Problema Pemahaman Sifat Mutasyabihat Allah


Sifat Mutasyabihat adalah sifat-sifat Tuhan yang sepintas menyerupai makhluk, seperti “Tangan Allah”, “Wajah Allah”, “Bersemayam di atas ‘arasy” dan sebagainya yang menurut arti dhahirnya menunjukkan Allah punya tangan, wajah dan anggota badan layaknya makhluk-makhluknya. Padahal sudah diketahui bahwa Allah tidak serupa dengan siapapun atau apapun yang diciptakan-Nya sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} [الشورى: 11]

“Dia tidaklah serupa dengan sesuatu pun dan Dia Maha Mendengar dan Melihat.”

Para teolog tak henti-hentinya berdebat tentang masalah ini, sebagian malah sampai melampaui batas dalam memahami ayat-ayat keserupaan Tuhan itu dengan mengatakan bahwa Allah itu punya bentuk jasmani; punya dua tangan, wajah dan lainnya serta Allah itu melakukan hal-hal yang biasa dilakukan makhluk seperti bersemayam, turun, naik, lari, tersenyum, bahagia, marah dan lain-lain dalam arti yang sebenarnya seperti disebutkan oleh dhahir beberapa ayat dan hadits. Dengan begitu maka Allah pasti bisa dilihat di akhirat.

Pemahaman mereka terhadap ayat dan hadits sangat literal/tekstual. Mereka kemudian dikenal sebagai Mujassimah (orang yang berkeyakinan bahwa Tuhan itu mempunyai jasad/bentuk fisik). Bahkan sebagian dari mereka ada yang keterlaluan sekali hingga berkata seperti ini: “Tuhannya gunung Uhud itu tidaklah lebih besar (secara fisik) dari gunung Uhud itu sendiri”. Para ulama kemudian sepakat bahwa golongan mujassimah ini adalah golongan sesat yang menodai kesucian Tuhan dengan menyamakannya dengan makhluk. Mereka telah meyakini Tuhan sebagai sosok yang hebat, beda dengan makhluk tapi punya jasad yang karenanya pastilah terjangkau, terukur dan butuh tempat sebagaimana para makhluk atau seperti mitos dewa-dewa dalam budaya Yunani yang hanya cocok sebagai hiburan itu.

Padahal Tuhan itu pastilah tak terjangkau akal atau indra, tak terbatas oleh ruang dan waktu bahkan oleh pengetahuan manusia. Kalau saja Tuhan tidak mempunyai sifat yang demikian, pastilah Dia punya banyak keterbatasan dan kelemahan hingga tak layak untuk disebut Tuhan. Persis seperti kisah dewanya orang Yunani kuno yang konon sering kalah melawan Hercules itu.

Golongan teolog lain terkesan lebih intelek dan lebih rasional. Mereka berpendapat bahwa Tuhan pastilah tidak sama secara mutlak dengan semua makhluk-Nya seperti ditegaskan ayat di atas. Mereka bilang bahwa semua sifat-sifat keserupaan harus ditakwil (ditafsirkan sebagai makna konotatif) dan tidak mungkin dipahami seperti arti dhahirnya/arti luarnya demi terjaganya sifat ketuhanan dari sifat-sifat kemakhlukan. Semisal contoh:

  • “Tangan Tuhan” tidaklah harus selalu diartikan sebagai “tangan”, tapi sering juga digunakan untuk merujuk makna “kekuasaan Tuhan”. Dalam konteks tertentu artinya bisa lain lagi, semisal ketika Allah berfirman yang artinya “Kedua tangan-Nya terbuka lebar”, artinya berarti belas kasih/anugerah-Nya terhampar luas.
  • “Wajah Tuhan” juga tak berarti harus dipahami bahwa Tuhan punya wajah tertentu, tapi juga bisa dipahami sebagai kemulyaan, keagungan atau dzat Tuhan itu sendiri.
  • “Tuhan senang/bahagia” tidak bisa dipahami bahwa Tuhan benar-benar bahagia secara emosional seperti halnya manusia, karena emosi merupakan sifat makhluk yang berubah-ubah dan menunjukkan kelemahan. Begitu pula dengan ungkapan “Tuhan murka/marah” tidak bisa dipahami sebagai tindakan emosional karena alasan yang sama. Senangnya Tuhan diartikan sebagai kemauan-Nya untuk memberikan pahala dan murkanya berarti kemauan-Nya untuk memberikan siksa.
  • Karena Tuhan tidak punya bentuk fisik, maka pastilah Dia tidak bisa dilihat oleh mata, baik di dunia maupun di akhirat karena apa yang dilihat oleh mata pastilah punya arah, tempat dan ukuran tertentu yang dalam kata lain mempunyai bentuk fisik sedangkan semua itu merupakan hal yang mustahil bagi Tuhan. Seluruh ayat atau hadits yang mengisyaratkan mungkinnya Tuhan dilihat di akhirat nanti harus ditakwil dan tidak boleh dipahami arti luarnya begitu saja.

