Al QUR’AN YANG HAMPA


Al Qur’an merupakan buku/kitab yang sangat istimewa. Al Qur’an adalah satu-satunya buku yang mempunyai cara baca yang khusus. Seseorang tidak dapat membaca Al Qur’an seenaknya atau dengan lagu yang seenaknya. Tak ada satupun buku yang lebih banyak dihafal manusia di luar kepala daripada Al Qur’an. Selama berabad-abad dan untuk selamanya, Al Qur’an menjadi satu-satunya buku yang tak dapat dibuat padanannya. Banyak yang mencoba membuat tandingannya, tetapi yang dihasilkan tak lain hanyalah buku yang bermutu rendah, baik dari segi keindahan bahasanya maupun keluasan maknanya.

Al Qur’an adalah satu-satunya firman Allah yang mendapat janji pemeliharaan dari Allah. Kita lihat kitab-kitab samawi yang lain, penuh dengan banyak perubahan yang mengotori kesucian firman-Nya. Kitab samawi selain Al Qur’an yang dengan mudah ditemukan saat ini adalah Taurat (old testament) dan Injil (new testament). Para ahli menemukan banyak kandungan dalam Injil dan Taurat yang tidak masuk akal dan tidak ilmiah. Kesemuanya tentu bukanlah dari Tuhan. Maha Suci Tuhan dari berbagai kesalahan.

Sangat disayangkan, Al Qur’an saat ini seolah menjadi buku yang hampa dan tak bermakna kecuali hanya bagi segelintir orang. Al Qur’an sendiri akan terus terjaga keasliannya hingga hari akhir, namun cara pandang umat islam terhadapnya terus berubah ke arah yang memilukan. Tulisan ini dibuat untuk menyadarkan apa yang telah terlupakan, kepentingan yang dianggap kesunnahan, hal primer yang diangap sekunder. Al Qur’an harus diposisikan kembali ke tempatnya yang agung seperti seharusnya. Peran utamanya harus disingkap lebar-lebar, dan berbagai keistimewaannya sebagaimana ditulis oleh para ulama terdahulu harus ditempatkan pada posisi sekunder, sebagai bonus, bukannya tujuan utama.

Cara pandang terhadap Al Qur’an yang mulia telah bergeser sedemikian rupa dan semakin memposisikan Al Qur’an tak ubahnya seperti karya manusia kebanyakan. Perbedaan cara pandang ini dapat diketahui dari perbedaan fungsi dan cara umat islam sekarang memandang Al Qur’an dibandingkan dengan cara pandang umat islam pada masa awal.

1.       Al Qur’an pada masa awal diturunkannya

  1. Al Qur’an Sebagai petunjuk bagi manusia.

Pada awal surat al Baqarah disebutkan bahwa Al Qur’an merupakan hidayah bagi orang-orang yang bertakwa. Pada ayat 185 surat yang sama disebutkan:

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان ( البقرة: 185)

“Bulan ramadlan yang di dalamnya diturunkan al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk-petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”

Kata hidayah biasanya diartikan sebagai petunjuk meskipun dalam bahasa aslinya, bahasa arab, hidayah berarti: menciptakan kemampuan untuk ta’at dan memudahkan jalan kebaikan. Bukan hanya sekedar menunjukkan, Al Qur’an juga menuntun dan mengantarkan manusia menuju kebaikan.

  1. Al Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw.

Banyak mukjizat nabi Muhammad yang dapat kita temukan dari buku-buku sejarah, seperti cukupnya sedikit makanan yang diambil nabi bagi sepasukan tentara, jari-jari beliau yang mengeluarkan air yang manis rasanya dan sebagainya. Namun, mukjizat yang terbesar yang pernah diturunkan Allah kepada utusan-Nya adalah Al Qur’an. Mukjizat yang ada sebelumnya dapat ditolak oleh orang-orang yang tidak percaya akan kebesaran Nabi Muhammad dan kitapun, umat islam, tidak dapat menunjukkan bukti yang cukup kuat meyakinkan mereka karena nabi sendiri sudah wafat.

