Mau Jihad ko’ Ngawur?!!! Tinjauan terhadap praktik pengeboman di Indonesia


Pagi ini saya agak kaget karena melihat statistik SitusWahab yang agak tidak biasa. Artikel yang paling aktif sewaktu tulisan ini dibuat adalah ternyata artikel saya tentang Hukum Bom Bunuh Diri Dalam Islam. Setelah saya amati ternyata artikel itu selalu jadi paling aktif ketika ada peristiwa pengeboman di negeri kita tercinta ini. Dalam kasus sekarang adalah kasus pengeboman di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo. Yah, sepertinya saya menulis hal yang tepat di momen yang tepat pula, tatkala rakyat ini sudah terbiasa mendengar kata “pengeboman“.

Dulu sewaktu kecil, saya jarang sekali, bahkan bisa dikata hampir tidak pernah mendengar berita pengeboman di Indonesia, yang ada adalah pengeboman-pengeboman di luar negeri. Zaman tenang dari bom itu sudah berakhir beberapa tahun lalu tatkala Bali dikejutkan oleh ledakan bom berkekuatan besar yang membuat Indonesia lebih terkenal dari sebelumnya. Sayangnya, jadi lebih terkenal dalam konteks negatif; sebagai sarang teroris, sarang Muslim radikal, ladang jihad baru dan sebagainya.

Saya sudah menerangkan panjang lebar tentang Hukum Bom Bunuh Diri Dalam Islam, karenanya tidak perlu diulangi lagi di sini. Bagi yang berminat silakan baca langsung di link tersebut dan baca hingga akhir. Saya juga sedang tidak berminat menulis panjang lebar tentang jihad di sini karena rasanya sudah banyak tulisan seperti itu di Internet dan rasanya sudah mencukupi. Saya hanya ingin memberikan beberapa catatan tentang praktik pengeboman yang kerap terjadi akhir-akhir ini.

Jihad itu adalah perjuangan suci demi menegakkan agama. Orang Kristen memakai istilah holy war (perang suci) untuk merujuk pada makna yang persis sama. Perjuangan atau perang yang dimaksud tidak selalu berarti perjuangan fisik yang berdarah-darah itu, tapi lebih umum mencakup seluruh macam perjuangan yang mulia. Disebut suci karena tendensinya adalah membela ajaran Tuhan yang suci. Karena itu, secara teoritis mestinya perjuangan ini dilakukan dengan cara yang suci pula sesuai dengan fitrah agama sebagai ajaran yang suci.

Melakukan pengorbanan diri sendiri demi menegakkan agama memang hukum asalnya adalah boleh, bahkan bisa meningkat jadi sunnah atau wajib. Ini sudah dipraktikkan oleh para pejuang kita tatkala membela tanah air ini dari serangan penjajah karena memang melawan penjajahan dan penindasan adalah titah agama. Kita tahu dari sejarah bahwa pekik yang menggema sewaktu peperangan bukan hanya kata “merdeka”, tapi “Allahu Akbar”. Alangkah mulianya mereka itu yang rela gugur demi menjalankan titah Tuhan untuk membela tanah airnya.

Tapi, konteks pengorbanan diri yang dilakukan oleh orang-orang tak bertanggung jawab dengan bom bunuh diri sekarang ini tentu beda dari konteks perjuangan di atas. Sudah maklum bahwa hukum itu bisa berubah sesuai konteksnya.  Hukum asal yang membolehkan bom bunuh diri misalnya, dapat berubah menjadi haram tatkala dilakukan dengan sembrono. Pelakunya tak mesti dapat surga, tapi bisa juga justru terjun bebas ke dalam neraka yang terdalam bila caranya ngawur. Ada beberapa hal yang mesti dipenuhi agar pengorbanan diri dalam jihad menjadi hal yang mulia, antara lain:

