Wujudul Hilal Vs Imkanur Rukyah, mana yang paling tepat?


Sudah tahu yang dimaksud judul tersebut bukan? Ya, kali ini SitusWahab akan menulis tentang kriteria penetapan Idul Fitri yang dipakai oleh Muhammadiyah dan pemerintah bersama NU. Kedua patokan ini membuat Idul Fitri 1432 H atau 2011 M kemarin jadi berbeda. Bagi yang belum atau kurang paham, begini ceritanya:

Untuk menetapkan hari raya, pemerintah memakai patokan imkanur rukyah, yakni batas minimal hilal memungkinkan dilihat dengan pengamatan mata. Batas tersebut adalah 20 (dua derajat). Bila masih di bawah ketinggian 20 (dua derajat) ini, berarti secara teoritis hilal mustahil diamati dengan mata. Sebaliknya bila lebih, maka secara teoritis hilal sudah memungkinkan untuk diamati dengan mata. Perhitungan teoritis ini penting karena patokan pemerintah sebenarnya adalah rukyah (pengamatan mata), sedangkan hisab hanya membantu saja. Kalau ada yang melihat hilal berarti besoknya hari raya kalau tidak ada ya besoknya belum hari raya. Selengkapnya silakan baca ini.

Adapun Muhammadiyah– setidaknya sampai tulisan ini dibuat– memakai patokan wujudul hilal atau adanya hilal di atas ufuk. Patokan ini berarti berapa pun ketinggian hilalnya, meskipun nol koma sekian derajat, asal sudah di atas ufuk/horizon (gampangnya: hilalnya tenggelam belakangan dari matahari setelah waktu konjungsi) berarti malam itu sudah bulan baru atau sudah 1  Syawal sehingga besoknya hari raya bisa dilakukan. Dengan kata lain, patokan yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab murni sedangkan rukyah hanyalah pendukung saja yang tidak harus diperlukan. Yang penting adalah hakikat posisi hilal/bulan baru secara astronomis, tanpa mempedulikan hilal tersebut bisa teramati mata atau tidak.

Manakah di antara kedua patokan tersebut yang paling tepat? Untuk menjawabnya, perlu kajian dari sisi hadith dan rasio seperti berikut:

A. Kajian hadith terhadap penetapan hari raya.

Terlebih dahulu, marilah kita merujuk petunjuk Rasulullah Muhammad saw. dalam hal penetapan hari raya. Rasul bersabda dengan berbagai redaksi berikut:

  • صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُبِّىَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

Berpuasalah karena melihatnya, dan akhiri puasa karena melihatnya. Kalau terhalangi atas kalian, maka sempurnakan bilangan Sya’ban menjadi 30 hari. (Bukhari)

  • صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غمى عليكم فأكملوا العدد

Berpuasalah karena melihatnya, dan akhiri puasa karena melihatnya. Kalau terhalang awan atas kalian, maka sempurnakan bilangannya. (Muslim)

  • صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غمي عليكم الشهر فعدوا ثلاثين

Berpuasalah karena melihatnya, dan akhiri puasa karena melihatnya. Kalau terhalang awan atas kalian, maka hitunglah jadi 30 hari. (Muslim)

  • صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ حَالَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ سَحَابَةٌ أَوْ ظُلْمَةٌ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ عِدَّةَ شَعْبَانَ

Berpuasalah karena melihatnya, dan akhiri puasa karena melihatnya. Kalau di antara kalian dan hilal ada penghalang berupa awan atau kegelapan, maka sempurnakan hitungannya, yakni hitungan Sya’ban. (al-Nasa’i)

Selain redaksi itu masih ada redaksi lain, tapi sangat serupa sehingga rasanya tidak perlu semuanya disebutkan untuk menyingkat waktu.

Hadits-hadits di atas jelas menunjukkan bahwa bila hilal terlihat pada malam ke 30, berarti esok harinya sudah lebaran yang berarti puasanya hanya 29 hari saja. Akan tetapi, bila hilal masih tidak dapat terlihat pada malam ke 30 karena terhalang sesuatu, berarti esok harinya, yakni tanggal 30 masih harus berpuasa karena bulan yang bersangkutan harus digenapkan menjadi 30 hari.  Dalam kasus awal puasa berarti Sya’ban digenapkan 30 hari, dalam kasus akhir puasa berarti Ramadhan digenapkan 30 hari.