Namun tidak begitu halnya dengan Al Qur’an, kemukjizatan Al Qur’an berlaku sepanjang masa dan dapat terus diuji. Pada masa keemasan sastra Arab, orang kafir Arab berusaha membuat padanan Al Qur’an, tapi terbukti tak ada yang mampu. Pada masa maraknya Gereja mengirimkan orientalis untuk menghancurkan islam dengan merubah isi Al Qur’an dan menyelewengkan maknanya, Al Qur’an tetap utuh sebagaimana dia diturunkan. Saat ini pada masa keemasan bagi ilmu pengetahuan (science), Al Qur’an banyak dipertentangkan dengan science, namun yang terjadi justru Al Qur’an menuai kemenangan yang gemilang atas kesesuaiannya dengan science modern. Orang yang mengingkari Al Qur’an tidak akan dapat bergeming ketika Al Qur’an itu dihadirkan di hadapan mereka dengan pemahaman yang menyeluruh.

  1. Al Qur’an sebagai penenang hati yang gelisah

Al Qur’an dahulu kala banyak dipakai sebagai obat penyejuk hati. Pada suatu saat datanglah seorang sahabat kepada salah satu sahabat nabi yang utama, Ibnu Mas’ud, dan bertanya kepadanya: “wahai Ibnu Mas’ud, berilah aku nasehat yang dapat kujadikan obat bagi hatiku yang gelisah. Dalam beberapa hari in aku merasa tidak tenteram, jiwaku gelisah dan pikiranku kusut; makan tak enak tidurpun tak nyenyak.”

Ibnu Mas’ud menjawab: “kalau penyakit itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, yaitu ke tempat orang membaca Al Qur’an, engkau baca Al Qur’an sendiri atau engkau bersama sebaik-baik orang yang membacanya; atau engkau pergi ke majelis pengajian yang mengingatkan hati kepada Allah; atau engkau cari waktu dan tempat yang sunyi, di sana engkau menyendiri dan menyembah Allah, misalnya di waktu tengah malam buta di saat orang sedang tertidur, engkau bangun mengerjakan shalat malam. Meminta dan memohon kepada Allah ketenangan jiwa, ketentraman pikiran dan kemurnian hati. Seandainya jiwamu belum juga terobati dengan cara ini, maka engkau minta kepada Allah agar diberi-Nya hati yang lain, sebab hatimu yang kamu pakai itu bukan lagi hatimu.”

Sungguh indah nasihat Ibnu Ma’ud ra. tersebut, menunjukkan ketinggian ilmunya, keluasan wawasannya dan kejernihan pikirannya.

  1. Mempelajari Al Qur’an berarti mempelajari kandungan maknanya

Rasul bersabda:

خيركم من   تعلم  القرآن وعلمه (سنن الترمذي ج: 5 ص: 173)

“sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al Qur’an mengajarkannya.” (Sunan At-Tirmidhi: V/173)

Al Qur’an diturunkan kepada manusia untuk dipelajari. Mempelajari Al Qur’an berarti mempelajari makna-makna yang terkandung di dalamnya. Al Qur’an hanya akan menjadi hidayah bagi manusia bila Al Qur’an itu tidak hanya dibaca, tapi juga diresapi kandungannya. Rasulullah mendapat julukan “the Living Qur’an” atau “Al Qur’an yang hidup” karena beliau mampu mengartikulasikan kandungan Al Qur’an secara utuh ke kehidupan nyata.

2.       Al Qur’an pada masa sekarang

Sebagaimana telah penulis kemukakan, Al Qur’an diturunkan sebagai hidayah bagi manusia. Namun seiring perubahan jaman, berubah pula gambaran orang awam tentang Al Qur’an. Memang ada gambaran shahih yang masih melekat, namun itu hanya sedikit jumlahnya dibandingkan dengan jumlah orang yang salah menilai Al Qur’an. Pandangan keliru tersebut antara lain:

  1. Al Qur’an sebagai pengusir jin dan setan.

Al Qur’an saat ini sedang marak digunakan sebagai media pengusir jin dan setan. Terapi ruqyah syar’iyah, begitulah hal ini biasa disebut. Pertanyaan adalah: pernahkah rasul mengajarkan bahwa Al Qur’an adalah alat pengusir jin?. Rasulullah Muhammad pernah mendapatkan gangguan sihir dari seorang Yahudi hingga beliau sakit dan berhalusinasi. Sejarah menulis bahwa Allah tidak menyembuhkannya dengan ayat-ayat Al Qur’an sebagaimana orang sekarang, namun dengan memberitahu nabi akan keberadaan media sihir tersebut melalui dua orang malaikat, kemudian beliau menyuruh melepaskan ikatan media sihir itu[1] dan mengubur sumur tempat media itu dipendam (Shahih Muslim: V/2176; Fathul Bari: X/229). Pasti dibalik cara yang ditunjukkan Allah ini ada hikmah tersendiri dan kitalah yang harus mencari hikmah itu.

