Hikmah 9: Perbedaan Motivasi Hati


تَنوَّعتْ أجناسُ الأعمالِ لتنوُّعِ وارداتِ الأحوالِ

Beragamnya jenis amal ibadah karena beragamnya motivasi hati.

Motivasi hati (waridat al-ahwal) bisa berupa kesadaran ruhani dan makrifat rabbani. Motivasi seperti ini ada bermacam-macam. Masing-masing melahirkan suatu bentuk amal tersendiri. Misalnya, hati telah sadar akan keutamaan puasa sunah, maka secara otomatis akan menjadi pendorong untuk melakukan ibadah puasa sunah. Bila di hati telah timbul kesadaran tentang keutamaan bersikap lemah lembut, maka akan menjadi pendorong untuk timbulnya sikap lemah lembut dan begitu seterusnya. Tiap perbuatan lahiriyah selalu mengikuti kecenderungan-kecenderungan bathiniyah. Apabila batinnya telah cenderung pada hal-hal tertentu, maka raga pun akan terdorong untuk melakukannya.Sumber Asli: situswahab.wordpress.com

Sebaiknya seorang salik (penempuh jalan kesufian) mengikuti kecenderungan hatinya tersebut agar ibadahnya menjadi maksimal, bukan mengikuti kecenderungan hati orang lain. Semisal, seseorang dianugerahi kemantapan dan kesenangan untuk mengkhatamkan al-Qur’an melebihi kesenangannya melakukan ibadah lain, maka ikuti saja kemauan hati itu dengan banyak-banyak mengkhatamkan al-Qur’an. Tak perlu dia buru-buru ingin mengikuti langkah Guru A yang ahli wirid semalaman atau Guru B yang ahli belajar dan mengajar sehari semalaman penuh atau Guru C yang ahli puasa setiap hari atau Guru D yang ahli salat sunah ratusan rakaat tiap harinya dan sebagainya. Bila saja dia terburu-buru mengikuti langkah orang lain yang pada dasarnya dianugerahi motivasi hati yang berbeda oleh Allah, maka kemungkinan ibadah yang dia lakukan tidak akan maksimal.

Biarlah semuanya mengalir dengan sendirinya. Tekuni saja apa yang menjadi kecenderungan hatimu hingga nanti Allah memberimu kecenderungan hati untuk melakukan hal-hal yang lain lagi sebagai tanda tingkatanmu telah bertambah. Tatkala itu terjadi, tambahlah amalanmu dengan amalan lain yang sesuai dengan kecenderungan hati yang baru itu.

Namun demikian, imbauan untuk mengikuti kecenderungan hati ini hanya layak dilakukan ketika tidak ada arahan yang berbeda dari seorang Mursyid (guru tasawuf). Seandainya saja ada arahan yang berbeda darinya, maka arahan itulah yang harus dilakukan, bukan kecenderungan hatinya sendiri karena seorang Mursyid lebih mengetahui fase-fase riyadlah (penggemblengan diri) yang harus dilampaui muridnya hingga nantinya murid tersebut bisa naik ke tingkatan spiritual tertentu.

Keterangan lebih lanjut tentang ini akan ada dalam hikmah yang lain nanti pada kajian kitab ini, yaitu pada bagian “Indahnya amal perbuatan adalah buah indahnya motivasi hati”.

Karya Asli Abdul Wahab

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

One Response to Hikmah 9: Perbedaan Motivasi Hati

  1. anwar85 mengatakan:

    ikut ngaji disini pak ustadz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s