Hikmah 10: Hidupkan Amal Dengan Ruh Keikhlasan


الأعمالُ صُوَرٌ قائمةٌ وأرواحُها وجودُ سِرِّ الإخلاص فِيهَا

Amal perbuatan adalah wujud independen sedangkan ruhnya adalah adanya keikhlasan di dalamnya.

Amal kebaikan bagaikan raga sedangkan ikhlas adalah ruhnya. Dengan ruh itu raga menjadi hidup dan berharga. Sebaliknya, tanpa ruh tersebut raga hanya menjadi bangkai yang tak berharga. Mempersembahkan amal kebaikan yang tidak ikhlas pada Allah ibarat menghaturkan bangkai pada Raja. Bukan ganjaran baik yang lebih layak didapatkan, melainkan kemarahan. Tanpa keikhlasan, suatu kebaikan kehilangan nilainya.

Keikhlasan yang dituntut di sini adalah segala macam keikhlasan sesuai dengan tingkat masing-masing orang. Ikhlasnya orang biasa adalah terbebasnya amal perbuatannya dari segala bentuk riya’ seperti pamer, ingin dipuji, ingin dilihat atau didengar orang, ingin balasan dari manusia, ingin dianggap baik, ‘ujub (membanggakan diri) dan sebagainya sehingga amalnya murni dilakukan untuk mengharap balasan dari Allah semata, baik mendapat surga atau pun terbebaskan dari neraka. Ini adalah tingkatan ikhlas kebanyakan orang. Dalam tingkatan ini seorang salik (penempuh jalan menuju Allah) melihat adanya perannya sendiri dalam amal yang ia lakukan dan berharap dengan itu ia akan memperoleh balasan yang baik dari Allah.

Adapun ikhlasnya para muhibbin (orang-orang khusus yang cinta mati terhadap Allah) lebih tinggi dari tingkatan orang biasa tersebut. Para muhibbin melakukan amal kebaikannya bukan karena ingin balasan surga atau dijauhkan dari neraka, melainkan murni dipersembahkan pada Allah karena Dia memang berhak untuk itu. Bagi mereka, Allah memang sepatutnya disembah tanpa harus memberi balasan apapun pada yang menyembah dan yang menyembah tidak layak menuntut apapun dari Allah karena ibadahnya merupakan kewajiban yang memang harus dilakukan. Betapa luhur dan sulitnya tingkatan ini, tapi meski demikian dalam tingkatan ini seorang salik juga masih melihat adanya perannya sendiri dalam amal yang dilakukannya.

Sebagian ulama ahli hakikat, di antaranya Syaikh al-Qusyairi, menyebut kedua tingkatan di atas sebagai tingkatan iyyaka na’budu (hanya kepada-Mu kami menyembah) yang berarti kami tidak menyembah siapa pun kecuali pada-Mu dan kami tidak mempersekutukan-Mu dengan yang lain.  Yang ditekankan dalam tingkatan ini adalah penyatuan tujuan amal, yakni murni pada Allah atau sering juga disebut dengan al-‘amal lillah (tindakan untuk Allah).

Ada tingkatan yang lebih tinggi lagi dari keduanya, yaitu tingkatan para muqarrabin (orang yang didekatkan oleh Allah pada-Nya. Istilah ini dipakai dalam dunia sufi untuk menunjukkan bahwa kedekatan pada Allah pada hakikatnya bukan hal yang dicapai tapi diberi sehingga istilahnya adalah “Yang didekatkan”, bukannya “Yang mendekatkan diri” atau pun “Yang sudah dekat”). Dalam tingkatan tertinggi ini, seorang salik tidak lagi melihat adanya peran dirinya sendiri dalam amal perbuatan yang ia lakukan. Baginya semua apa yang terjadi di dunia ini murni dengan kehendak Allah tanpa campur tangan siapa pun. Amal perbuatannya dianggap bagian dari kehendak Allah itu dan karenanya hanya Allah yang berperan di dalamnya, bukan dirinya sendiri sehingga dalam hatinya sama sekali tidak terbesit adanya minta balasan atau merasa bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu untuk dipersembahkan pada Allah.