Ada beberapa ayat yang biasa dibaca untuk mengusir jin, salah satunya sebagaimana disebutkan oleh Abu Ayyash Rafa’alhaq, Lc dalam bukunya adalah:

يا معشر الجن والإنس إن استطعتم أن تنفذوا من أقطار السماوات والأرض فانفذوا لا تنفذون إلا بسلطان  [ الرحمن : 33 ]

“wahai jamaah jin dan manusia, jika kalian dapat menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”. (al Rahman:33)

Ayat ini dan banyak ayat lain yang dijadikan “mantera” pengusir jin dalam tafsir apapun tidak akan disebutkan sebagai ayat pengusir jin. Justru yang ada adalah keterangan untuk memperkaya ilmu pengetahuan.

Penulis pernah membaca buku ruqyah yang berisi ayat-ayat Al Qur’an. Sewaktu penulis membacanya, sama sekali tidak terpikirkan bahwa penulis sedang berusaha mengusir jin (ruqyah), tetapi yang terpikirkan adalah tentang pelajaran-pelajaran tentang keimanan, aqidah islam, mukjizat nabi terdahulu, kisah-kisah (termasuk kisah tentang kehidupan jin) dan keterangan tentang tanda-tanda kebesaran Allah. Bila anda mengerti tentang makna ayat-ayat Al Qur’an dan anda pernah belajar tafsir Al Qur’an, maka hal-hal inilah yang akan terpikirkan yang merupakan bentuk hidayah Tuhan melalui Al Qur’an dan bukannya tentang mengusir jin.

Penulis sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa Al Qur’an tidak bisa menjadi media pengusir jin karena Al Qur’an adalah kitab yang luar biasa, kitab yang bahkan membuat Nabi berkeringat sewaktu musim dingin. Tentang ruqyah dengan Al Qur’an, memang ada keterangan tentang hal itu, salah satunya:

…إذا أويت إلى فراشك فاقرأ آية الكرسي  من أولها حتى تختم الله لا إله إلا هو الحي القيوم وقال لي لن يزال عليك من الله حافظ ولا يقربك شيطان حتى تصبح (صحيح البخاري ج: 2 ص: 812)

“…jika kamu hendak tidur, maka bacalah ayat kursi dari awal hingga selesai. Kemudian dia (jin) berkata padaku: ‘tidak akan berhenti perlindungan Allah terhadapmu dan setan takkan mendekatimu sampai pagi.’”  (Shahih Bukhori: II:812)

Keterangan dia atas berasal dari seorang jin yang mengganggu Abu Hurairah, namun dibenarkan dan diakui oleh Nabi sehingga diberlakukan seolah nabi yang mengatakannya (taqrir nabi). Ketika dikatakan bahwa Ayat kursi dalam hadith itu dijelaskan dapat mengusir jin atau setan, penulis setuju. Namun, ketika dikatakan bahwa misalnya ayat kursi adalah ayat untuk mencegah  gangguan setan, maka penulis tidak setuju karena hal itu membuat orang tidak sadar terhadap maksud yang terkandung dalam ayat itu sebenarnya.

Kebanyakan orang awam keliru ketika membaca suatu ayat untuk tujuan selain untuk mengenal Allah. Al Qur’an menjadi kurang bermakna bila dibaca hanya untuk mengusir jin atau setan. Kekeliruan ini semakin memperihatinkan ketika banyak orang mengira bahwa ayat-ayat yang berkaitan dengan ruqyah, terutama ayat kursi, diturunkan memang untuk mengusir setan atau jin.

