Benarkah kita sudah belajar dan mengajarkan al-Qur’an?


Ketika seorang anak di jaman ini ditanya apakah dia sudah belajar Al Qur’an? Kemungkinan besar dia akan menjawab “sudah”. Ketika seorang wali santri ditanya apakah anda sudah mengajarkan Al Qur’an kepada anak anda? Kemungkinan besar dia akan menjawab “sudah”. Begitu pula ketika seorang guru mengaji diberi pertanyaan apakah yang anda ajarkan? Kemungkinan besar dia akan menjawab: “Al Qur’an”. Jawaban seperti itu biasanya dianggap benar, meskipun sebenarnya yang dipelajari dan diajarkan hanyalah cara membaca Al Qur’an, bukan mempelajari Al Qur’an.

Di sebuah buku panduan membaca Al Qur’an biasanya dituliskan sebuah Hadith tentang keutamaan mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya sebagaimana yang telah penulis kutip di depan. Kebanyakan orang mengira bahwa belajar membaca Al Qur’an itu sama dengan mempelajari Al Qur’an. Pemahaman ini berakibat banyak anak atau pemuda yang malas untuk mempelajari Al Qur’an lebih mendalam karena merasa ketika dia bisa membaca Al Qur’an dengan tepat, apalagi dengan lagu yang indah, maka seolah-olah dia telah menguasai pelajaran Al Qur’an.

Seseorang yang belajar membaca huruf latin dengan bantuan susunan huruf–huruf pada buku Biologi tidaklah dapat dikatakan bahwa dia telah belajar Biologi. Seseorang yang belajar membaca bacaan Al Qur’an tidaklah sama dengan seseorang yang mempelajari Al Qur’an.

Ada hadith yang bunyinya:

خيركم من قرأ  القرآن وأقرأه (الثقات ج: 9 ص: 225)

“sebaik-baik kalian adalah orang yang membaca Al Qur’an dan membacakannya”

(al-Tsiqat: IX/225)

Dalam memahami hadith ini perlu diingat bahwa mukhatab (orang yang diajak berbicara oleh nabi) dalam hadith itu adalah orang Arab. Ketika membaca tulisan Arab, mereka akan memahami maknanya. Ketika seseorang telah paham makna Al Qur’an, kemudian dia membacakannya atau menyampaikannya kepada orang lain, maka dia akan menjadi orang yang terbaik. Inilah yang dimaksud hadith tersebut.

Hadith tersebut tidak dapat dipahami bahwa orang yang sekedar membaca akan dapat posisi sebagai orang yang terbaik, karena orang yang hanya dapat membaca tidak mungkin membacakannya kepada orang lain. Kalaupun dia memaksa membacakannya, bisa saja dia membacakan ayat-ayat hukuman pembunuhan kepada orang yang sedang berduka karena kematian keluarganya akibat kecelakaan. Hal ini tidak cocok dan terdengar lucu.

Allah berfirman:

إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون

 [ الأنفال  2 ]

“Sesungguhnya orang-orang beriman ialah orang-orang yang bila disebut nama Allah maka  bergetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, bertambah imannya, sedang mereka itu bertawakkal kepada Tuhannya.”

Dapat dipahami dari ayat tersebut bahwa orang yang beriman itu seharusnya mengerti akan bahasa Al Qur’an. Bila dia tidak mengerti, maka dia tidak mungkin merasa gemetar ketika dibacakan ayatNya. Allah juga berfirman:

أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها  [ محمد  24 ]

“Apakah mereka tidak memperhatikan (isi) Al Qur’an atau apakah hati mereka terkunci?”

Perlu diperhatikan bahwa penulis tidaklah bermaksud mengatakan bahwa sekedar belajar membaca Al Qur’an tidak utama atau tidak mendapat pahala. Belajar membaca Al Qur’an ataupun membaca Al Qur’an tanpa tahu maknanya tetap mendapat pahala yang besar. Hanya saja harus diketahui bahwa belajar membaca Al Qur’an saja masih belum cukup untuk bisa mendapat pelajaran dari Al Qur’an sehingga menjadi orang yang terbaik seperti yang disebutkan nabi.

Para guru mengaji yang menyamakan antara membaca Al Qur’an dengan belajar Al Qur’an telah membuat kesalahan. Para murid atau orang tua murid akan merasa bahwa anaknya telah bisa dan menguasai Al Qur’an begitu mereka lulus, padahal mereka baru mendapatkan kulitnya saja. Tak heran bila hanya sedikit siswa yang berkeinginan mengenal Al Qur’an dengan mendalam.

Banyaknya kesalah-pahaman ini menyebabkan Al Qur’an kehilangan makna keagungannya dan hanya menjadi bacaan yang hampa. Bila seseorang membaca Al Qur’an tidak karena Allah, tetapi karena mengusir jin atau mencari pesugihan misalnya, akankah Allah akan memberinya pahala. Sesungguhnya keabsahan suatu perbuatan itu tergantung niatnya. Menurut pendapat yang ringan, yaitu dari Al Ghazaly, seseorang yang membaca Al Qur’an tidak sepenuhnya karena Allah tetap mendapat pahala sesuai kadar niatnya mengingat Allah, bila dia sama sekali tidak berniat karena Allah, maka dia tidak mendapat apa-apa. Menurut pendapat yang keras, dia sama sekali tidak mendapat pahala bila dalam niatnya bercampur dengan niat duniawi..

Kesemua hal yang penulis sebutkan di atas bukanlah hal yang terlarang, bahkan menurut penulis merupakan hal yang bagus, namun ketika hal itu menyebabkan orang-orang tidak sadar terhadap kandungan ayat-ayat Al Qur’an sebenarnya, maka sudah seharusnya diperingatkan. Tiap hal perlu diletakkan dalam bingkai yang sesuai.

Tidak salah ketika seseorang melihat jin kemudian membaca ayat suci, namun salah jika yang dia pahami dari ayat itu hanyalah tentang mengusir hantu. Begitu juga halnya bila seseorang membaca ayat suci sebagai pembuka acara, untuk mengharap harta duniawi, untuk mendoakan yang sudah meninggal, untuk memahami ilmu modern, untuk tafa’ul supaya anak dalam kandungan cantik atau tampan dan sebagainya yang tidak karena Allah.

Bila pandangan yang keliru terhadap Al Qur’an terus dibiarkan dan dianggap sepele, maka wibawa Al Qur’an akan semakin hilang dan makin dekatlah kita pada jaman di mana “Al Qur’an akan kehilangan tulisannya dan masjid-masjid akan diperindah tapi kehilangan jamaahnya”.

Semoga Allah memberikan hidayahnya kepada kita semua, memberikan kecintaan terhadap al Qur’an, memberitahukan rahasia-rahasianya, membuat kita merasakan keindahannya, memberikan banyak waktu untuk membacanya, di ujung siang ataupun malam. Amin.

——————————–

Sumber: Al-Qur’an Yang Hampa.

Karya Asli Abdul Wahab

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

Komentar ditutup.