Dalam berbagai hadits di atas, yang oleh Rasulullah disebutkan sebagai penghalang melihat/rukyat hilal adalah awan (Ghamm atau Sahab), kegelapan (dhulmah) dan satu redaksi memakai kata (ghubbiya) yang artinya terhalang dalam arti umum tanpa menjelaskan objek apa yang menghalangi. Dengan begini berarti objek apapun yang menghalangi terlihatnya bulan, entah itu awan, kegelapan, kesamaran, atau silau sinar matahari serta terlalu tipisnya bentuk hilal–seperti bila tinggi hilal masih di bawah dua derajat–, berarti hilal dianggap belum terlihat dan karenanya jumlah puasa harus digenapkan 30 hari. Inilah yang menjadi landasan seluruh ormas Islam selain Muhammadiyah dan akhirnya dikuatkan oleh keputusan pemerintah pada sidang itsbat penetapan idul fitri tahun 2011 kemarin.

Berbeda dengan itu, Muhammadiyah tetap kukuh pada pendiriannya bahwa meskipun hilal tidak dan bahkan tidak mungkin terlihat, namun bila secara perhitungan/hisab sudah di atas ufuk/horizon setelah terjadinya  ijtimak/konjungsi, maka itu sudah berarti lahirnya bulan baru dan puasa tidak perlu digenapkan menjadi 30 hari, namun cukup 29 hari saja. Landasan yang dipakai–yang juga dimunculkan oleh perwakilan Muhammadiyah dalam sidang itsbat idul fitri tahun 2011 lalu–adalah redaksi hadits berikut:

  • الْهِلاَلَ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا. فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ

Kalau kalian melihat hilal, maka berpuasalah. Kalau kalian kalian melihat hilal, maka akhirilah puasa. Kalau terhalang awan atas kalian, maka perkirakanlah. (Ibnu Majah)

  • لا تصوموا حتى تروا الهلال ، ولا تفطروا حتى تروه ، فإن غم عليكم فاقدروا له

Janganlah kamu berpuasa Ramadhan hingga kalian melihat hilal dan janganlah kalian mengakhiri puasa hingga kalian melihatnya. Jika terhalang awan atas kalian, maka perkirakanlah. (Ibnu Hibban)

Redaksi di atas tidak menyuruh untuk menggenapkan puasa menjadi 30 hari, tapi memperkirakan atau menghitung hilal. Muhammadiyah memahami ini sebagai memperkirakan atau menghitung ada atau tidaknya hilal secara hakikat seandainya tidak ada penghalang. Dengan kata lain memakai hisab untuk memperkirakan hilal.

Tepat atau tidak pemahaman Muhammadiyah ini? Saya pribadi jelas mengatakan tidak tepat karena dua alasan. Pertama, pemahaman seperti ini berarti kontradiksi dengan hadits-hadits sebelumnya di atas.  Kedua, ada redaksi lain yang telah menjelaskan maksud “perkirakan” itu, yaitu:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا ثَلَاثِينَ

Berpuasalah karena melihatnya, dan akhiri puasa karena melihatnya. Kalau terhalang awan atas kalian, maka perkirakanlah jadi 30 hari. (al-Nasa’i dan Ibnu Hibban)

Jadi yang dimaksud adalah memperkirakan atau menghitung jumlah hari genap menjadi 30 hari. Pemahaman seperti ini berarti menafsirkan hadits dengan hadits lain, menafsirkan keterangan Nabi di satu tempat dan waktu dengan keterangan Nabi di tempat dan waktu lain sehingga semua cocok dan tidak ada pertentangan. Adapun pemahaman seperti yang dilakukan Muhammadiyah berarti menafsirkan hadits/keterangan Nabi dengan akal pikiran sendiri sehingga wajar bila hasilnya terlihat bertentangan dengan hadits lain. (Buat yang merasa Muhammadiyah, peace dulu….🙂 ini diskusi bro!).