Ulama ahli hakikat menyebut tingkatan muqarrabin ini sebagai tingkatan iyyaka nasta’in (hanya kepad-Mu kami minta tolong) dalam arti kami tidak minta tolong dengan apapun selain-Mu, tidak dengan diri kami, daya kami atau pun kekuatan kami sendiri. Jika tingkatan sebelumnya adalah al-‘amal lillah (tindakah untuk Allah), maka tingkatan ini adalah al-‘amal billah (tindakan sebab/dengan Allah). Ini adalah tingkatan tauhid yang sempurna yang sesuai dengan makna la hawla wa la quwwata illa billah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah).

Seorang guru berkata: “Perbaiki tindakanmu dengan ikhlas dan perbaiki keikhlasanmu dengan membebaskannya dari daya dan kekuatan”.

PERINGATAN:

Sering kali setan menipu orang-orang awam dengan bersenjatakan ulasan ikhlas seperti ini. Dengan cerdik setan membisikkan ketakutan untuk tidak ikhlas agar seseorang menghentikan amal baiknya sehingga banyak orang merasa enggan melakukan kebaikan dengan alasan masih belum bisa sepenuhnya ikhlas. Sebagai contoh, beberapa Muslimah enggan memakai jilbab dengan alasan karena merasa hatinya belum bersih, masih ada perasaan ingin dipuja dan dipuji. Beberapa orang kaya enggan menunaikan haji karena alasan belum siap secara rohani, masih ada sifat-sifat tercela yang tidak membuatnya pantas untuk berhaji. Beberapa orang urung untuk bersedekah karena alasan takut diketahui orang sehingga dikhawatirkan kurang ikhlas dalam memberi.

Kesemua orang yang demikian itu dalam dunia sufi dikenal sebagai al-maghrur (orang yang tertipu setan). Setan telah berhasil menipunya sehingga dia urung beramal baik dan akhirnya derajatnya sama saja dengan derajat orang yang tidak melakukan apa-apa. Seandainya orang-orang itu melihat dengan hati yang bersih, maka pasti mereka sadar bahwa melakukan amal yang tidak sempurna masih lebih baik dari tidak sama sekali. Berjilbab tanpa hati ikhlas masih jauh lebih baik daripada tidak berjilbab sama sekali. Dengan berjilbab berarti satu kewajiban ragawi telah dilakukan, tinggal menyempurnakan kewajiban rohaninya saja. Dengan beribadah haji meskipun kurang ikhlas berarti satu rukun islam telah terlaksana, tinggal menghilangkan perasaan-perasaan kotor dalam hati saja. Dengan bersedekah meskipun tanpa ikhlas berarti seseorang telah terbantu, tinggal niat pemberinya saja yang harus disempurnakan. Begitu seterusnya.

Dalam skala yang lebih parah, ada beberapa orang yang mencaci orang lain dengan dalih ketiadaan keikhlasan. Yang tidak berjilbab mencaci yang berjilbab dengan dibilang hatinya masih kotor sehingga menodai jilbabnya. Yang tidak bersedekah mencaci orang yang bersedekah dengan dibilang sedekahnya tidak tulus demi Allah sehingga percuma. Yang tidak berhaji mencaci yang sudah berhaji dengan dibilang dia belum pantas berhaji dan sebagainya. Orang-orang yang seperti ini bukan lagi al-maghrur (yang tertipu setan), melainkan setan itu sendiri karena setan itu memang terdiri dari jin dan manusia.

Begitulah, keikhlasan sering kali bukan hal yang langsung sempurna tapi hal yang harus dilatih. Dimulai dengan amal tanpa ikhlas menuju amal dengan ikhlas yang biasa dan terus naik menjadi amal dengan keikhlasan yang luar biasa.

Ya Allah jadikanlah kami sebagai orang-orang yang ikhlas. Amin.

Karya Asli Abdul Wahab

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

2 Responses to Hikmah 10: Hidupkan Amal Dengan Ruh Keikhlasan

  1. bambang soeparyono mengatakan:

    alhamdulillah, jadi ingin berusaha melakukan apapun kegiatan selalu dg keikhlasan

  2. Mirda doang mengatakan:

    Sangat bermanfaat artikelnya. Mudah2an jadi lebih maju!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s