Golongan ini oleh para rivalnya disebut sebagai Mu’aththilah (orang yang menyia-nyiakan sifat keserupaan Tuhan). Yang termasuk golongan ini adalah Mu’tazilah dan Jahmiyah; keduanya biasa dilabeli sebagai golongan sesat karena beberapa pendapat mereka, tapi yang jelas kasus ini bukan pikiran utama mereka. Menurut golongan ini, siapa pun yang tidak mau mentakwil berarti termasuk Mujassimah yang sesat. Menurut para Mujassimah, justru golongan inilah yang sesat karena mengabaikan begitu saja teks Qur’an dan hadits tentang sifat-sifat keserupaan, padahal sudah maklum bahwa Nabi Muhammad tidak hanya berbicara pada orang-orang intelek saja, tapi justru lebih banyak pada orang umum di majelis beliau. Meski begitu beliau tetap saja menggunakan istilah “Tangan Tuhan”, “Wajah Tuhan” dan sebagainya dan tidak khawatir ada yang salah paham.

Sebagian lain mencoba untuk berada di tengah kedua golongan “ekstrem” tersebut. Untuk gampangnya, kita sebut saja golongan ini sebagai golongan tengah/moderat. Golongan tengah tidak mau mentakwil atau dengan kata lain lebih suka mengartikan sifat keserupaan apa adanya tapi pada saat yang sama juga tidak mau disebut/digolongkan sebagai Mujassimah. Dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat, mereka melakukan tafwidl (memasrahkan maksud sebenarnya pada Allah semata). Tapi sudah maklum bahwa untuk berada murni di tengah itu sangat sulit dan biasanya hanya teori belaka. Kenyataannya, biasanya masih ada kecondongan ke salah satu titik ekstrem, tak terkecuali pada kasus ini. Jadi ada baiknya kita bagi golongan tengah ini menjadi dua, yaitu:

  1. Golongan tengah yang condong ke Mujassimah dan
  2. Golongan tengah yang condong ke Mu’aththilah.

Golongan tengah yang condong ke Mujassimah adalah mereka yang memahami ayat-ayat/hadits keserupaan sesuai makna dhahirnya, hanya saja mereka tidak menafsirkan lebih lanjut apa dan bagaimana yang dimaksud dan memasrahkan hakikatnya kepada Allah. Jadi menurut mereka, “Tangan Allah” adalah berarti tangan seperti biasa, tapi bentuk dan hakikatnya hanya Allah yang tahu. Jika dikatakan bahwa “Allah naik”, “Allah turun” ya berarti naik dan turun seperti biasa dipahami dari bawah ke atas dan dari atas ke bawah, tapi bagaimana caranya hanya Allah yang tahu, yang jelas pastilah dengan cara yang layak bagi-Nya. Jika Allah dikatakan “bersemayam di ‘Arasy” ya berarti bersemayam atau duduk atau bertempat, tapi dengan cara misterius yang layak bagi keagungan-Nya dan pastinya beda dengan makhluk. Ibnu Taymiyah dan para pengagumnya termasuk dalam golongan ini. Para rivalnya biasanya mencap mereka sebagai mujassimah karena keserupaan konsepnya, tapi sebenarnya ada bedanya.

Karena sifatnya yang tekstual, maka golongan ini tetap meyakini bahwa Allah bisa dilihat oleh mata kelak di akhirat sesuai dengan dhahir ayat atau hadits. Meski begitu mereka enggan menyetujui kalau disebut bahwa dengan bisa dilihat mata berarti Allah itu punya bentuk fisik yang berarti terbatas, terukur, punya arah tertentu dan butuh pada tempat. Menurut mereka, bisa dilihat mata tidak mengharuskan hal yang demikian, yang jelas Allah bisa dilihat sesuai petunjuk Allah dan Rasul tapi entah bagaimana caranya.

Golongan berikutnya, yaitu golongan tengah yang condong ke Mu’aththilah. Mereka adalah golongan yang pada dasarnya tidak berkomentar apa-apa terhadap ayat atau hadits mutasyabihat. Ayat atau hadits tersebut dipakai apa adanya tanpa memberikan arti tertentu yang lebih mendalam karena pada hakikatnya hanya Allah yang tahu.

