah “yad” Allah itu ada dua dan mentakwil ayat yang mengatakan “yad” dengan bentuk tunggal (berarti ada 1 yad) dan dengan bentuk jamak (berarti banyak yad)? silakan anda terangkan ayat dan hadisnya yang memerintah anda untuk memahami satu ayat secara harfiaah dan menampik mentah-mentah arti harfiah ayat lain! awas jangan pakai akal loh! anda gak mau memahami akidah dengan akal bukan, seperti yang anda jadikan bahan kritik bagi kami.

        kedua:
        dari mana anda mengatakan Allah punya tangan? kan di qur’an hadis lafaznya “yadun”, “yadaani” dan “aydun”? sedangkan dalam bahasa arab sendiri kata yadun mempunyai banyak arti sesuai konteks masing-masing. coba anda sebut ayat dan hadisnya yang membuat anda memilih arti “tangan” yang jelas-jelas dalam bahasa kita dipahami sebagai bagian dari anggota tubuh? silakan anda buktikan bahwa kata tangan itu bukan anggota tubuh. kalau tidak bisa, berarti anda mengatakan bahwa Allah punya anggota tubuh (mujassimah)!

        ketiga:
        anda mengartikan istiwa’ secara harfiah dan mencela orang yang mentakwilnya sebagai jahmiyah. sekarang silakan anda sebutkan pemahaman anda terhadap ayat “wahuwa ma’akum aina ma kuntum” dan ayat “wanahnu aqrabu ilaihi min hablil wariid”. awas, kalau mentakwil ma’iyah Allah dengan ilmu-Nya, dan mentakwil kedekatan dengan pengawasan atau semacamnya, maka saya juga berhak menyebut anda jahmiyah juga loh. juga terhadap hadis sahih “fainnallaha qibala wajhihi idza shalla” (Allah ada di depan orang salat ketika dia salat). awas, pemahamannya harus konsisten loh dengan seperti anda memahami istiwa’. jangan ditakwil atau diartikan tidak sesuai dhahirnya karena yang begitu itu menurut ulama anda adalah tahrif!

        silakan anda jawab ketiganya. sementara saya off dulu. hadaakallah akhi.

      • Aswaja (Asy'ariyyah wa Jahmiyyah) mengatakan:

        Anda tetap saja ngotot dengan fitnah yang dihembuskan penentang sunnah. Ibnu Taimiyah hanya menetapkan sifat Al-‘Uluw, sebagaimana yang sudah ditetapkan para Imam Mazhab. Hal ini manjadi rumit ketika Asy’ariyyah mulai mengada-adakan sesuatu yang tidak ada dalam Qur’an dan Hadits, yaitu tentang makan dan jihah. Arah di atas bisa ditunjuk? Ya bisa, Umar ra saja menunjuk ke atas, dan Rasulullah SAW mendiamkan orang yang menunjuk ke atas dan mengatakan orang ini orang muslim. Orang2 Asy’ariyah lalu bermain dengan akal, di arah atas berarti ada arah, dan berarti terpisah dengan alam semesta, berarah berarti bertempat, dll, tetapi kesimpulannya ditimpakan kepada ibnu Taimiyah. Ada lagi fitnah tentang “kesimpulan bahwa orang yang di atas gunung lebih dekat kepada Allah dengan orang yang di lembah” yang ditimpakan kepada Imam Ad-Darimi.

        Ini ada perkataan dari Abul Hasan Al-Asy’ari:
        وأن له يدين بلا كيف كما قال : { خَلَقْتُ بِيَدَيَّ } [ سورة ص ، الآية : 75 ] .
        وكما قال : { بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ } [ سورة المائدة ، الآية : 64 ] .
        “Bahwasannya Allah mempunyai dua tangan tanpa perlu ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya), sebagaimana firman-Nya : ‘Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku’, dan juga sebagaimana firman-Nya : ‘Akan tetapi kedua tangan-Nya terbuka”.

        Apa yang Anda lakukan ketika tahu orang yang didakwa peletak dasar Asy’ariyyah ternyata rujuk pada pendapat ahlussunnah?
        a. Mengikuti beliau
        b. Mencaci beliau
        c. Mengatakan bukunya dipalsu Wahabi

        Secara umum, Asy’ariyyah akan melakukan ta’wil kalau khabariyah yang diterima tidak bisa masuk di akal, misalnya tentang istiwa’, nuzul, matahari sujud, dll.