Tetapi, pemahaman Muhammadiyah itu dapat dikuatkan dengan hadits berikut:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته وإن تشكوا لها فإن غم عليكم فأتموا ثلاثين

Berpuasalah karena melihatnya, dan akhiri puasa karena melihatnya. Kalau kalian ragu melihatnya, kalau terhalang awan atas kalian, maka sempurnakan hitungannya menjadi 30 hari. (Ahmad ibnu Hanbal)

Hadits di atas menyebut kalau ragu melihat hilal karena berbagai faktor, maka perlu menyempurnakan hitungan. Dengan kata lain, berarti kalau sudah tidak ragu lagi karena adanya bantuan teknologi saat ini yang sudah sangat canggih dan meyakinkan, maka tidak perlu lagi menyempurnakan hitungan jadi 30 hari, tapi cukup 29 hari saja. Sayangnya hadits dengan redaksi ini lemah karena di dalam jalur periwayatannya ada Hujjaj Ibn Arthoh yang lemah. Karena itu, hadits tersebut tidak bisa dipakai.

B. Kajian rasio tentang penetapan hari raya.

Yang di atas itu adalah kajian haditsnya. Lalu bagaimana dari sudut pandang rasionya? Bukankah kalau hilal sudah benar di atas ufuk/horizon setelah terjadinya ijtimak/konjungsi berarti sudah bulan baru? Bukankah melihat dengan kepala itu untuk tahu dan meyakini, sedangkan untuk tahu dan yakin itu sendiri tidak harus melihat bukan? Bukankah mata kepala bisa salah lihat dan orang yang bersumpah melihat bisa saja bohong atau keliru sedangkan perhitungan kontemporer menghasilkan pengetahuan yang meyakinkan? Bukankah bila menurut perhitungannya ramadhan hanya 29 hari tapi terhanyata harus puasa 30 hari berarti puasa di hari lebaran yang jelas diharamkan dan malah lebaran tanggal 2 Syawal yang aneh bin ajaib? Lagian bukankah Nabi sendiri keseringan puasa 29 hari saja?

Wuihh… banyak pertanyaan yang harus dijawab, jari sudah mulai capek, punggung mulai gak enak, tapi baiklah daripada saya tulis di postingan lain di SitusWahab ini, mending langsung di sini saja.😀

Memang benar bila sudah di atas ufuk setelah ijtimak berarti secara hakikat sudah bulan baru, tapi mulai kapan hitungan hakikat seperti itu dipakai dalam ritual agama Islam yang mudah dan memang dimudahkan untuk semua orang ini? Yang dipakai tak pernah yang hakikat-hakikat, tapi yang mudah saja, yakni yang teramati dengan mata kepala. Lihatlah bagaimana waktu zawalus syamsi (tergelincirnya matahari atau bergeser turunnya matahari dari titik tertingginya) yang menandakan awal waktu solat dhuhur! Ukuran yang dipakai bukan hakikatnya, tapi yang teramati oleh mata dari bumi ini. Oleh karena itu, ukurannya dengan berpindahnya bayang-bayang benda tegak lurus ke arah timur bukan dengan menghitung hakikat pergeseran matahari dari puncak tertingginya yang hanya sepersekian detik itu. Lihatlah juga ukuran waktu tenggelamnya lingkaran matahari di horizon yang jadi pedoman awal waktu maghrib! Yang jadi ukuran bukan lingkaran hakikat matahari, tapi lingkaran matahari yang tampak oleh mata manusia yang ukurannya lebih besar dari hakikatnya. Begitu pula harusnya hilal diperlakukan, meskipun secara hakikat sudah ada di atas ufuk, tapi bila tidak terlihat oleh mata, apalagi bila memang mustahil dilihat secara teoritis karena berada di bawah standar imkanur rukyah,  berarti hilal dianggap belum ada.