Jadi golongan ini sejatinya melakukan tafwidl yang porsinya lebih daripada golongan tengah yang condong ke Mujassimah. Hanya saja, ketika golongan ini “terpaksa” mengkongkritkan pendapat mereka atau dipaksa menjelaskan lebih jauh tentang makna ayat/hadits keserupaan, maka biasanya mereka lebih memilih mentakwil daripada terjebak dalam dugaan sebagai mujassimah. Toh bagaimana pun juga mentakwil punya dasar yang sangat kuat dari sudut kajian bahasa karena sebagaimana sudah dimaklumi, dalam bertutur kata adakalanya digunakan istilah denotatif dan adakalanya digunakan istilah konotatif. Baik denotatif yang lebih literal ataupun yang konotatif yang berarti takwil keduanya adalah gaya bahasa yang sederajat. Dari sudut rasio, mentakwil adalah pilihan paling rasional dan paling menjaga kesucian sifat Tuhan dari keserupaan dengan makhluk.

Dari segi kuantitas, tampaknya golongan tengah yang condong pada Mu’aththilah ini yang paling banyak diikuti. Golongan terakhir ini menyebut diri mereka sebagai Ahl al-Tanzih (orang yang menyucikan sifat Tuhan dari keserupaan). Sedangkan para rivalnya seringkali menyebut mereka sebagai Muaththilah karena kemiripan konsepnya meski sebenarnya ada perbedaannya. Kadang rival yang sikapnya keras langsung saja tanpa ampun mencap golongan ini sebagai Jahmiyah atau Muktazilah meskipun jelas bedanya selangit. Yah… begitulah tipikal orang-orang keras, asal mencap.

Karena basisnya sama-sama tekstual, maka dalam soal kemungkinan melihat Allah dengan mata kepala di akhirat nanti, golongan ini berpendapat sama dengan golongan yang agak condong ke Mujassimah, yaitu Allah bisa dilihat dengan mata kepala kelak di akhirat meskipun mereka tetap meyakini bahwa Allah tidak punya bentuk fisik. Ini juga yang membedakan golongan ini dengan Muaththilah sejati. Dalam kasus ini tampak sekali dualisme golongan tengah ini dalam berlogika karena secara logis, mata manusia hanya dapat melihat sesuatu yang terukur, terjangkau dan terbatas sedangkan Allah pastilah tidak demikian adanya, tapi pada saat yang sama mereka tetap keukeh bahwa Allah bisa dilihat dengan mata kepala di akhirat nanti hanya saja dengan cara yang tak dapat terjangkau akal.

Hal lain yang menarik untuk disimak adalah sanggahan kelompok yang menolak takwil kepada yang menggunakan takwil. Mereka berargumen bahwa takwil tidak menyelesaikan masalah keserupaan dengan makhluk, hanya mengalihkan perhatian saja. Kalau saja dibilang bahwa “Yadullah/Tangan Allah” tidak boleh dipahami sebagai tangan karena serupa dengan makhluk sehingga harus dipahami sebagai “Kekuasaan Allah”, maka bukankah makhluk juga punya kuasa? tetap serupa bukan? kalau saja di jawab demikian: “Tapi kan kekuasaan Allah beda dengan kekuasaan makhluknya”, maka apa salahnya juga bila dibilang “Tangan Allah juga beda dengan tangan makhluk-Nya”? Jadi, jika ditakwil tetap saja ada keserupaannya, lalu buat apa ditakwil? Mendingan langsung saja ikut istilah Allah dan Rasulnya sendiri apa adanya tanpa ditakwil-takwil. Ada benarnya juga argumen ini.

Di sisi lain, kelompok penganjur takwil menyanggah penolak takwil dengan alasan yang juga ada benarnya. Menurut mereka, menolak takwil dan memahami ayat apa adanya sangat berbahaya bagi akidah karena dapat mengesankan bahwa Allah itu punya bentuk fisik yang jelas-jelas mustahil. Orang-orang, khususnya yang awam, akan salah paham dan bisa-bisa membayangkan bentuk dan rupa Allah yang dalam beberapa ayat dan hadits disebut sebagai punya dua tangan, jari-jari dan wajah, punya ekpresi senang dan marah, berjalan, berlari, menggenggam, mendekat, menjauh, bersemayam, naik ke ‘arasy dan turun ke langit bumi dan sebagainya. Seandainya dibiarkan begitu saja, sangat besar kemungkinan akan banyak orang yang salah paham dan tersesat hingga dibutuhkan takwil yang meski bukan opsi ideal tapi setidaknya yang terbaik.

Ya begitulah pemahaman, bisa berbeda-beda sesuai kecenderungan yang memahami. Sampai poin ini mestinya semua golongan, terutama yang saya istilahkan sebagai golongan tengah itu, saling mengerti sudut pandang masing-masing dan menganggapnya sebagai perbedaan yang wajar. Akan tetapi yang kemudian patut disesalkan ketika beberapa pihak dengan mudahnya menjustifikasi pihak yang tidak sependapat dengan label sesat dan kafir hingga terjadilah perang mental kafir-mengkafirkan dan sesat-menyesatkan.