      • Abdul Wahab mengatakan:

        lagi2 anda menuduh saya memfitnah tanpa pernah anda buktikan di mana fitnah saya. andalah justru yang memfitnah Imam al-Asy’ari rujuk dari mazhab Ahlussunnah menuju mazhab yang seperti anda anut, padahal sudah saya jelaskan bahwa posisi Asy’ariyah itu tentang sifat khabariah ada dua. tatkala aman dari tasybih, mereka memilih tafwid (membaca apa adanya tanpa takwil, tapi maksudnya diserahkan pada Allah). tapi tatkala tidak aman dari fitnah kesalahpahaman (misalnya berbicara pada orang awam), maka pndekatan takwil lebih diutamakan.

        karena anda tampaknya TIDAK mempelajari akidah Asy’ariyah melalui kitab2 mereka, tetapi hanya dari kitab2 Salafi-Wahabi saja, maka ini saya beri nukilan dari kitab Asy’ariyah sendiri agar anda paham siapa yang sebenarnya memfitnah:

        Imam al-Hafidh Jalaluddin al-Subki al-Asy’ari berkata:
        َأقُول للأشاعرة قَولَانِ مشهوران فِي إِثْبَات الصِّفَات هَل تمر على ظَاهرهَا مَعَ اعْتِقَاد التَّنْزِيه أَو تؤول. وَالْقَوْل بالإمرار مَعَ اعْتِقَاد التَّنْزِيه هُوَ المعزو إِلَى السّلف وَهُوَ اخْتِيَار الإِمَام فِي الرسَالَة النظامية وَفِي مَوَاضِع من كَلَامه فرجوعه مَعْنَاهُ الرُّجُوع عَن التَّأْوِيل إِلَى التَّفْوِيض وَلَا إِنْكَار فِي هَذَا وَلَا فِي مُقَابلَة فَإِنَّهَا مَسْأَلَة اجتهادية أَعنِي مَسْأَلَة التَّأْوِيل أَو التَّفْوِيض مَعَ اعْتِقَاد التَّنْزِيه إِنَّمَا الْمُصِيبَة الْكُبْرَى والداهية الدهياء الإمرار على الظَّاهِر والاعتقاد أَنه المُرَاد وَأَنه لَا يَسْتَحِيل على الْبَارِي فَذَلِك قَول المجسمة عباد الوثن )طبقات الشافعية الكبرى للسبكي :5/ 191)

        “Saya berkata, Asy’ariyah punya DUA PENDAPAT YANG SAMA-SAMA MASYHUR dalam menetapkan sifat. Apakah itu dibiarkan menurut lahiriyahnya beserta meyakini kesucian Allah (dari makna lahiriahnya) atau malah mentakwil. Adapun pendapat menetapkan sifat apa adanya beserta meyakini kesucian Allah (dari arti lahiriyahnya) adalah yang dinisbatkan pada salaf. Itulah pendapat Imam (Abu al-Ma’ali) dalam Risalah Nidhamiyah dan dalam beberapa tempat dari perkataannya. Maka yang dimaksud rujuk beliau artinya rujuk dari takwil menuju tafwidh. Ini tidak dinggkari dan tidak ditentang. Itu adalah masalah ijtihad, yakni antara masalah takwil dan tafwidh yang disertai menyucikan Allah (dari makna lahiriahnya). HANYA SAJA MUSIBAHNYA YANG PALING BESAR ADALAH MEMPERLAKUKAN LAHIRIAH TEKS DAN MEYAKINI BAHWA MAKNA YANG DIKEHENDAKI ADALAH ITU DAN BAHWA ALLAH BUKANNYA TIDAK MUNGKIN BERSIFAT SEPERTI ITU. Itu adalah pendapat Mujassimah penyembah berhala.”

        lantas dalam konteks seperti ini perkataan beliau itu rujuk dari mana ke mana? Silakan dinilai dengan objektif dan kepala dingin!!!

