KEBERADAAN HADITH DI TENGAH PERAN GANDA NABI; DALAM KAPASITASNYA SEBAGAI RASUL DAN MANUSIA BIASA


Oleh: Abdul Wahab, MHI

A.     Pendahuluan

Kita tahu bahwa Nabi Muhammad adalah salah satu dari sekiau banyak tokoh sejarah. Perbedaan beliau dengan tokoh sejarah lain adalah dalam kapasitas beliau sebagai penyampai wahyu. Tokoh-tokoh sejarah selain beliau, sebagai msnusia, hanya mampu menghasilkan ajaran-ajaran yang kebenarannya temporal, terbatas ruang dan waktu. Nabi Muhammad berbeda dari mereka semua karena ajaran beliau sebagai rasul terakhir haruslah berlaku abadi sampai hari akhir.

Suatu fakta sejarah yang tidak mungkin dipungkiri adalah bahwa selain sebagai rasul, Nabi Muhammad juga seorang manusia. Artinya, Nabi Muhammad mempunyai sisi manusiawi seperti manusia lainnya. Beliau bisa saja melakukan salah dan mempunyai keterbatasan keterbatasan yang dimiliki manusia lainnya. Sisi manusiawi ini dicoba untuk diungkap dalam makalah ini guna mendudukkan posisi beliau dalam tempat semestinya, tentunya tanpa mengurangi respect terhadap kemuliaan dan keutamaan beliau sebagai rasul terbaik  atau mereduksi rasa cinta kita kepada pribadi beliau.

Pengetahuan tentang sisi manusiawi nabi dapat memberi pemahaman yam lebih utuh tentang hadith-hadith beliau. Dengannya, kita tahu sejauh mana ruang lingkup sabda beliau, apakah berlaku umum lintas sejarah, ataukah hanya berlaku khusus di masa beliau saja. Tanpa tahu mana hadith yang keluar dari kapaitas beliau sebagai rasul dan kapasitas beliau sebagai manusia, kita dapat terjerumus dalam kesimpulan yang keliru, kaku dan sempit karena kita tidak mampu membedakan mana dimensi ilahiyah dan mana dimensi historis.

Lepas dari semua itu, penulis sadar bahwa karya ini terlalu kecil dan tipis untuk sebuah tema besar yang diusungnya yang karenanya, tidak mungkin memberikan kata putus yang tidak bisa ditawar lagi. Semua keterbatasan dalam karya ini masih dapat dikritisi tmtuk mencari kebenaran yang hakiki. Namun, besar harapan penulis semoga karya sederhana ini dapat memperluas wawasan dan menjadi awal dari penelitian yang lebih besar.

B.     Perbuatan Nabi Muhammad

Kita sepakat bahwa Nabi Muhammad adalah uswah hasanah bagi setiap muslim. Kita juga sepakat bahwa ajaran islam yang beliau bawa mencakup semua umat dan berlaku untuk selamanya. Namun, apakah semua perbuatan beliau harus kita jadikan sebagai tolok ukur kebaikan? Apakah semua yang beliau lakukan harus kita tiru semirip mungkin tanpa menghiraukan kenyataan bahwa antara beliau dan kita di sini dan di masa ini ada perbedaan sosio-kultural yang sangat besar? Untuk menjawabnya kits perlu melihat pendapat para ulama dalmu menyikapi peran ganda Nabi Muhammad.

Muhammad Husain Abdullah membagi perbuatan nabi menjadi:

1.    Perbuatan-perbuatan jibiliyah, yaitu perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh kebanyakan manusia, seperti, berdiri, mendaki, makan, minum, berjalan, tersenyum, dan sebagainya. Tidak ada perselisihan lagi, bahwa perbuatan-perbuatan semacam ini hukumnya mubah (boleh), baik bagi rasul maupun bagi ummatnya.

2.    Perbuatan-perbuatan yang telah ditetapkan, bahwa perbuatan-perbuatan tersebut merupakan kekhususan bagi Rasul saw. Perbuatan-perbuatan semacam ini tidak boleh diikuti oleh umatnya, seperti wajibnya shalat dhuha dan bolehnya puasa wishal bagi beliau saw. Kedua perbuatan tersebut merupakan kekhususan dari Allah bagi Rasul saw.