Sekedar contoh, beberapa pengagum berat Ibnu Taymiyah di masa kini menjustifikasi tafsir Fi Dhilal al-Qur’an karya Sayyid Quthub sebagai tafsir sesat karena di dalamnya sang penafsir melakukan takwil terhadap ayat keserupaan meskipun ada jauh lebih banyak tokoh dari kalangan ulama, aktivis dan pejuang memuji-muji tafsir tersebut. Weleh weleh…. bisa-bisa Ibnu Abbas, sepupu Nabi bergelar Tarjuman Qur’an itu tergolong sesat juga. Masya Allah!!!. Yang kasar-kasar seperti itu baiknya gak usah didengerin saja. Manfaat dari mendengarkan mereka yang dengan mudahnya menyesatkan orang lain yang tak sependapat yang sejatinya sama-sama berpegang teguh pada al-Qur’an dan al-Sunnah Nabawiyah jauh jauh jauh lebih kecil dari potensi bahaya yang bisa ditimbulkan.

Tulisan ini sengaja dibuat dengan bahasa santai dan tidak mencantumkan footnote dan dalil-dalil mustasyabihat-nya juga tidak saya sebut satu persatu karena memang tidak ditujukan sebagai rujukan ilmiah. Sekedar diskusi santai saja.🙂 Karena alasan lain, saya sengaja menjauhi istilah-istilah yang kental dengan klaim seperti “pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah”, “kesepakatan seluruh ulama”, “keyakinan ulama salaf” dan sebagainya. Kalau anda membuka mata lebar-lebar tentu anda sadar bahwa tiap golongan pasti mengklaim kalau dia pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah karena hanya golongan ini saja yang kata Nabi akan masuk surga. Lagian masa ada yang berani ngaku bukan Ahlus Sunnah? Oon itu namanya🙂 Kalau ada yang bilang seluruh ulama sepakat itu berarti ulama golongannya sendiri saja, bukan seluruhnya beneran. Atau kalau ada yang mengklaim bahwa pendapatnya tentang masalah ini adalah keyakinan ulama salaf, itu cuma bener separuh karena ulama salaf ada yang mentakwil, seperti Ibnu Abbas dan ada, bahkan banyak, yang no comment.

Sudah cukup ah… kalau makin panjang takut ada yang marah🙂 lagian jari-jari rasanya sudah kriting. Sebagai akhir, dalam bahasan ini biasanya selalu ada nukilan dari Imam Malik ini, baik dalam tulisan yang pro takwil maupun yang anti takwil sebagai salah satu rujukan penting.

الِاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ وَالْكَيْفُ مَجْهُولٌ وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

Istiwa’ (bersemayam) itu sudah jelas, caranya yang tidak diketahui. Mengimaninya wajib dan menanyakan soal itu adalah bid’ah.”

Wallah a’lam bi al-shawab.

Karya Asli Abdul Wahab

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

4 Responses to Problema Pemahaman Sifat Mutasyabihat Allah

  1. Galang Lazuardy mengatakan:

    Saya malah baru baca sekarang. Keren banget.

  2. gkvfx mengatakan:

    “Wahaby dan king saud fulus” judul buku terlaris berikutnya. Tunggu penerbitannya.

  3. wak jo mengatakan:

    Yang menjadikan semua keadaan ini adalah karena cara pandang didalam pikir manusia. Allahpun menghendaki apabila manusia berlainan pendapat untuk mengembalikan semuanya pada AL quran. (QS. 4 ayat 59).

    Untuk bisa memahamkan makna Al Quran sejelas jelasnya, ALLAHpun juga telah mengirimkan Rasul2nya baik yang terkisahkan maupun Rasul yang tidak terkisahkan. (QS. 4 ayat 164).

    Dan ALLAHpun tidak akan mengutus seorang Rasulpun melainkan dengan bahasa kaumnya. (QS. 14 ayat 4). Tujuannya agar dapat menjelaskan Al Quran sejelas jelasnya. Dan untuk menjaga kesucian Al Quran.

  4. muhyiddin mengatakan:

    Allohu akbar lailahaiLLohu Allohu akbar waliLLahilhamdu, kalau sudah membahas sifat2 Alloh saya sangat takut kalau2 salah mengartikan atau membayangkannya takut kalau hal itu dapat menjadi syirik , Engkau Maha Pengampun ya Alloh ,ampunilah hambamu yang doif ini ya Alloh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s