        Anda TIDAK MENJAWAB SATU PUN pertanyaan saya sebelumnya. Ini bukti anda tidak menguasai masalah ini, tapi sudah menyesat-nyesatkan orang lain dan menyebut orang memfitnah. Saya beri petunjuk ya, pertanyaan yang saya ajukan itu semuanya telah dibahas oleh imam anda, Syaikh Ibnu Taymiyah dengan hujjahnya yang jelas2 memakai ilmu kalam! Tentunya dengan banyak kontradiksi, tapi saya tidak akan menulisnya di komentar, kapan2 saja saya tulis posting khusus. Silakan anda baca kitab2 Syaikh Ibnu Taymiyah dan kitab2 orang yang beliau tentang dan remehkan, lalu anda pilih dengan objektif. Saya sudah melakukan itu dan pilihan saya jatuh pada Asy’ariyah sebagaimana juga mayoritas ulama dunia memilih Asy’ariyah. walhamdu lillah.

        Soal arah dan makanah yang anda bilang adalah fitnah yang ditimpakan pada Ibnu Taymiyah, maka itu bukti lagi bahwa anda tidak faham dengan apa yang dinamakan konsekuensi logis. Kalau mengatakan Allah ada di atas dan bisa ditunjuk (itu anda akui sendiri), maka konsekuensinya adalah Allah berada di satu arah saja, yakni di arah atas dan terbatas di sana saja. Kalau mengatakan yadullah adalah “tangan Allah” (seperti yang anda lakukan, bahkan anda mengklaim bahwa tangan Allah ada dua), maka konsekuensinya berarti mengakui bahwa Allah punya anggota badan! Apa yang salah dari kesimpulan ini?

        Jangan berkata seolah Asy’ariyah mengingkari sifat ‘uluw dan istiwa’, ini fitnah namanya. Mereka semua mengakui dan mengimaninya, hanya saja apa yang dimaksud dengan ‘uluw dan istiwa’ itu? Di poin inilah Asy’ariyah dari kalangan Ahlussunnah berseberangan dengan Syaikh Ibnu Taymiyah dan ulama minoritas lainnya!

        Silakan dijawab dulu pertanyaan2 saya di komentar sebelumnya dan buktikan dengan konsisten bahwa anda adalah orang yang layak membahas masalah ini dan layak untuk menyebut orang lain salah dan layak mengaku sebagai Ahlussunnah! Kalau anda tidak mampu, maka saya ingatkan anda pada firman Allah, wala taqfu ma laysa laka bihi ilmun!!! Sejujurnya saya punya setumpuk lagi pertanyaan dan setumpuk nukilan dari perkataan ulama dari kitab2 mereka yang langsung saya baca dengan mata kepala sendiri, karena itu jawaban anda saya tunggu.

        Maaf kalau kali ini saya agak terasa kasar karena ini menyangkut prinsip akidah, jangan ditanggapi dengan emosi dan sedikit-sedikit bilang itu fitnah!. jawablah semuanya dengan ilmiah tanpa taklid atau akui kebenaran perkataan saya. Hadaakallah!

      • Aswaja (Asy'ariyyah wa Jahmiyyah) mengatakan:

        Selama Anda tinggal di Jember, Anda akan mengira bahwa penganut madzhab syafi’i dan akidah asy’ariyyah itu adalah mayoritas Islam, padahal kenyataannya nggak begitu. Madzhab Syafi’i berkembang di Asia Tenggara dan sedikit Afrika. Dan kebanyakan penganut Islam di Indonesia pemahaman agamanya kurang atau sekedar ikut2an. Kalau dibanding dari segi jumlah, India+Pakistan+Bangladesh jumlahnya lebih banyak daripada di Indonesia, dan rata2 pemahaman mereka lebih baik. Di Afrika berkembang madzhab Hanafi, di Saudi Hambali.

        Ok, kembali ke pokok bahasan. Anda kembali bertanya tentang sifat memiliki tangan bagi Allah, padahal sudah saya kutipkan pendapat Imam Abul Hasan Al-Asy’ari tentang itu. Anda tidak menjawab, tetapi saya duga jawaban Anda adalah c, seperti kebanyakan orang2 Asy’ariyyah.