Istilah ruqyah syar’iyah juga perlu dibenahi karena istilah ini seolah mengatakan bahwa apa yang mereka (para Raqi) lakukan berasal dari tuntunan Syari’ (Allah dan Rasul-Nya). Padahal kebanyakan yang mereka baca bukan berasal dari tuntunan rasul melainkan keterangan para ulama. Para ulama memang ahli waris para rasul, tapi seseorang disebut ahli waris hanya jika berkaitan dengan harta warisan yang diwarisinya. Seseorang yang kaya raya dapat disebut ahli waris bila yang dibicarakan adalah harta warisan orang tuanya, tapi bila yang dibicarakan adalah kekayaan hasil usaha sendiri, maka dia tidak disebut ahli waris, tapi pengusaha. Begitu pula ulama disebut ahli waris para nabi ketika yang dibicarakan adalah apa yang memang diwariskan oleh nabi. Ketika apa yang dibicarakan adalah produk pemikiran atau penafsiran baru, maka posisi mereka bukanlah ahli waris para nabi, tapi seorang mujaddid atau mujtahid. Dalam hal ini kita boleh berbeda pendapat dengan mereka.

Banyak dalil yang berkaitan dengan masalah ini, namun karena sempitnya ruang penulisan, penulis tidak dapat memaparkan semuanya.

 

  1. Al Qur’an hanya sebagai mantera pengasihan, pesugihan dan kiriman bagi orang mati.

Kita banyak mendengar bahwa ayat-ayat atau surat tertentu dalam Al Qur’an bisa digunakan untuk memikat orang yang kita sukai dengan cara-cara tertentu. Salah satu ayat yang populer adalah:

إذ قال يوسف لأبيه يا أبت إني رأيت أحد عشر كوكبا والشمس والقمر رأيتهم لي ساجدين

  [ يوسف : 4 ]

Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: ‘wahai ayahku, sesungguhnya aku melihat (dalam mimpi) sebelas bintang, matahari dan bulan. Aku melihat mereka bersujud kepadaku’”. (Yusuf: 4)

Dalam tafsir apapun, ayat ini sama sekali tidak disebutkan sebagai ayat pemikat atau pengasihan, namun berupa kisah teladan tentang Nabi Yusuf as. Sayangnya tak sedikit pelajar pemula yang membuatnya turun derajat dengan menjadikannya sebagai mantera pengasihan tak ubahnya seperti karangan dukun.

Ada juga orang yang jarang membaca Al Qur’an secara keseluruhan. Yang biasa dibaca hanyalah ayat Al Qur’an yang menurutnya adalah “mantera pesugihan”. Dalam hal ini yang populer adalah surat Waqi’ah atau sering juga diplesetkan menjadi surat Ekonomi. Ada hadith tentang ini, yaitu:

من قرأ سورة الواقعة كل ليلة لم تصبه فاقة أبدا (ابن كثير  4\283)

“barang siapa yang membaca surat waqi’ah setiap malam, maka kemiskinan tidak akan menimpanya selamanya.” (Ibn Kathir: IV/283)

Ketika membaca atau mendengar surat Waqi’ah biasanya yang terpikirkan pertama kali oleh kebanyakan orang adalah rizki atau limpahan harta, meskipun sebenarnya kekayaan dalam versi Nabi Muhammad adalah kekayaan jiwa (الغنى غنى النفس) Hampir tak terpikirkan bahwa arti kata waqi’ah itu adalah kiamat dan isi suratnya adalah kisah-kisah kejadian kiamat. Sudah mafhum bersama bahwa Rasul sering menangis ketika membaca ayat-ayat tentang siksa, dan salah satu yang bercerita tentang siksa neraka adalah ayat dari surat waqi’ah ini. Sungguh aneh bila rasul menangis dalam membaca suatu ayat dan kaumnya berpikir tentang harta duniawi ketika membaca ayat yang sama.

Memang benar ada hadith yang menyebutkan keutamaan surat waqi’ah dan penulis setuju dengan hal itu. Namun perlu digaris-bawahi, bahwa juga ada keutamaan bagi surat-surat lain. Ada keutamaan bagi surat al Fatihah, Al Baqarah, Ali Imron, Al Kahfi, surat Thaha, Yasin, dan banyak lainnya. Kesimpulannya sebenarnya sederhana; semua ayat atau surat Al Qur’an punya keutamaan. Tentang keutamaan-keutamaan ini dengan mudah dapat ditemukan dalam karya-karya para guru kita, ulama-ulama terdahulu. Sebagian bahkan membuat karya khusus tentang itu. Tentang al Qur’an yang mempunyai keistimewaan, tidak ada yang dapat diperdebatkan, yang harus didiskusikan kembali adalah tentang cara kita memandangnya.

