Sudah tepatkah cara Anda membandingkan sesuatu?


Kita seringkali membandingkan sesuatu. Bagaimana cara anda membandingkan sesuatu? Apakah sudah dilakukan secara tepat? Atau secara sembrono? Tulisan ini akan membuat Anda lebih jeli lagi dalam membandingkan sesuatu.

Cara banding yang keliru dapat membuat kesimpulan yang keliru juga. Banyak orang yang membandingkan dua hal dengan pertimbangan yang tidak jeli. Konsekuensinya kesimpulan yang didapat tidak dapat dipertanggung-jawabkan. Meskipun terkesan sederhana, cara anda membandingkan dua hal dapat menunjukkan tingkat kecerdasan anda.

Ada beberapa hal yang perbandingannya mudah dilakukan, seperti: manakah yang lebih tinggi antara si A dan si B. Namun, ada juga perbandingan yang menuntut pemikiran yang teliti.

Sekedar contoh, kita lihat bagaimana cara Anda membuat perbandingan pada kasus berikut:

Anton dan Basri sama-sama mahasiswa tingkat IV. Anton sering mendapat nilai A dari dosennya, sedangkan Basri mendapat nilai B. Siapakah yang lebih pintar antara Anton dan Basri?

Golongan pemikir tingkat bawah akan menjawab bahwa Anton lebih pandai dari Basri karena nilainya sudah jelas.

Golongan pemikir tingkat menengah akan mempertimbangkan beberapa faktor lain, antara lain:

  1. Mungkinkah Anton mencontek?
  2. Mungkinkah Dosennya pilih kasih?
  3. dan lain-lain yang tampak.

Golongan pemikir tingkat tinggi akan mempertimbangkan banyak faktor lain yang rumit sebelum memberikan jawaban. Faktor-faktor atau variable yang dipertimbangkan akan menentukan jawabannya nanti. Jawaban dari golongan ini bergantung pada pertimbangan terhadap faktor luar tersebut. Faktor-faktor itu seperti:

  1. Apakah Anton dan Basri tinggal di jurusan yang sama atau berbeda jurusan?

Perbedaan jurusan akan menyebabkan perbedaan pelajaran yang diikuti. Tiap orang punya kemahiran hanya pada bidang tertentu saja, tidak pada semua bidang. Karenanya, seorang yang pintar sekaligus akan mendapat nilai yang jelek ketika mengikuti pelajaran yang bukan termasuk kemahirannya. Begitu juga sebaliknya.

  1. Apakah keduanya diajar oleh Dosen yang sama?

Tipikal dosen berbeda satu sama lain. Ada yang mudah memberi nilai bagus, dan ada pula yang sulit memberikannya. Orang yang pintar sekalipun, sulit mendapat nilai bagus ketika dihadapkan pada dosen yang pelit nilai. Berlaku juga sebaliknya.

  1. Apa pekerjaan mereka?

Kesibukan seseorang di luar bangku kuliah mempengaruhi aktifitasnya di dalam kampus. Seorang mahasiswa yang pintar sekalipun tetap sulit mendapat nilai yang bagus karena sering kehabisan waktu atau kelelahan. Begitu pula sebaliknya.

  1. Bagaimana tingkat sosial orang tua mereka?

Seorang pelajar yang berasal dari keluarga kaya cenderung tercukupi gizinya daripada pelajar yang berasal dari keluarga kurang mampu. Asupan gizi seseorang mempengaruhi daya tahan dan fitalitasnya. Pelajar yang mendapat gizi yang cukup akan lebih santai, sehat dan punya kemampuan yang lebih baik dibandingkan yang tidak. Orang yang pandai tetapi tidak mendapatkan gizi yang memadai tidak akan maksimal dalam menggunakan kepandaiannya. Begitu pula sebaliknya.

  1. Bagaimana kesesuaian antara jurusan yang mereka pilih sekarang dengan latar belakang sekolah mereka sebelumnya?

Seseorang yang memilih jurusan sesuai dengan latar belakang mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri dan mendapatkan nilai yang bagus, meskipun pada dasarnya dia biasa-biasa saja. Sebaliknya, seseorang yang masuk kepada jurusan yang berlainan dari latar belakang pendidikannya, akan mendapatkan kendala yang berat di kelas, meskipun dia pandai.