Untuk tahu memang tidak harus melihat dengan mata kepala, tapi petunjuk Rasul adalah rukyat/melihat dengan mata kepala, bukan lainnya. Tapi tentu saja, rukyat yang diterima hanyalah rukyat yang masuk akal dan benar, yakni yang tidak bertentangan dengan teori hisabnya. Kalau rukyatnya tidak masuk akal dengan mengatakan hilal di sebelah utara matahari padahal harusnya di selatan matahari, hilal sudah terlihat padahal mestinya tidak mungkin terlihat dan sebagainya, maka rukyat itu harus ditolak. Karena itu, rukyat dan hisab harus dipakai bersamaan sebagai cek kebenaran satu sama lain. Memakai rukyat saja memungkinkan salah, hisab saja juga tidak tepat secara agama. Pemakaian kedua metode hisab dan rukyat ini secara bersamaan akan berujung pada pedoman imkanur rukyah yang telah dipakai oleh pemerintah dan

Puasa 30 hari yang menurut hisab murni ramadhan-nya hanya 29 hari itu bukan berarti puasa di hari raya yang diharamkan karena yang diharamkan itu kalau sengaja puasa di hari yang diyakini sebagai hari raya, bukan pada hari yang diyakini masih termasuk bulan ramadhan. Dengan logika terbalik, berarti dapat dikata bahwa orang yang memakai hisab saja yang meyakini bahwa puasa 29 hari padahal belum ada rukyat berarti berlebaran di bulan puasa yang jelas diharamkan. Nah lo… Sebagian saudara saya, begitu pula beberapa orang lain bertanya-tanya karena pada bulan Syawal tahun 1432 H/2011 ini bulannya sudah terlihat besar meskipun hari raya hanya berlalu dua hari, tapi besarnya bulan seolah sudah berumur tiga hari? yang secara tidak langsung meragukan keputusan pemerintah yang berlebaran telat satu hari dari Muhammadiyah. Ya itu karena memang pada hakikatnya bulan saat itu sudah berlalu 3 x 24 jam (tiga hari), tapi sekali lagi yang dibuat patokan hari raya bukan hakikatnya, tapi tampaknya hilal oleh mata.

Satu lagi, memang benar bahwa kebanyakan puasa Nabi Muhammad hanya 29 hari saja dan hanya beberapa kali yang tercatat 30 hari. Tapi tentu ini bukan patokan, yang menjadi patokannya adalah petunjuk Nabi sendiri, bukan fakta bahwa di Arab sana dahulu pada masa Nabi hilal sering terlihat di malam ketiga puluh.

Intinya, sudah bukan jamannya lagi mempertentangkan hisab dan rukyat. Keduanya sama-sama punya kelemahan dan kelebihan, karena itu harus dipakai bersamaan untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing. Penggunaan keduanya secara bersamaan ada dalam teori Imkanur Rukyah yang selama ini dipakai oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam. Semoga kedepannya nanti semua ormas dan tokoh masyarakat sepakat untuk menjadikannya sebagai pedoman bersama hingga menjadikan semua golongan kompak dalam menetapkan hari raya, lebih-lebih dasar pendapat ini bisa dibilang sebagai yang terkuat dan paling komprehensif menampung semua dalil dan arahan Rasulullah. Akhirnya, bagaimana pun alasannya, kebersamaan dan kekompakan mengikuti keputusan terbanyak (pemerintah) tetap lebih indah.

Demikian dari saya, semoga bermanfaat.

*Catatan:

  • Yang dimaksud hisab dalam tulisan ini adalah hisab hakiki kontemporer.
  • Penyebutan NU dan Muhammadiyah sebagai ormas Islam tidak berarti menomorduakan ormas-ormas Islam yang lain, tapi semata karena keduanya adalah yang terbanyak dan untuk memudahkan klasifikasi dan penyebutan saja.