Seperti halnya Waqi’ah, surat Yasin mengalami perlakuan yang sama. Banyak orang yang mencukupkan diri hanya dengan membaca Yasin, itupun biasanya hanya pada malam Jumat untuk dikirimkan pada orang yang meninggal. Pengistimewaan yang berlebihan biasanya akan berakibat memandang rendah terhadap selain yang diistimewakan. Pengistimewaan terhadap surat Yasin sebagai “jantungnya Al Qur’an” banyak disalah-artikan karena tidak dibarengi dengan pengertian bahwa yang lain juga punya keistimewaan.

Terkait dengan ini, penulis mengingatkan bahwa pengistimewaan malam Jumat dari malam lain merupakan bid’ah. Pengistimewaan malam Jumat telah banyak membuat orang malas untuk beribadah malam hari kalau bukan malam Jumat.  Adapun yang benar adalah pengistimewaan hari Jumat, hari raya kecil bagi muslimin.

Para da’i yang kurang mengusai keislaman, biasanya hanya mengutip keutamaan satu surat saja sehingga menimbulkan kesan di hati orang awam bahwa surat atau ayat yang satu lebih utama dari surat atau ayat lain, sehingga cukup dipilih beberapa saja untuk dibaca. Jarang sekali da’i yang menyerukan untuk membaca ayat Al Qur’an secara menyeluruh dari awal sampai akhir, umumnya hanya menekankan fadlilah surat tertentu saja. Membandingkan keutamaan satu surat dari surat lain seperti membandingkan anggota tubuh. Mata punya kelebihan, telinga punya kelebihan, hidung punya kelebihan dan seterusnya. Tidak mungkin kita mengatakan bahwa cukuplah bagi saya, mata dan telinga saja dan yang lain tidak perlu. Seperti halnya kita menginginkan anggota tubuh kita lengkap, seharusnya kita juga membaca Al Qur’an dengan lengkap.

Puji syukur yang tidak terbatas kepada Allah yang telah meminimalisir efek samping dari membaca sebagian dan mengacuhkan sebagian itu. Allah telah menyusun Al Qur’an tidak dengan menggunakan bab-bab tertentu, tapi mengacak berbagai kandungan dengan kandungan yang lain tanpa kehilangan kesesuaiannya. Bila anda membaca sebagian surat saja, apapun dan di manapun letaknya, anda akan menemukan lebih dari satu pelajaran di dalamnya, baik tentang akhlak, keimanan, hukum ataupun kisah-kisah teladan. Namun, tetap saja ini tidak dapat menjadi alasan pembenar untuk tidak membaca al Qur’an dengan lengkap. Maha Bijak Allah.

Para da’i seharusnya lebih berhati-hati dalam memberi penekanan pada salah satu ibadah. Bila nabi hanya memberikan penekanan kecil, maka jangan dibesar-besarkan dan begitu pula sebaliknya. Untuk memperindah bahasan, kebanyakan da’i terlalu membesar-besarkan topik yang dibicarakan. Hal ini meskipun kelihatan sepele, namun bisa berakibat fatal.

  1. Al Qur’an hanya sebagai pembuka dan penutup acara-acara resmi.

Orang-orang di kota besar jarang yang mengingat Al Qur’an kecuali kalau mereka akan membuka atau menutup acara-acara seremonial. Ketika akan membuka acara, maka pada saat itulah seorang qari’ dibutuhkan. Para hadirinpun ketika mendengar lantunan ayat-ayat tersebut hanya akan menerima respon bahwa acara telah dibuka. Seharusnya respon yang diterima adalah sesuai dengan kandungan ayat itu. Sama sekali tidak ada pengaruh dari pembacaan ayat-ayat itu. Yang ada hanyalah suatu keharusan adat bahwa sebuah acara tidaklah lengkap tanpa diawali dan diakhiri dengan pembacaan ayat suci.

  1. Al Qur’an hanya sebagai pelengkap materi khutbah.

Dalam khutbah Jumat, Al Qur’an mempunyai tempat khusus, yakni sebagai salah satu rukun khutbah. Namun, kekhususan ini menjadi tak berarti bila Al Qur’an dibaca hanya sebatas sebagai pelengkap khutbah. Biasanya yang seperti ini terjadi ketika khatib tidak menerjemahkan materi khutbah. Majelis Jumat hanya mendengar dan melihat orang membaca teks Arab di depan mereka dan tidak tahu sebenarnya apa yang dia sampaikan.

Menerjemahkan materi khutbah tidaklah haram sebagaimana disangka sebagian orang. Beberapa kitab fiqih telah membahas hal ini, di antaranya adalah I’anatut Thalibin.