        “HANYA SAJA MUSIBAHNYA YANG PALING BESAR ADALAH MEMPERLAKUKAN LAHIRIAH TEKS DAN MEYAKINI BAHWA MAKNA YANG DIKEHENDAKI ADALAH ITU DAN BAHWA ALLAH BUKANNYA TIDAK MUNGKIN BERSIFAT SEPERTI ITU. Itu adalah pendapat Mujassimah penyembah berhala.” Inilah anggapan Asy’ariiyah terhadap salafiyah. Tuduhan mujassimah juga diberikan oleh Jahmiyyah pada salafiyah. Kesalahan di sini adalah mempertanyakan bagaimananya, yang mana hal ini adalah bid’ah, tetapi konsekuensinya ditimpakan kepada salafiyah.

        Saya kutipkan beberapa pendapat Imam mazhab berkaitan dengan sifat Allah:

        Imam Abu Hanifah:
        يد الله فوق أيديهم ليست كأيدي خلقه ووجهه ليس كوجوه خلقه) -[ الفقه الأبسط ص56
        Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka tidak sama seperti tangan makhluknya, wajahnya tidak spt wajah makhluknya.[Al-Fiqhul-Absat m.s 56]
        وقال ( لا ينبغي لأحد أن ينطق في ذات الله بشيء بل يصفه بما وصف به نفسه ولا يقول فيه برأيه شيئاً تبارك الله وتعالى رب العالمين )-شرح العقيدة الطحاوية 2/427 . تحقيق د . التركي , جلاء العينين ص368
        Dan ketika ditanya tentang turunnya Allah SWT, Imam Abu Hanifah berkata “Ia turun tanpa kaifiat”.
        وقال ( من قال لا أعرف ربي في السماء أم في الأرض فقد كفر , وكذا من قال إنه على العرش ولا أدري العرش أفي السماء أم في الأرض )- الفقه الأبسط ص46 , ونقل نحو هذا اللفظ شيخ الإسلام ابن تيمية في مجموع الفتاوى 5/48 , وابن القيم في اجتماع الجيوش الإسلامية ص139 , والذهبي في العلو ص101-102 , وابن قدامة في العلو ص116 , وابن أبي العز في شرح الطحاوية ص301
        Siapa berkata, aku tidak mengetahui tuhanku di langit atau di bumi, sesungguhnya dia kafir, dan begitu juga sesiapa yang berkata, sesungguhnya Dia di atas Arsy, dan tidak aku menngetahui Arsy’ samaada di langit atau di bumi. [Al-Fiqhul Al-Akbar m.s. 46]

      • Aswaja (Asy'ariyyah wa Jahmiyyah) mengatakan:

        Imam Syafi’i:
        Pegangan dalam atas sunnah Rasulullah SAW yang aku berada di atasnya dan aku lihat sahabat-sahabat kita berada di atasnya, mereka itu Ahlul Hadis yang aku telah lihat mereka dan aku telah ambil daripada mereka seperti Sufyan, Malik dan selain mereka ialah ikrar bahawa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, Muhammad itu Rasulullah. sesungguhnya Allah di atas Arsynya dilangitnya. Dia menghampiri sesiapa yang dikalangan makhluk-makhlukNya sebagaimana yang Dia kehendaki, Dan Allah SWT turun ke langit dunia sebagaimana yang dia kehendaki.
        [Al-Wasiyyah m.s 53-58]

        Imam Ahmad bin Hambal:
        وأورد ابن الجوزي من المناقب كتاب أحمد بن حنبل لمسدد وفيه ( صفوا الله بما وصف به نفسه , وانفوا عن الله ما نفاه عن نفسه .. )-مناقب الإمام أحمد ص221
        Di sifatkan Allah sebagaimana yang Dia menyifatkan pada diriNya, dan menafikan daripada Allah sebagaimana Dia menafikan dari diriNya.
        [Imam Ibnul Jauzi dalam AL-Manaqid Imam Ahmad, m.s. 221]

        “Soal arah dan makanah yang anda bilang adalah fitnah yang ditimpakan pada Ibnu Taymiyah, maka itu bukti lagi bahwa anda tidak faham dengan apa yang dinamakan konsekuensi logis.”
        Lha ini dia, lebih mengedepankan logika untuk sesuatu yang seharusnya diimani karena di luar nalar, tetapi khabarnya sampai. Para Imam madzhab sudah bersepakat bahwa bahwa alma’na ma’lum, al-kaif majhul. Maknanya dimengerti karena bahasa Arab biasa, tetapi bagaimananya tidak diketahui.