Karya Asli Abdul Wahab

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

8 Responses to Wujudul Hilal Vs Imkanur Rukyah, mana yang paling tepat?

  1. MUHAMMAD LATIF mengatakan:

    saya sangat senang membaca tulisan di atas..
    kalau boleh mengomentari, teori wujud hilal dan imkan rukyat semuanya benar..karena semua juga memakai dasar yang jelas dan dilakukan oleh orang2 yang berkopenten. jika wujud hilal didasar pada QS 10 : 5 dan Imkan rukyat pakai hadits yang sedah disebutkan, maka kita tak boleh dung menyalahkan salah satu teori tersebut..intinya karena kita jauh dijaman Rosul Muhammad SAW maka jangan merasa paling benar dan menyalahkan yang lain ( dalam hal ini teori wujud hilal dan imkan rukyat )
    kan kalau dijaman Rosul kita bisa bertanya kepada Beliau…hehe
    semua teori hasil penafsiran kita pasti ada kelebihan dan kelemahanya..
    dan inilah keindahan Islam saya rasa…subhanalloh….

  2. Jufri erdogan mengatakan:

    Memadukan Metode Hisab dan Rukiyah atau yang dikenal dengan imkanur rukyah adalah tidak tepat karena keduanya berbeda. Ketika sudah tejadi ijtimak maka otomatis terjadi pergantian bulan baru. Persoalan Hilal bisa dilihat atau tidak itu banyak faktor yang mempengaruhinya, kondisi alam,human eror, kemampuan teknologi dll. Kriteria hilal 2 derajat itu sangat tdk mungkin dilihat secara kasatmata menurut ahli astrinomi. Apalagi kriteria tersebut bukan menjadi rukun dan syarat pergantian bulan baru, tetapi ketika telah tejadi ijtimak/konjungsi maka secara otomatis pergantian bulan baru sudah terjadi. Angka nol,satu atau dua derajat atau 1,2,3,4,5 jam saudara percaya dan mempraktekannya dalam kehidupan. Tetapi saudara menafikannya ketika penentuan awal pergantian bulan baru seperti ramadhan atau syawal…

    • Abdul Wahab mengatakan:

      terimakasih atas tanggapannya yang sangat baik.

      untuk diperhatikan, tidak ada yang menafikan angka nol, satu dan seterusnya.

      menggunakan imkanur rukyah bukan menafikan hisab loh. beda itu. yang benar adalah memadukan antara kaidah hisab dengan rukyah. saya tahu betul kalau angka-angka itu valid karena saya mempelajarinya dan membuktikannya, tapi menjadikan angka-angka perhitungan sebagai patokan tertinggi sehingga menafikan petunjuk Hadis Nabi tidaklah bijak. alangkah baiknya kalau keduanya dipadukan.

      yang perlu diingat adalah petunjuk Nabi bahwa puasa dimulai dengan MELIHAT hilal, bukan dengan ADANYA hilal sehingga para ahli falak dari jaman dahulu tidak serta-merta menafikan rukyah kecuali sebagian kecil dari mereka. petunjuk Rasul tetap dijadikan patokan utama.

      kalau anda meyakini bahwa “melihat” itu bisa diganti dengan “mengetahui”, maka itu hak anda, tapi itu penafsiran lemah menurut kaidah ilmu hadis sehingga saya dan kebanyakan orang tidak mau mengartikan demikian dan memilih menggunakan keduanya bersamaan.

      sekedar perbandingan, waktu salat dhuhur dimulai ketika matahari melewati puncaknya dan secara matematis bisa ditentukan seketika matahari melewati posisi tertingginya sepersekian detik, tapi sahkah salat dhuhur pada waktu itu? tidak sah karena pedomannya bukan hakikat pergeseran posisi matahari, tapi pergeseran posisi matahari yang terlihat melalui mata telanjang yang diketahui melalui bayangan benda yang mulai bergerak ke arah timur. itu berarti selisih beberapa saat dari waktu pergeseran matahari yang hakiki. sederhana tapi penting untuk dibedakan.