  1. Al Qur’an hanya sebagai buku science.

Kehebatan Al Qur’an adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan semua jaman. Sewaktu para ilmuwan meneliti Al Qur’an, mereka kagum akan banyaknya penemuan ilmiah modern yang telah diungkapkan Al Qur’an empat belas abad yang lalu. Para ilmuwan yang menulis sisi ilmiah dari Al Qur’an biasanya selalu menyatakan bahwa Al Qur’an bukanlah buku ilmu pengetahuan, dia adalah kitab suci yang berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia.

Masalahnya adalah ketika seorang pelajar atau ilmuwan hanya membuka Al Qur’an sebagai referen bagi teori mereka, seperti ilmuwan yang mencoba mencari teori Darwin dalam Al Qur’an. Mereka seolah tak sadar bahwa Al Qur’an itu kitab suci dan bukannya buku referensi karya ilmiah. Mereka bagaikan seorang rakyat miskin yang diberi makanan oleh seorang raja. Makanan itu disuguhkan di atas piring yang indah berhiaskan permata dan berlapiskan emas. Si miskin itu takjub dengan indahnya piring yang diterimanya hingga melupakan makanannya sampai makanan itu basi. Sang Raja pasti kecewa akan tindakan si miskin.

  1. Mempelajari Al Qur’an hanya cukup dengan membacanya.

Ketika seorang anak di jaman ini ditanya apakah dia sudah belajar Al Qur’an? Kemungkinan besar dia akan menjawab “sudah”. Ketika seorang wali santri ditanya apakah anda sudah mengajarkan Al Qur’an kepada anak anda? Kemungkinan besar dia akan menjawab “sudah”. Begitu pula ketika seorang guru mengaji diberi pertanyaan apakah yang anda ajarkan? Kemungkinan besar dia akan menjawab: “Al Qur’an”. Jawaban seperti itu biasanya dianggap benar, meskipun sebenarnya yang dipelajari dan diajarkan hanyalah cara membaca Al Qur’an, bukan mempelajari Al Qur’an.

Di sebuah buku panduan membaca Al Qur’an biasanya dituliskan sebuah Hadith tentang keutamaan mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya sebagaimana yang telah penulis kutip di depan. Kebanyakan orang mengira bahwa belajar membaca Al Qur’an itu sama dengan mempelajari Al Qur’an. Pemahaman ini berakibat banyak anak atau pemuda yang malas untuk mempelajari Al Qur’an lebih mendalam karena merasa ketika dia bisa membaca Al Qur’an dengan tepat, apalagi dengan lagu yang indah, maka seolah-olah dia telah menguasai pelajaran Al Qur’an.

Seseorang yang belajar membaca huruf latin dengan bantuan susunan huruf–huruf pada buku Biologi tidaklah dapat dikatakan bahwa dia telah belajar Biologi. Seseorang yang belajar membaca bacaan Al Qur’an tidaklah sama dengan seseorang yang mempelajari Al Qur’an.

Ada hadith yang bunyinya:

خيركم من قرأ  القرآن وأقرأه (الثقات ج: 9 ص: 225)

“sebaik-baik kalian adalah orang yang membaca Al Qur’an dan membacakannya”

(al-Tsiqat: IX/225)

Dalam memahami hadith ini perlu diingat bahwa mukhatab (orang yang diajak berbicara oleh nabi) dalam hadith itu adalah orang Arab. Ketika membaca tulisan Arab, mereka akan memahami maknanya. Ketika seseorang telah paham makna Al Qur’an, kemudian dia membacakannya atau menyampaikannya kepada orang lain, maka dia akan menjadi orang yang terbaik. Inilah yang dimaksud hadith tersebut.

Hadith tersebut tidak dapat dipahami bahwa orang yang sekedar membaca akan dapat posisi sebagai orang yang terbaik, karena orang yang hanya dapat membaca tidak mungkin membacakannya kepada orang lain. Kalaupun dia memaksa membacakannya, bisa saja dia membacakan ayat-ayat hukuman pembunuhan kepada orang yang sedang berduka karena kematian keluarganya akibat kecelakaan. Hal ini tidak cocok dan terdengar lucu.

Allah berfirman:

إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون

 [ الأنفال  2 ]

“Sesungguhnya orang-orang beriman ialah orang-orang yang bila disebut nama Allah maka  bergetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, bertambah imannya, sedang mereka itu bertawakkal kepada Tuhannya.”