        Kalau dipaksa-paksain akibatnya bisa jadi lucu. Istiwa’ ‘alal arsy, ah ini kan gak masuk akal, mungkin maksudnya istaula. Padahal Ibnul ‘arabi mengatakan, arti istaula itu dua pihak bertarung, lalu salah satu kalah dan dikuasai. Apakah Asy’ariyyah berpendapat dahulu Allah bertarung dengan Arsy lalu Arsy kalah dan dikuasai? Subhanallah.

        Dari tadi argumen Anda adalah konsekuensi logis, karena memang Asy’ariyyah mencari dulu dalil akalnya, baru setelah itu cari nash yang mencocokinya. Saya sudah bawakan pendapat Imam mazhab, semoga Anda mau mengikuti dan kembali ke jalan sunnah. Allahu yahdik.

      • Abdul Wahab mengatakan:

        soal mayoritas yang anda klaim itu dapat dibantah dengan kitab2 sejarah, bahkan kitab2 sejarah anda sendiri termasuk ensikplopedi Salafi-Wahabi di artikel saya di atas. tapi saya nggak mau membahas itu panjang2. percuma.

        anda bilang:
        Anda kembali bertanya tentang sifat memiliki tangan bagi Allah, padahal sudah saya kutipkan pendapat Imam Abul Hasan Al-Asy’ari tentang itu. Anda tidak menjawab, tetapi saya duga jawaban Anda adalah c, seperti kebanyakan orang2 Asy’ariyyah.”

        saudaraku yang nggak berani menyebutkan identitasnya, anda ini nggak ngerti ya apa yang saya tulis sebelumnya? KOK BISA MENDUGA C? KAPAN SAYA MENGATAKAN ITU ATAU MENGARAH KE SANA?. Pertanyaan anda yang salah karena kenyataannya Imam Asy’ariyah tidak pernah rujuk dari manhajnya selama ini!. baik takwil maupun tafwidh (seperti yang terjadi di kutipan anda) itu MEMANG MANHAJNYA! Ini sudah saya buktikan! pertanyaan anda itu berlandaskan fitnah. karenanya saya tidak menjawab a, b, atau c!!!

        percuma saja anda nukil komentar2 ulama itu, saya sudah tahu dari dulu dan alhamdu lillah mengimaninya dari dulu pula. jawaban saya pada seluruh nukilan anda itu adalah YA itu benar!, tapi konteks pembicaraan anda salah karena anda menjadikan nukilan itu sebagai bukti bahwa arti lahiriyah yang dimaksud. Lagian, kan saya sudah bilang, saya tidak bertaklid pada siapapun dalam akidah, tapi mengikuti tuntutan sunnah! Menjadi Asy’ariyah, seperti halnya Imam Nawawi dan Ibnu Hajar bukan berarti taklid loh. Kalau cuma nukilan seperti itu, saya punya banyak. Yang menentang juga banyak, tapi gak usahlah disebut di kotak komentar. cukup argumentasinya saja.

        Saudaraku, Saya TEGASKAN, LAGI DAN LAGI (karena anda nggak ngerti2) bahwa seluruh Asy’ariyah MEMANG DARI AWAL MULA SUDAH BERIMAN pada sifat Allah yang disebut “Yadullah” itu dan bahwa Allah “istawa” di atas Arasy. INGAT ITU BAIK2 dan JANGAN MEMFITNAH BAHWA KAMI MENGINGKARINYA. tapi masalahnya anda memahami yadullah sebagai tangan dan istawa sebagai bersemayam sesuai lahiriyahnya, padahal itu bertentangan dengan ayat “laysa kamitslihi syai’un”. KAPANKAH ALLAH MENGATAKAN DIRINYA PUNYA TANGAN dan BAHWA TANGANNYA ADA DUA seperti klaim anda? Allah hanya mengatakan punya sifat “Yad”. PENERJEMAHAN anda itu yang saya permasalahkan karena melebihi apa yang ditetapkan Allah dan Rasul. Lihat sekarang, siapa yang lebih cocok dengan akidah salaf antara saya yang meyakini semua sifat itu tanpa menyimpulkan bahwa maksudnya adalah yang lahiriyah dan anda yang memastikan bahwa artinya sesuai lahiriah lafadznya sehingga berkesimpulan bahwa orang yang di atas gunung lebih dekat dengan Allah dengan yang di bawahnya dan bahwa tempat Allah bisa ditunjuk? Andalah yang menetapkan sifat Allah melebihi tuntutan nash karena tidak ada nash yang menyimpulkan seperti itu.