  3. Ping-balik: Rukyah Hilal Ramadhan 2012 Via PC « Situsnya Abdul Wahab

  4. calon hacker mengatakan:

    saya bukan muhammadiyah tapi juga bukan orang nu,saya orang islam biasa,yang saya kurang sepakat dengan paparan diatas adalah tentang kata2 hakikat dalam menentukan sesuatu,baik itu waktunya solat atau lainnya,menurut saya pribadi jaman sekarang tak bisa disamakan dg zaman Nabi dulu,sangat masuk akal apabila di jaman Nabi segala sesuatu ditandai dengan pandangan mata telanjang karena memang peralatan modern tidak ada pada masa itu,tetapi apa itu kita pakai sekarang,rasanya terlalu naif apabila kita sangat textual memahami sebuah dalil,di jaman ini bahkan untuk sepuluh tahun yang akan datang pun sudah diketahui dengan PASTI hari dan tanggal beserta menit dan detiknya,demikian juga dengan waktu2 solat fardhu,semua sudah ditentukan bukan dengan mata telanjang tetapi dg hakikat yg dibantu oleh kemajuan ilmu pengetahuan,maka rasanya sangat aneh apabila kita masih “tidak mempercayai”hisab,dan saya ini sejalan dengan nash yang jauh lebih qhat’iy dari hadist yaitu alqur’an yang berbunyi :الشمس والقمر بحسبان ,saya rasa tidak salah kalau muhammadiyah memutuskan datang atau selesainya sebuah bulan setelah melakukan hitungan mendalam dengan ilmu hisab tentang itu,kalau memang salah yang mereka lakukan itu lalu mengapa ketetapan datangnya bulan dibulan2 yang lain yang juga tampa rukyat tidak anda salahkan,kan sama saja toh,..
    menurut saya rukyat adalah textual dan hisab adalah konstextual,terserah mana mau dipilih,tetapi menurut saya pribadi ini lebih dari sekedar textual atau konstextual,ini adalah kebersamaan,persatuan,dan jatidiri dari islam dan kaum muslimin,oleh karena itu kalau memang sama2 benar lalu mengapa tidak dicari kesepakatan kata,hari dan waktu saja,demi islam dan kaum muslimin…wallahu a’lam bis shawab…

    • Abdul Wahab mengatakan:

      anda benar, menolak hisab itu tidak mungkin. artikel saya di atas tidak menolak hisab, tapi menggunakan standar rukyat dalam melakukan hisab. artinya keduanya dipakai bersamaan. Ketika seseorang berpedoman pada hakikat wujudul hilal, berarti dia hanya memakai hisab ansich, tetapi bila memakai kaidah imkanur rukyah, berarti dia memakai hisab dan rukyah bersamaan. itu yang saya maksud.

      Dalam hitungan hisab yang biasa dipakai untuk jadwal sholat, biasanya stndar rukyat juga digunakan, tidak melulu berpatokan pada hakikat kejadian. misalnya: penentuan waktu maghrib tidak dihitung mulai persis tenggelamnya lingkaran matahari di horizon, tapi ditambah satu derajat karena ketika tidak ditambah, mata manusia tidak bisa mendeteksi bahwa matahari benar-benar tenggelam. Lingkaran matahari yang dimaksud juga bukan lingkaran matahari yang sebenarnya, tapi besar lingkaran matahari yang seperti dilihat mata telanjang. Dengan kata lain yang diperhitungkan bukan hakikat mataharinya, tapi lingkaran matahari semu yang berisi sinar menyilaukan di luar lingkaran hakikat matahari. Jadi, bila di jadwal disebutkan bahwa maghrib jatuh pada pukul 5.30, itu sebenarnya bukan waktu hakikat tenggelamnya matahari, tapi waktu tenggelamnya lingkaran semu matahari yang bisa dilihat oleh mata plus satu derajat.

      Dengan begitu berarti penentuan waktu shalat tersebut tidak memakai hisab melulu yang berdasarkan hakikat posisi benda-benda langit, tapi juga menggunakan standar rukyat (kemampuan visi mata telanjang) sebagai patokannya. Keduanya harus dipakai bersamaan. tekstual hadis dipakai dan ilmu pengetahuan modern dipakai juga.

      Maaf kalau terlalu panjang. wallahu a’lam.

      terima kasih kerelaannya untuk menanggapi.

  5. hadli rahman mengatakan:

    yang saya tdk mengerti kemarin….mengapa tdk diambil pendapat orang yg melihat hilal d 2 titik…d daerah jepara dan cekung jakarta…..
    klo pun seandaix hal itu berasan krn posisi hilal tdk mencapai 2 derajat apakah tdk kita memakai hadist nabi yg mnkala pd zaman rasul bhwa ada seorang badawi yg mmelihat bulan kemudin dia bersaksi dan persaksianx langsung d terim,a rasulullah…..mohon penjelasn dari antum ttg hadis ini……

    • Abdul Wahab mengatakan:

      Sebelumnya, terima kasih atas kunjungan anda.