Dapat dipahami dari ayat tersebut bahwa orang yang beriman itu seharusnya mengerti akan bahasa Al Qur’an. Bila dia tidak mengerti, maka dia tidak mungkin merasa gemetar ketika dibacakan ayatNya. Allah juga berfirman:

أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها  [ محمد  24 ]

“Apakah mereka tidak memperhatikan (isi) Al Qur’an atau apakah hati mereka terkunci?”

Perlu diperhatikan bahwa penulis tidaklah bermaksud mengatakan bahwa sekedar belajar membaca Al Qur’an tidak utama atau tidak mendapat pahala. Belajar membaca Al Qur’an ataupun membaca Al Qur’an tanpa tahu maknanya tetap mendapat pahala yang besar. Hanya saja harus diketahui bahwa belajar membaca Al Qur’an saja masih belum cukup untuk bisa mendapat pelajaran dari Al Qur’an sehingga menjadi orang yang terbaik seperti yang disebutkan nabi.

Para guru mengaji yang menyamakan antara membaca Al Qur’an dengan belajar Al Qur’an telah membuat kesalahan. Para murid atau orang tua murid akan merasa bahwa anaknya telah bisa dan menguasai Al Qur’an begitu mereka lulus, padahal mereka baru mendapatkan kulitnya saja. Tak heran bila hanya sedikit siswa yang berkeinginan mengenal Al Qur’an dengan mendalam.

Banyaknya kesalah-pahaman ini menyebabkan Al Qur’an kehilangan makna keagungannya dan hanya menjadi bacaan yang hampa. Bila seseorang membaca Al Qur’an tidak karena Allah, tetapi karena mengusir jin atau mencari pesugihan misalnya, akankah Allah akan memberinya pahala. Sesungguhnya keabsahan suatu perbuatan itu tergantung niatnya. Menurut pendapat yang ringan, yaitu dari Al Ghazaly, seseorang yang membaca Al Qur’an tidak sepenuhnya karena Allah tetap mendapat pahala sesuai kadar niatnya mengingat Allah, bila dia sama sekali tidak berniat karena Allah, maka dia tidak mendapat apa-apa. Menurut pendapat yang keras, dia sama sekali tidak mendapat pahala bila dalam niatnya bercampur dengan niat duniawi..

Kesemua hal yang penulis sebutkan di atas bukanlah hal yang terlarang, bahkan menurut penulis merupakan hal yang bagus, namun ketika hal itu menyebabkan orang-orang tidak sadar terhadap kandungan ayat-ayat Al Qur’an sebenarnya, maka sudah seharusnya diperingatkan. Tiap hal perlu diletakkan dalam bingkai yang sesuai.

Tidak salah ketika seseorang melihat jin kemudian membaca ayat suci, namun salah jika yang dia pahami dari ayat itu hanyalah tentang mengusir hantu. Begitu juga halnya bila seseorang membaca ayat suci sebagai pembuka acara, untuk mengharap harta duniawi, untuk mendoakan yang sudah meninggal, untuk memahami ilmu modern, untuk tafa’ul supaya anak dalam kandungan cantik atau tampan dan sebagainya yang tidak karena Allah.

Bila pandangan yang keliru terhadap Al Qur’an terus dibiarkan dan dianggap sepele, maka wibawa Al Qur’an akan semakin hilang dan makin dekatlah kita pada jaman di mana “Al Qur’an akan kehilangan tulisannya dan masjid-masjid akan diperindah tapi kehilangan jamaahnya”.

Semoga Allah memberikan hidayahnya kepada kita semua, memberikan kecintaan terhadap al Qur’an, memberitahukan rahasia-rahasianya, membuat kita merasakan keindahannya, memberikan banyak waktu untuk membacanya, di ujung siang ataupun malam. Amin.

Wallahu A’lam bis Shawab.


[1] Ada riwayat yang menyatakan bahwa sewaktu melepaskannya,  ikatan itu dibacakan muawadatain. Tambahan ini hanya penulis temukan dari dua jalur saja, itupun bertentangan isinya. Riwayat terbanyak hanya menyebutkan bahwa ikatan yang ada dilepas lalu nabipun sembuh. Wallahu a’lam.

Karya Asli Abdul Wahab

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

Komentar ditutup.