        Ibnu Taymiyah juga meyakini bahwa kalam Allah itu hanya qadim secara nau’ saja, bukan juz’iyahya. Ini juga menetapkan apa yang tidak ditetapkan oleh Allah dan Rasulnya. (jangan lupa ya ini dijawab! Jangan cuma mengalihkan topik!) kalau Asy’ariyah KADANG (ingat! cuma kadang alias tidak selalu alias tidak mewajibkan setiap saat) mentakwil, itu karena tuntutan ayat muhkam “laysa kamitslihi syai’un” dan untuk menyelamatkan orang awam, jadi sama sekali tidak menetapkan apa yang tidak ditetapkan nash.

        para imam itu menyatakan sifat “yad” sesuai dengan ayatnya dan saya juga berkata seperti itu, tapi anda mengatakan “tangan” yang jelas2 anggota badan! kalau anda mau mengklaim bahwa arti dari “yad” itu dalam bahasa Arab hanya tangan, itu berarti anda nggak ngerti bahasa Arab. ngerti kan sekarang di mana masalahnya? Jangan mengalihkan pembicaraan lagi atau nukil yang percuma2!

        karena anda menukil dari Aqidah Tahawiyah, mengapa anda tidak sekalian menukil juga akidah Imam Tahawi yang menyucikan Allah dari segala arah (enam arah: atas, bawah, depan, belakang, samping kanan dan samping kiri)? jangan nukil separuh-separuh dong! kalau anda mau membantah saya dengan penjelasan syarih-nya Akidah Tahawiyah yang pengikut Ibnu Taymiyah itu gak apa2, saya tunggu!

        Soal tuduhan mendahulukan akal dari khabar, itu gak benar, itu hanya tuduhan anda pada orang2 yang argumennya tidak mampu anda bantah secara rasional. Yang benar adalah mendahulukan ayat yang qat’i dilalahnya, seperti ayat “laysa kamitslihi syai’un” dan yang sejenis daripada ayat yang zhanni dilalahnya, semisal sifat “yad” itu. Coba pelajari kitabnya Ibnu Taymiyah dengan baik, maka anda akan tahu bagaimana Ibnu Taymiyah membela mazhabnya dengan akal dan argumen rasional! Betapa sering Ibnu Taymiyah menyebut logika Asy’ariyah keliru dan bahkan mempertanyakan kewarasan Asy’ariyah karena menurutnya pemahaman pribadinya tidak masuk akal. Kalau yang seperti Asy’ariyah disebut mendahulukan akal, maka yang seperti Ibnu Taymiyah juga bisa disebut mendahulukan akal juga. Objektif ya, jangan fanatik! I’diluu huwa aqrabu li al-taqwa!

        Bicara soal akal, silakan jawab pertanyaan saya, bagaimana anda bisa meyakini bahwa “tangan Allah” ada 2? Yang jelas ayatnya gak cuma bilang 2 loh. Bagaimana juga anda mengklaim Allah hanya di arah atas, padahal ayat dan hadisnya tidak hanya menyebut demikian? Karena anda tidak mau memakai akal, ya pake qur’an hadis jawabnya! Cari yang isinya kira2 begini “kalau Allah mengatakan di atas, maka ambillah lahiriyahnya, tapi kalau Allah mengatakan di depan atau bersama kalian atau berada dekat dengan kalian, maka takwillah dan jangan pahami lahiriahnya”. Cari yang seperti itu ya! (kalo memang bisa. Heheheeee…)

        soal takyif (membahas bagaimananya), andalah yang justru membahas bagaimananya karena anda sudah menetapkan arti lahiriah. Ketika Allah mengucap “Yad”, lalu anda menetapkan sifat “tangan” yang berarti anggota badan, hanya saja anda mengucap tangan Allah tidak sama dengan tangan yang lain. Tapi tetap tangan dalam arti anggota badan, meskipun tidak sama. Dengan kata lain, tangan anda beda dengan tangan kelinci, tangan kelinci beda dengan tangan dinosaurus dan tangan Allah beda dengan semua itu! gitu kan maksud anda? Beda tapi tetap tangan!. Sekarang perhatikan ayat berikut:
        فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا
        “Hari ini Aku LUPAKAN mereka seperti halnya mereka melupakan pertemuan dengan hari ini”

