Religius Truth Claim; Klaim kebenaran agama, benar atau tidak?


Buku Fiqih Lintas Agama yang diterbitkan Paramadina beberapa tahun lalu dan banyak orang lainnya dari kalangan liberal mengatakan bahwa sebab utama dari konflik, khususnya konflik antar umat beragama, adalah adanya truth claim atau klaim kebenaran. Mereka lalu mengusulkan agar setiap golongan atau agama tidak merasa paling benar atau tidak bertingkah seolah memonopoli kebenaran. Menurut hemat penulis, argumen seperti ini dalam semua tafsirannya adalah tidak logis.

Klaim kebenaran adalah syarat utama adanya tiap pendapat. Tanpa klaim ini, tidak akan ada pendapat. Yang ada hanyalah keragu-raguan dan inkonsistensi. Bukankah bila dikatakan bahwa A itu benar, maka berarti secara logis juga dimaksudkan bahwa A bukan tidak benar dan bahwa siapapun yang mengatakan bahwa A adalah tidak benar adalah keliru. Bagaimanapun dalam pendapat si pengucap, kesimpulan yang berlainan dari ucapannya adalah keliru. Itulah hakikat dari klaim kebenaran. Menolaknya berarti mengakui kebenaran dua hal yang bertentangan dalam waktu bersamaan; mengakui benar dan salah, ya dan tidak, baik tidak baik dalam waktu yang sama. Ini sangat tidak logis.

Karena klaim kebenaran merupakan syarat mutlak adanya pendapat, maka setiap orang yang berargumen, tak terkecuali argumen yang menolak truth claim, adalah selalu melakukan truth claim. Dari sinilah berbagai perbedaan muncul. Tetapi, perbedaan-perbedaan itu tidak identik dengan konflik meskipun acap kali memang menimbulkan konflik. Yang harus diperhatikan adalah bahwa konflik berasal cara-cara yang salah dalam menanggapi perbedaan, bukan murni dari perbedaan itu sendiri. Pada titik inilah toleransi menemukan tempatnya yang layak.

Sungguh menarik, penganut toleransi ekstrim ala Buku Fiqih Lintas Agama biasanya menukil pernyataan yang populer dari Imam Syafi’i yang isinya:

قولي صواب يحتمل الخطاء و قول غيري خطاء يحتمل الصواب

Pendapatku adalah benar yang mungkin saja salah. Pendapat orang lain adalah salah yang mungkin saja benar.

Pernyataan di atas sama sekali tidak dapat dijadikan landasan untuk menafikan truth claim karena jelas sekali bahwa Imam Syafi’i hanya meyakini bahwa pendapatnyalah yang benar dan pendapat orang lain adalah salah, tetapi hanya saja dia tidak menutup kemungkinan bahwa dia sendiri salah. Ini menunjukkan toleransi tinggi tetapi tetap di bangun di atas truth claim.

Pepatah kuno mengatakan bahwa banyak jalan menuju Roma, ini adalah benar. Namun, banyak orang lupa bahwa justru jauh lebih banyak jalan yang tidak menuju Roma. Asal jalan saja tidak akan membawa Anda ke Roma. Memang benar banyak terdapat agama yang menuju Tuhan, tetapi dalam keyakinan Islam, tidak semua agama akan betul-betul sampai pada Tuhan, melainkan hanya satu agama saja, Islam. Allah berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون[1]

Sesunguhnya ini adalah (satu) jalan raya-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan kecil (yang lain) karena jalan-jalan itu akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

Berpikir inklusif dalam beragama hanya akan membuat seseorang berada pada titik netral agama, sebuah titik yang tidak dapat diakui oleh kitab suci dan ajaran umum dalam agama manapun. Karenanya, wajar bila Micea Eliade mengomentari inklusivisme sebagai “logically an unstable position”.[2] Berpikir demikian sama saja dengan mengorbankan hal yang sangat penting (akidah beragama) untuk hal yang kurang penting, bahkan boleh dibilang percuma karena misalnya seorang Kristiani tidak akan merasa terhormat ketika dirinya disebut sebagai “muslim generik” atau telah berislam secara “generik” seperti yang diistilahkan oleh buku Fiqih Lintas Agama. Demikian juga Muslimun, mereka tidak akan merasa lebih senang ketika seorang Karl Rahner menyarankan untuk menyebut diri mereka sebagai “anonymous Christians”.[3]Masing-masing mereka akan lebih bangga dan senang bila dihormati dan dihargai sesuai dengan identitas yang mereka yakini.


[1] Al-Qur’an, 6 (al-An’ām): 153.

[2] Eliade, Mircea, et al. (ed), The Encylopedia of Religion, New York: Collier Macmillan Publishers, 1987, XI, 331.

[3] ibid, XI, 331.

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s