Islam dan dorongan untuk menjadi pemikir


Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS. Shaad, 38: 29). Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir.[1]

Dalam Al Qur’an dapat kita temukan 75 ayat yang menyebutkan secara jelas tentang berpikir dan orang-orang yang berpikir atau menggunakan akalnya.[2] Kesemuanya menunjukkan dengan jelas betapa Allah ingin agar manusia menggunakan potensi akalnya dengan sepenuhnya. Berikut ini adalah sebagian dari berbagai hal yang hendaknya dipikirkan manusia:

  • Memikirkan penciptaan diri sendiri.

“Dan berkata manusia: “Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali?” Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali?”[3]

  • Allah mengajak manusia untuk memikirkan tentang penciptaan alam semesta

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”[4]

  • Allah mengajak manusia untuk memikirkan sifat kehidupan dunia yang sementara

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.”[5]

  • Allah mengajak manusia untuk memikirkan nikmat-nikmat yang mereka miliki

“Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”[6]

  • Allah mengajak manusia untuk berpikir bahwa seluruh alam semesta telah diciptakan untuk manusia

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.”[7]

  • Allah mengajak manusia untuk memikirkan tentang dirinya sendiri

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?” [8]

  •  Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang akhlaq yang baik

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat.”[9]

  • Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang akhirat, hari kiamat dan hari penghisaban.

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin“[10]

  • Allah mengajak manusia untuk memikirkan makhluk hidup yang Dia ciptakan

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.”[11]

  • Allah mengajak manusia untuk memikirkan adzab yang dapat secara tiba-tiba menimpanya

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!”[12]

  • Allah mengajak manusia untuk berpikir tentang kematian dan mimpi

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.”[13]

Hal-hal tersebut di atas memberikan petunjuk bagi kita untuk memikirkan segala sesuatu. Tatkala Allah menganjurkan kita untuk memikirkan tentang unta, maka sebenarnya Allah menyuruh memikirkan semua hewan dengan cara yang radik. Hal ini berlaku untuk semua anjuran yang lain.

Seorang muslim yang mendayagunakan akalnya dengan maksimal akan sampai pada kesimpulan bahwa dalam kehidupan ini terdapat banyak sekali contoh adanya rancangan (design) yang disengaja dengan bentuk yang sangat rumit dan telah sempurna. Bahkan sel pembentuk suatu makhluk hidup memiliki rancangan yang sangat menakjubkan yang dengan telak mematahkan konsep “kebetulan.” Perancangan dan perencanaan yang luar biasa dalam kehidupan ini sudah pasti merupakan tanda-tanda penciptaan Allah yang khas dan tak tertandingi, serta ilmu dan kekuasaan-Nya yang Tak Terhingga.


[1] Harun, Bagaimana, 13.

[2] Jumlah ini didapatkan dengan menghitung jumlah kata yatafakkarūn, tatafakkarūn, ta’qilūn, dan albāb.

[3] Al Qur’an, 19 (Maryam): 66-67.

[4] Ibid, 2, (al-Baqarah): 164.

[5] Ibid, 10 (Yunus): 24.

[6] Ibid, 13 (ar-Rad): 3-4.

[7] Ibid, 45 (Al-Jaatsiyah): 13.

[8] ibid, 30 (ar-Rum): 8

[9] Ibid, 6 (al-An’aam): 152.

[10] Ibid, 3, (ali Imran): 30.

[11] Ibid, 16 (an-Nahl): 68-69.

[12] Ibid, 6 (al ‘An’am): 40.

[13] Ibid, 39 (az-Zumar): 42.

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

One Response to Islam dan dorongan untuk menjadi pemikir

  1. apri wahyu widodo mengatakan:

    sungguh besar kuasa Allah swt, Maha Kuasa atas apa yang ada di bumi. Makasih mas atas artikel nya, pasti bermanfaat sekali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s