        Silakan pahami ayat itu dengan metode anda, pake arti lahiriyahnya tapi jangan pertanyakan gimananya! Jadinya pasti: Allah punya sifat lupa, tapi lupanya tidak seperti lupa kita, jangan pertanyakan bagaimana “lupanya” Allah karena itu bid‘ah, jangan juga ingkari “lupanya” Allah karena itu berarti Jahmiyah! Apakah begitu maksud anda? Kalau anda tidak meyakini seperti itu dan malah tidak mengambil arti lahiriahnya, maka berarti anda tidak konsisten dalam menyikapi sifat yang ditetapkan oleh Allah sendiri! AFATU’MINUUNA BIBA’DIL KITAB WA TAKFURUUNA BIBA’DIN. (iman dengan sebagian dan ingkar dengan sebagian yang lain). JAWAB LOH! Jangan malah mengalihkan pembicaraan lagi.

        Ingat! seperti kata Imam Malik itu, meskipun artinya sudah jelas, ada arti denotatif dan konotatif dengan segala macam ragam artinya menurut bahasa arabnya, tapi jangan menetapkan gimananya dengan cara apapun, baik dengan menetapkan arti lahiriahnya atau lainnya. Ingat juga perkataan imam Syafi’i yang berkata “sebagaimana yang Dia kehendaki” itu berarti tanpa mengartikan bagaimanapun, baik seperti arti lahiriah bahasanya atau yang lain, tapi seperti yang maknanya Allah kehendaki dan hanya Allah sendiri yang tahu. (kalau terpaksa mengartikan sesuai petunjuk bahasa, maka pilih arti yang tidak bertentangan dengan ayat muhkam dan akal sehat, bukan dengan arti lahiriah yang mengarah pada tajsim).

        Soal tuduhan Jahmiyah itu, ini bukti anda nggak ngerti jahmiyah itu gimana karena itu anda tidak bisa membedakan antara Asy’ariyah dan golongan yang seumur hidup ditentang oleh Asy’ariyah, yakni Muktazilah yang menganut paham jahmiyah. Anda mengakui Imam Asy’ari keluar dari Muktazilah yang ingkar sifat (jahmiyah), tapi tetap ngotot bilang Asy’ari adalah jahmiyah! Lucunya… hanya karena taklid pada Ibnu Taymiyah yang berkata: siapa yang mengingkari istiwa’ Allah berarti jahmiyah!, maka anda ikut-ikutan seenaknya bilang orang lain jahmiyah!. Jangan taklid mas! Hari gini taklid dalam akidah!

        Eh, ini mas atau mbak? bapak atau kakek? Yang jelas dong, idza huyyitum bitahiyyatin fahayyuu bi ahsana minha au rudduuha! Saya memakai identitas asli saya untuk menghormati anda, bahkan lokasi saya anda saya beritahu. saya juga sudi memanggil anda saudaraku meskipun menurut saya anda keliru. Apakah anda yang mengaku ahlussunnah ini sudi membalas penghormatan saya sesuai perintah Allah?

        Omong2, terima kasih sudah membalas mendoakan saya dengan hidayah. Amin. Hadaanallah waja’alani wa iyyakum minas shalihin. Ini akhlak yang cukup langka dari seorang Salafi-Wahabi kepada sesama muslim yang beda aliran, terutama terhadap Asy’ariyah. Hidayah Allah sudah mulai tampak pada kepribadian Anda saudaraku. Saya bahagia!.

      • Azrul Azwar mengatakan:

        Nama saya Azrul Azwar, berasal dari Malang. Sebelumnya saya memilih anonim untuk lihat2 pemilik blognya, apakah setipe dengan abu-salafy, salafytobat, dll, ternyata Anda orang yang berakhlak baik, alhamdulillah.