  1. Bagaimana minat mereka terhadap mata pelajaran tertentu?

Minat seseorang mempengaruhi nilai yang diperoleh. Kepandaian seseorang tidak akan muncul di kala berhadapan dengan pelajaran yang tidak disukainya. Begitu pula sebaliknya bagi orang yang biasa saja.

  1. Bagaimana kedekatan mereka terhadap dosen-dosen mereka?

Kedekatan seorang mahasiswa/pelajar dengan guru/dosen mereka dapat mempengaruhi nilai yang didapat. Seorang pelajar yang pandai dapat dikalahkan nilainya oleh pelajar berkemampuan biasa yang punya hubungan lebih dekat dengan guru/dosennya.

  1. Apakah guru/Dosen yang mengajar banyak menentukan faktor luar sebagai bagian dari nilai?

Banyak guru/dosen yang menentukan faktor di luar kepandaian sebagai penentu nilai, semisal absensi, kesopanan, tugas dan sebagainya. Seorang siswa yang pandai belum tentu mendapat nilai yang baik bila faktor-faktor luar yang ditentukan gurunya tidak dipenuhi. Begitu pula sebaliknya.

Ada perbedaan yang jelas antara perbandingan yang dilakukan dengan teliti dan perbandingan yang sembrono. Pada contoh di atas, dijelaskan perbedaan-perbedaan antara kesimpulan yang diambil dari perbandingan yang tidak jeli dengan perbandingan yang jeli. Perbandingan yang jeli menuntut kemahiran berpikir yang komplek, meskipun pada hal yang kelihatan sederhana.

Kesalahan membuat perbandingan disebabkan terlalu sedikitnya variable yang digunakan sebagai penentu kesimpulan. Semakin banyak variable atau faktor yang menjadi pertimbangan, maka semakin tepat kesimpulan yang didapat.

Perbedaan-perbedaan yang terlalu besar menyebabkan dua hal tak dapat dibandingkan, meskipun kelihatan serupa. Dalam contoh di atas sepintas ada kesamaan antara Anton dan Basri, yaitu sama-sama mahasiswa semester IV. Namun ternyata bila diteliti, bisa saja ada perbedaan yang menyolok antara keduanya. Semakin banyak perbedaan antara dua hal semakin tidak pantas dua hal itu dibandingkan. Perbandingan hanya dapat dilakukan pada dua hal atau lebih yang mempunyai banyak kesamaan dan bukannya pada hal yang mempunyai banyak perbedaan. Kalaupun dipaksakan, maka kesimpulan yang didapat dapat mengandung kesalahan. Contohnya:

  • Siapakah yang lebih pandai antara dokter spesialis jantung dan dokter spesialis mata?
  • Siapakah yang lebih tampan antara remaja Afrika dan remaja Eropa?
  • Daerah manakah yang lebih menarik antara pantai dan pegunungan?
  • Manakah yang lebih utama antara ulama (agama) dan ilmuwan (umum)?

Ketiga contoh di atas membandingkan dua hal yang jelas berbeda. Tidak seharusnya keduanya dibandingkan karena masing-masing punya wilayahnya sendiri-sendiri. Perbandingan yang variable pembandingnya terlalu jauh juga dapat menjadi penghinaan, seperti:

Manakah yang lebih mulia antara Raja dan kotoran sapi?

atau perbandingan yang tidak sopan tapi sering dianggap lumrah seperti :

Tuhan saja memaafkan kok kamu tidak?

Kemampuan anda dalam membandingkan dua hal dan menarik kesimpulan darinya dapat menjadi tolok ukur kemampuan berpikir anda.

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

2 Responses to Sudah tepatkah cara Anda membandingkan sesuatu?

  1. Ummu sarah mengatakan:

    terima kasih…….
    hmmmmmm bener…byk orang hanya ikut2an….tidak mau jeli..
    masak membandingkan Allah…dengan makhluknya….
    seperti kata suami temenku yg selingkuh…..
    “Allah saja mau memaafka hambanya yg bertaubat…..knp pean (istrinya) tidak mau memaafkan aku….”

    sang istri hanya bisa menahan sakit di dadanya……..

    • Abdul Wahab mengatakan:

      memang butuh kejelian dalam berpikir kalau hendak tepat dalam berkata dan menyimpulkan. terima kasih kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s