  1. Perjuangannya haruslah benar dan mempunyai sandaran kuat. Benar  yang dimaksud tentu tepat menurut Syari’at, sesuai dengan tuntunan al-Qu’an dan al-Hadits. Kebenaran ini juga bukan semata dari klaim segolongan tertentu yang punya label tertentu seperti Golongan A atau Golongan B saja, tapi benar-benar atas kajian objektif dari ulama-ulama terkemuka yang diakui bersama. Penafsiran yang dipakai atas al-Qur’an dan al-Hadith juga harus sesuai dengan penafsiran mereka yang telah diakui bersama itu.
    Ini sangat perlu dicatat mengingat pelaku pengeboman biasanya mengklaim perjuangannya sudah benar hanya berdasar ucapan pemimpin mereka saja yang biasanya menyembunyikan dirinya dalam sebuah organisasi tersembunyi. Pada hakikatnya yang dilakukan para pemimpin misterius itu hanya cuci otak belaka, bukan benar-benar mengajarkan Islam secara komprehensif.
  2. Yang diperangi haruslah tepat. Orang atau pihak yang boleh diserang hanyalah betul-betul pihak yang bersalah dan bertanggung-jawab, bukan sembarang orang. Misalnya yang bersalah adalah militer Israel yang membantai warga muslim Palestina, maka yang boleh diserang hanyalah militer Israel tersebut beserta seluruh perangkatnya termasuk spionasenya, bukan penduduk sipil yang tak bersenjata, bukan pelancong, bukan pekerja atau pebisnis yang kesemuanya tidak berhubungan dengan militer. Menyerang mereka yang tak bersalah jelas adalah kesalahan. Sumber Asli: situswahab.wordpress.com
    Lebih salah lagi bila yang dimusuhi adalah militer luar negeri yang membantai Muslimin di luar negeri, tapi yang jadi sasaran pengeboman malah Bursa Efek Jakarta, Gereja di Indonesia, tempat hiburan di Bali, Hotel berbintang yang banyak dihuni bule di kota-kota besar Indonesia dan sebagainya yang berada di luar area konflik.
  3. Tempat perjuangan harus tepat. Bila misalnya konfliknya terjadi di Palestina, maka perjuangannya harus dilakukan di Palestina, bukan malah menebar ancaman dan ketakutan di Indonesia.  Baru kalau memang Indonesia diserang secara fisik oleh pihak mana pun dalam posisi Indonesia benar, maka wajib melakukan perjuangan pembelaan dan pembebasan di Indonesia secara fisik pula.
  4. Waktu perjuangan harus tepat. Jangan sampai melakukan peperangan fisik di waktu terjadi gencatan senjata dan waktu lain yang hanya akan memperburuk suasana. Apalagi melakukan “peperangan” di waktu keadaan damai sentosa seperti di negeri kita tercinta sekarang ini.
  5. Cara yang dipakai dalam peperangan harus tepat. Islam punya kode etik peperangan yang jelas, semisal: dilarang merusak infrastruktur kecuali memang sangat diperlukan, dilarang memutilasi musuh, dilarang menyerang orang tua, anak-anak dan wanita yang memang tidak menimbulkan ancaman dan lain-lain.
    Ancaman yang dimaksud adalah ancaman langsung saat peperangan itu, bukan ancaman potensial seperti misalnya ancaman yang mungkin terjadi tatkala nantinya wanita-wanita mendidik anak-anak mereka untuk menyerang balik atau anak-anak nantinya akan tumbuh besar dan malah membalas dendam dan sebagainya. Bila hal ini tidak diperhatikan, maka akan terjadi pembantaian besar-besaran tanpa pandang bulu yang bukan hanya berlawanan, bahkan dilaknat oleh Islam sendiri.
    Mungkin lain kali SitusWahab akan membahas pula tentang kode etik ini dengan uraian yang lebih lengkap.
  6. Timbangan baik-buruknya harus tepat. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk berpikiran sempit dan emosional, tapi memandang jauh ke depan dengan rasio yang sehat. Tidak selamanya kekerasan harus dibalas kekerasan. Tiap perjuangan fisik harus dipikirkan dulu efek yang mungkin disebabkan ke depannya nanti. Jangan sampai setelah perjuangan fisik dilakukan malah citra umat Islam tercoreng dan dakwah-dakwah yang telah dibangun dengan baik malah hancur percuma karena sebagian orang Islam sendiri, apalagi non-Muslim, merasa ngeri terhadap ajaran agama Islam.
    Ada kaidah penting yang telah diajarkan turun-temurun oleh pakar hukum Islam dalam hal ini, yaitu “Menolak kerusakan harus didahulukan dari mendatangkan manfaat baru“. Kalau pun harus ada kerusakan, maka ada kaidah “Bila harus ada dua kerusakan yang bersamaan, maka kerusakan yang lebih besar harus dihindari dengan cara memilih kerusakan yang lebih ringan“.

Itulah beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan jihad dalam arti perjuangan fisik, pembelaan diri, penyerangan dan pengorbanan diri. Bila satu saja diabaikan, maka bukan jihad yang terjadi, tapi semata teror dan unjuk kebodohan. Intinya, kalau mau jihad, jangan ngawur!!! Bukan hanya semangat yang harus berkobar, tapi ilmu juga harus dimatangkan.

Demikian, semoga coretan ala kadarnya ini bermanfaat.

Karya Asli Abdul Wahab

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

One Response to Mau Jihad ko’ Ngawur?!!! Tinjauan terhadap praktik pengeboman di Indonesia

  1. tuaffi mengatakan:

    Saya setuju..

    Padahal agama sudah mengajarkan kebaikan, tapi malah dicemari oleh tingkah pemeluk agamnya sendiri.😦 Jadi banyak yang takut sama orang muslim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s