        Saya tidak menafikan jasa Imam Abu Hasan Al-Asy’ari melawan Mu’tazilah, hanya saja beliau melawan mereka dengan cara yang sama mereka, yaitu memakai logika dan meminggirkan nash2 shahih, walaupun menang jadinya agak meminggirkan nash2 shahih. Alhamdulillah di akhir hayatnya beliau kembali rujuk ke jalan ahlussunnah, terbukti dengan tulisannya dalam kitab Al-‘Ibanah, yang menunjukkan beliau kembali kepada manhaj salaf, mazhab Imam Ahmad bin Hambal.

        Dalam hal ini Asy’ariyyah tidak mengakui rujuknya beliau kembali kepada sunnah, bahkan menuduh kitab al-‘Ibanah adalah kitab yang dipalsu oleh Wahabi. Padahal hal ini dicatat oleh Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, Ibnu Khuzaimah, Abu Hasan As-Subki, Ibnu Qudaamah Al-Maqdisi, dll. Beliau berulangkali mengatakan, “Aqidahku adalah ‘aqidah Al-Imam Al-Mubajjal Ahmad bin Hanbal”.

        Alhamdulillah Anda sudah membaca aqidah para Imam mazhab, meyakini dan membenarkan, tetapi pernyataan Anda yang mengatakan bahwa “ini bukan bukti lahiriyah” mencederai keyakinan Anda. Apakah Anda hendak mengatakan pernyataan mereka itu perlu ditafsir ulang karena tidak sesuai akal? Kalau Anda berpegang pada “laysa kamitslihi syai’un”, lalu Anda juga mendengar khabar yang shahih, apakah Anda berusaha mentafsir ulang khabar karena menurut logika, atas dasar “laysa kamitslihi syai’un” khabar tersebut tidak masuk akal? Bukankah lebih selamat kalau Anda imani khabar itu apa adanya, tanpa bertanya bagaimana? Memperkenalkan teori jisim, jihah, makan, dll akan membuat bingung dan berlarut-larut dalam hal yang tidak penting (ilmu kalam).

      • Azrul Azwar mengatakan:

        Bagaimana Anda menyikapi hadits Nabi SAW tentang orang mukmin yang bisa melihat Allah sejelas melihat bulan purnama? Bukankah “terlihat” berarti ada jisim yang dilihat? Bagaimana Anda mentakwil “melihat sejelas bulan purnama”?

        Kembali kepada masalah Yad, karena logika jisim, punya tangan berarti punya tubuh, bukannya berarti Anda itu sudah membayangkan “bagaimana”-nya? Kalau Anda terjemahkan Yad sebagai kekuasaan (aid), maka makna nash2 berikut bisa jadi lucu:
        – Mengapa engkau tidak mau menyembah Adam yang aku ciptakan dengan dua kekuasaanku?
        – Di hari kiamat, Allah menggulung langit dengan kekuasaan kanan, dan bumi dengan kekuasaan yang lain
        – Kekuasaan Allah selalu penuh, tidak kurang karena memberi nafkah, dan selalu dermawan baik malam maupun siang

        Imam Abu Hanifah telah berkata :
        ولا يقال إن يده قدرته أو نعمته لأن فيه إبطال الصفة ، وهو قول أهل القدر والاعتزال ، ولكن يده صفة بلا كيف
        “Tidak boleh untuk dikatakan : Sesungguhnya (makna) tangan-Nya adalah kekuasaan-Nya atau nikmat-Nya, karena di dalamnya mengandung pengingkaran terhadap sifat (Allah). Ia adalah perkataan orang-orang Qadariyyah dan Mu’tazillah. Akan tetapi tangan-Nya adalah sifat yang tidak boleh ditanyakan bagaimananya (kaifiyah-nya)”
        Dan saya juga telah tuliskan pendapat Imam Abu Hasan Al-Asyari sebelumnya.

        Soal tentang pernyataan Ibnu Taimiyah tentang qadim nau’ dan Tahawiyah saya tidak menguasainya, Insya Allah saya carikan nanti.

  12. google mengatakan:

    Hmmmmm pastas……ASWAJA…..

    • Abdul Wahab mengatakan:

      Ahlus Sunnah wal Jama’ah. lawan dari Mujassimah!

      • gkvfx mengatakan:

        Setuju banget. Mujasimah artinya doyan fulus, ada fulus baru bertindak kayak wahaby dikasih fulus oleh king saud yahudi cecunguknya amrik dan israel. Artinya wahaby makan dr duit haram kafir. Mirip anjing kurap yg dikasih makan babi ngepet kafir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s