      Sebetulnya kasusnya sama saja dengan prosedur penerimaan suatu hadis. Bila yang meriwayatkan tidak tepercaya maka riwayatnya gugur secara hukum. Atau bila yang meriwayatkan tepercaya akan tetapi matan (isi) hadis itu bertentangan dengan dalil yang lebih kuat atau akal sehat, maka isi hadis itu wajib diartikan lain yang paling sesuai.

      Dalam kasus pengakuan rukyah di Cakung dan Jepara ada kejanggalan yang membuatnya tertolak secara hukum, yaitu:
      1. Yang mengaku melihat hanya 2-3 orang padahal di lokasi itu pada saat itu ada banyak orang dari berbagai ormas yang merukyah tapi mereka semua mengaku tidak melihat atau paling tidak, tidak berani bersumpah. Di kasus Cakung malah unik karena hakimnya sendiri menolak untuk mengangkat sumpah orang yang mengaku melihatnya. Yang menyumpah adalah orang lain, ini juga cacat secara hukum.
      2. Secara akal sehat menurut perhitungan matematis yang valid tidak mungkin ada manusia yang bisa melihat cahaya hilal pada saat itu seperti yang telah saya jabarkan di artikel di atas.
      3. Anggap saja orang itu jujur dan dia bisa melihat hilal sewaktu orang-orang di sampingnya tidak ada yang bisa melihat karena orang yang bersangkutan tadi memiliki kemampuan penglihatan super seperti wali-wali Allah, maka pengakuannya juga tidak bisa diterima secara hukum karena ilmu syariat tidak dibangun dari hal-hal seperti itu. Seandainya hal sedemikian diperhitungkan, maka kacaulah seluruh batas-batas syariat.
      4. Anggap orang itu jujur, ada kemungkinan yang dilihatnya adalah objek angkasa lain.

      Itulah di antara alasan kenapa pengakuan melihat hilal di Cakung dan Jepara tidak bisa diterima.

      Adapun soal hadis yang anda sebutkan, kasus itu tidak bisa digeneralisir dalam semua peristiwa karena alasan2 berikut:
      1. Yang memutuskan menerima persaksian tunggal itu adalah Nabi yang sudah maklum (dari banyak hadis) dengan izin Allah seringkali tahu hal-hal gaib seperti isi hati orang, kejujuran dan kebenaran pengakuannya. Hal seperti ini juga terjadi pada sahabat Khuzaimah al-Anshari yang persaksiannya seorang diri oleh Nabi dihukumi seperti halnya persaksian dua orang. Pertanyannya, apakah pernah Nabi menginstruksikan umatnya untuk melakukan hal yang sama atau membolehkan mereka untuk memberikan pengkhususan seperti pada Khuzaimah al-Anshari? Tidak pernah. Karena itu jumhur ulama tidak membolehkan persaksian seorang saja meskipun ada hadis itu.
      2. Iklim dan kondisi geografis Madinah, apalagi di masa Nabi, jauh berbeda dengan kita yang di Indonesia. Kita yang di Indonesia saat ini hampir bisa dipastikan selalu melihat banyak awan di arah barat tempat matahari terbenam sehingga hilal relatif lebih samar bagi kita yang karenanya kemungkinan untuk salah lihat lebih besar. Belum lagi adanya polusi dan benda2 angkasa buatan manusia seperti pesawat (beserta efek gas yang dikeluarkannya yang biasanya membentuk garis tipis putih) yang bukan tidak mungkin mengecoh mata. Beda jauh dengan masa Nabi di Madinah dulu.
      3. Untuk diterima tidaknya sebuah persaksian ada persyaratan2 yang harus dipenuhi seperti terbebasnya dari kelemahan2 yang sudah saya sebut di atas.

      Setidaknya itu yang bisa saya jelaskan. Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s