Hikmah 8: Anugerah Jalan Makrifat.


إذا فتحَ لكَ وِجْهةً من التَّعرُّفِ فلا تبالِ معها أن قلَّ عملُكَ فإنه ما فَتَحَها لك إلا وهو يريد أن يتعرَّفَ إليكَ . ألم تعلم أن التَّعَرُّفَ هو مُورِدُهُ عليك والأعمال أنت مهديها إليه وأين ما تُهديه إليه مما هو مُورِدُهُ عليكَ

Jika Allah telah membukakanmu suatu orientasi makrifat, maka jangan lagi risaukan amal ibadahmu yang masih sedikit. Sesungguhnya Allah takkan membukakan jalan itu untukmu kecuali karena Allah sendiri hendak mengenalkan diri padamu. Tidakkah kau sadar bahwa makrifat itu Allah sendiri yang menyuguhkannya kepadamu sedangkan amal ibadah adalah suguhanmu kepada Allah? Di manakah posisi suguhanmu sendiri kepada Allah bila dibanding dengan suguhan Allah kepadamu?

Seorang salik (pencari kebenaran) hendaknya beribadah semaksimal mungkin agar terlepas dari jerat kelalaian diri hingga akhirnya bisa mencapai Tuhan. Namun, biasanya ada banyak hal yang menyebabkan seorang salik sulit untuk beribadah maksimal semisal: kejenuhan, kemalasan, berbagai kesibukan dan lain sebagainya hingga berkuranglah intensitas ibadah sunahnya, seperti: shalat dan puasa sunah, wirid, khulwah (kontemplasi) dan lain-lain. Namun meskipun kadang ibadah tidak terlalu banyak, dalam pencariannya seorang salik biasanya mendapat suatu pengalaman yang berorientasi pada makrifat.

Makrifat untuk mudahnya bisa diartikan sebagai kesadaran diri tentang suatu hakikat tersembunyi yang bisa mendekatkan diri kepada Allah. Makrifat merupakan tujuan utama dan impian tertinggi para salik. Orang yang telah mencapai makrifat disebut sebagai al-‘Arif. Ada banyak pengalaman yang berorientasi pada makrifat, misalnya: sakit, kemiskinan, kezaliman dari orang lain dan berbagai ujian lain yang pada esensinya justru berpotensi mengangkat derajat seorang hamba.

Contoh: Bila seorang salik dari lubuk hatinya sadar bahwa sakit yang diderita adalah batu loncatan untuk menggapai tingkat yang lebih tinggi karena pada hakikatnya sakit dapat menghapuskan dosa (sebagaimana disabdakan Rasul) dan sakit juga dapat meningkatkan kesabaran, maka berarti salik tersebut telah mendapat satu anugerah makrifat yang bernilai jauh lebih utama dari sejumlah banyak ibadah ragawi.

Allah telah berfirman dalam sebuah hadith qudsi:

إذا ابتليت عبدي المؤمن فلم يشكني إلى عواده أنشطته من عقالي وأبدلته لحماً خيراً من لحمه ودماً خيراً من دمه وليستأنف العمل

Bila Aku menguji hambaku kemudian dia tidak mengeluh padaku untuk kesembuhannya, maka akan kulepas dia dari jeratan ujianku dan kuganti dagingnya dengan daging yang lebih baik dan darahnya dengan darah yang lebih baik (menjadi manusia baru yang masih suci) dan (seraya kukatakan padanya) “mulailah amal ibadahmu lagi”.

Imam Muhammad bin Ali al-Turmudzi pernah bercerita:

Dulu aku pernah sakit. Tatkala sudah sembuh, aku membandingkan pelajaran yang dianugerahkan Allah dari sakitku dan ibadah ragawiku waktu itu lalu aku berkata dalam hati: “Manakah yang kupilih antara mengalami sakit dan ibadah ragawi yang banyak dalam waktu yang sama?” Maka aku yakin sekali dan mata hatiku pun setuju bahwa pilihan Allah itu lebih mulya, lebih membekas dan lebih bermanfaat, yaitu sakit yang ditimpakan Allah itu….. Kemudian bagiku sakit menjadi nikmat, nikmat pun menjadi anugerah, anugerah pun menjadi angan dan angan pun menjadi kasih. Aku berkata dalam hati: “Dengan inilah para Arif itu terus menerus dalam ujian hebat, tapi jiwanya tetap tenang bersama Tuhan. Dengan terungkapnya kesadaran kebenaran ini, mereka merasa bahagia menghadapi ujian berat.

Karena pengalaman yang berorientasi makrifat seperti itu didapat murni dari anugerah Allah atas hamba-Nya, maka bernilai jauh lebih utama daripada pencarian hamba itu sendiri terhadap kebenaran. Maka hendaknya setiap kesulitan hidup menjadi pelajaran tersendiri yang istimewa karena di balik tiap ujian ada potensi kemakrifatan yang bernilai jauh lebih besar dari ibadah dalam jumlah banyak. Karena itu, para ‘Arif  biasanya sering terlihat tidak begitu istimewa dalam hal ibadah ragawinya, tapi mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah. Sedikit amal ibadah ragawi yang disertai makrifat, jauh lebih bernilai dari banyaknya amal ibadah ragawi yang tidak disertai makrifat.

Catatan:

Makrifat dicapai melalui kesadaran diri (intuisi/dzauq), bukan dari pengetahuan akal. Jadi, misalnya seseorang tahu dari orang lain bahwa sabar menerima sakit, kemiskinan, dan beragam ujian lain yang menimpa adalah hal yang pada hakikatnya lebih utama untuknya dari ibadah ragawi, orang itu masih belum bisa disebut memperoleh kemakrifatan kecuali kalau pengetahuan itu berubah menjadi kesadaran dari lubuk hati terdalam. Tanda kesadaran itu telah muncul adalah manakala ada ketenangan hati menerima semua keputusan Allah terhadapnya. Wallahu a’lam.

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

6 Responses to Hikmah 8: Anugerah Jalan Makrifat.

  1. bambang soeparyono mengatakan:

    alhamdulillah, terima kasih. dg adanya ulasan ttg makrifat menjadi lebih bertambah wawasan.

    • Abdul Wahab mengatakan:

      syukron atas kunjungannya.

  2. zidan mengatakan:

    apakah ada aplikasi syarah al-hikam. Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan trimakasih.

    • Abdul Wahab mengatakan:

      Saya menyarankan Maktabah Syamilah untuk itu. di sana tersedia beberapa syarah kitab al-Hikam. Data kitabnya juga bisa anda tambah sendiri dengan download.

      Kalau ingin aplikasi yang lebih sederhana seperti ebook, setahu saya ada beberapa, silakan cari di Google dengan kata kunci seperti شرح الحكم العطائية dan sebagainya.

      Untuk yang edisi syarah bahasa Indonesia, saya belum pernah menemukan aplikasi ataupun ebook-nya. karena itulah saya tergerak menulis kajian ini dengan segala keterbatasan yang ada.

      Semoga bermanfaat.

  3. INGIN JADI HAJI mengatakan:

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM . AKU NIAT HIDUP KARENA ALLAH SWT. DAN AKU IKHLASKAN DUNIA KARENA ALLAH SWT. ALLAHUMMA SOLLI ‘ALA MUHAMMAD WA ALA ALIHI MUHAMMAD. ASTAGFIRULLOHAL ADZIM. LA HAULA WALA KUWWATA ILLA BILLAHIL ADZIM. AMIN.

    • Abdul Wahab mengatakan:

      amin ya rabbal alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s