Merasa diri selalu benar


Pernahkah anda merasa salah? Sudah cermatkah anda menilai tindakan anda? Apa patokan anda untuk menilai benar dan salah, apakah akal anda, apakah ajaran agama, ataukah tradisi lingkungan anda? Tahukah anda bahwa setiap tindakan, termasuk yang sangat jahat sekalipun, selalu punya alasan-alasan untuk dianggap benar?Wajar kalau anda merasa benar ketika anda berhadapan dengan orang lain yang tidak sependapat atau mengkritik, tapi tidak lagi wajar jika anda merasa selalu benar. Merasa selalu benar bukan disebabkan oleh kehebatan kita dalam mengambil keputusan, tapi justru karena kelemahan kita sehingga kita dibutakan oleh alasan-alasan kita sendiri dan akhirnya hanya mengikuti emosi dan hawa nafsu.

Tentang alasan-alasan anda untuk membela diri itu? Pernahkah terbesit dalam pikiran anda kalau mungkin saja alasan itu salah? Kalau anda merasa mungkin saja salah berarti anda selamat. Kalau anda merasa tidak mungkin salah karena menurut akal anda alasan itu sudah benar, berarti anda celaka.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ [البقرة: 11، 12]

Ketika dikatakan pada mereka: “Janganlah kalian merusak di muka bumi”, maka mereka berkata: “Sesungguhnya kami ini orang yang berbuat baik”. Ingatlah sesungguhnya mereka itu orang yang merusak, tapi mereka tidak menyadarinya. (al-Baqarah: 11-12)

Lihatlah bagaimana orang kafir di ayat tersebut merasa dirinya baik, merasa dirinya telah berada di jalan yang benar. Padahal sejatinya mereka berbuat aniaya dan merusak, hanya saja mereka tidak menyadarinya. Kenapa demikian? karena mereka mengikuti alasan-alasan akal mereka saja tanpa mengikuti panduan agama.

Kalau hanya pandangan akal yang dijadikan pedoman, maka iblis pun bisa benar ketika dia enggan sujud pada Nabi Adam. Akal si Iblis memberinya alasan yang masuk akal; Adam terbuat dari tanah liat yang rendah sedangkan Iblis terbuat dari Api. Adam juga baru saja dibuat dan belum melakukan apa-apa, sedangkan Iblis sudah ribuan tahun diciptakan dan telah beribadah dan mengabdi pada Allah ribuan tahun pula. Secara akal alasan ini bisa dibenarkan juga, tapi kalau kita menambahkan tuntunan agama yang memerintahkan tunduk pada semua perintah Tuhan, maka alasan si Iblis tadi terlihat salah dan layak dihukum. Begitu pula para pencuri, perampok, pelacur dan lain-lain semua punya alasan-alasan yang menurutnya benar dan orang lain yang menyalahkan adalah salah.

Karena itu, jangan selalu mengandalkan alasan-alasan anda yang anda pakai untuk membela diri itu. Anda dan semua orang di dunia ini sekarang tidak ada yang sempurna. Semua mungkin salah dalam mengambil keputusan. Orang yang bijak akan melihat kesalahan-kesalahan dirinya sebelum melihat kesalahan orang lain, sedangkan orang bodoh akan melihat kesalahan-kesalahan orang lain dan tidak akan mampu melihat kesalahannya sendiri.

Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang merugi seperti disebutkan dalam Firman Allah berikut:

{قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا} [الكهف: 103، 104]

Katakanlah: Apakah mau kuberitahu orang yang tindakannya paling rugi? Yaitu orang-orang yang tindakannya sesat dalam kehidupan dunia tapi mereka merasa telah berbuat baik.

Ukurlah benar salah dengan tolok ukur yang tepat, yakni firman Allah dan tuntunan Rasul serta arahan dari para ahli ilmu. Kalau tidak demikian, maka biasanya keburukan akan tampak sebagai kebaikan karena keburukan itu telah dihiasi dengan alasan-alasan. Allah berfirman:

{أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا [فاطر: 8

Apakah orang yang tindakannya dihiasi (oleh syaitan) hingga menganggap baik pekerjaannya yang buruk itu (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)?

Semoga saja kita termasuk orang-orang yang tidak merugi karena terlena dengan alasan-alasan kita sendiri.

Karya Asli Abdul Wahab

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

4 Responses to Merasa diri selalu benar

  1. toko sepatu wanita mengatakan:

    alhamdulillah .. subhanalloh .. penjelasan yang bagus .. memang kadang kita tetap harus bisa bersabar .. semoga kita semua termasuk orang2 yang bersabar ..

  2. hendra mengatakan:

    mohon ijin share kang…jembernya dimana…? istriku jg dari jember…patrang. kpn2 tak mampir ya kang

    • Abdul Wahab mengatakan:

      monggo. saya sekarang di suger, perbatasan bondowoso, patrang masih terus ke arah bondowoso.

  3. toko pakaian mengatakan:

    menarik artikelnya…salam kenal slalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s