3.    Pabuatan-perbuatan yang tidak termasuk perbuatan jibiliyah dan bukan pula merupakan kekhususan bagi Rasul saw. Pada perbuatan-perbuatan semacam imi, umat Islam diperintahkan umtuk mengikutinya.[1]

Hal senada disampaikan oleh para ulama lain seperti Al Juwayni[2], Mohammad bin Muhammad[3], al-Amudy[4] dan Abu Bakr Muhammad al‑Sharkhashy.[5] Secara garis besar, mereka semua mengklasifikasikan perbuatan nabi seperti klasifikasi di atas, meskipun cara menguraikannya berbeda-beda sesuai gaya tulis masing-masing.

Hadith-hadith Nabi yang menerangkan perbuatan beliau yang muncul karena sifat manusiawi (bersifat naluriah/kewatakan), seperti cara makan, minum, berpakaian, berjalan, diam, bergerak berdiri, duduk den sebagainya hanya menunjukkan pada bolehnya tindakan seperti itu. Hadith jibihyah seperti itu tidak dapat dipahami sebagai anjuran atau aturan yang harus diikuti kaum muslimin karena Nabi Muhammad melakukannya bukan dalam kapasitas sebagai rasul, namun sebagai pribadi. Perbuatan beliau yang harus diikuti hanyalah perbuatan yang di luar unsur kebiasaan manusia dan bukan termasuk hal yang khusus bagi beliau semata.

Pernyataan penulis di atas tidaklah berarti bahwa kita dilarang mengikuti beliau, atau seorang muslim yang berjalan, tidur, duduk, berpakaian dan sebagainya meniru persis perbuatan nabi adalah keliru, bukan itu maksudnya. Orang tersebut boleh melakukannya, namun dia harus menyadari bahwa apa yang dilakukannya tidak termasuk perbuatan sunnah. Karenanya, dia tidak berhak mendapatkan pahala atas perbuatan meniru tersebut. Namun, bisa saja dia mendapat point pahala karena kecintaannya pada Nabi Muhammad.

Penulis sadar bahwa ada sebagian orang yang mungkin tidak sependapat dengan pembagian ini dan menganggap bahwa perbuatan nabi mesti diikuti seluruhnya berdasarkan firman Allah dalam Al Qur’an, yaitu:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا[6]

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Ayat tersebut di atas tidak tepat untuk menyanggah pendapat penulis karena penulis juga sependapat bahwa Nabi Muhammad adalah panutan. Yang menjadi persoalan adalah apakah semua perbuatan nabi menjadi panutan ataukah hanya perbuatan syar’i saja?. Jawaban penulis adalah tentu yang menjadi panutan hanyalah perbuatan syar’i saja.

Sebagian pihak mungkin mengajukan ayat berikut untuk membantah pendapat penulis. Ayat tersebut adalah:

…وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا…[7]

…Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah…

Ayat tersebut sebenarnya bagian dari ayat yang berbicara tentang harta  fay’ (rampasan dari musuh yang tidak mampu melawan) sehingga kurang relevan dengan bahasan kita. Namun, meskipun kita memberlakukan keumuman lafaznya sekalipun, ayat tersebut tetap tidak dapat menyanggah apapun karena penulis juga yakin bahwa apa yang dibawa rasulullah harus harus dilakukan, namun seperti sebelumnya, apakah itu berlaku umum atau ada pengecualian? Dalam hal ini penulis melihat ada banyak dalil yang membatasi keumuman penggalan ayat tersebut.

Untuk menguatkan argumen penulis, di bawah ini penulis utarakan hadith yang menunjukkan sisi kemanusiaan beliau disamping sisi kerasulannya. Rasulullah bersabda:

إنما أنا بشر  إذا أمرتكم بشيء من دينكم فخذوا به وإذا أمرتكم بشيء من رأي فإنما أنا بشر[8]

Sesungguhnnya aku adalah manusia. Jika aku memerintahkan kalian sesuatu dari perkara agama, maka ambillah. Jika aku memerintahkan sesuatu dari pendapatku sendiri, maka sesungguhnya aku juga manusia.

Hadith tersebut disebutkan oleh Imam Muslim pada bab khusus yang berjudul “باب وجوب امتثال ما قاله شرعا دون ما ذكره  صلى الله عليه وسلم  من معايش الدنيا على سبيل الرأي”, artinya bebasnya adalah “Bab tentang kewajiban mengikuti pendapat syar’i yang disabdakannya dan bukannya apa yang dituturkannya dari akal”.  Tampaknya Imam Muslim sependapat dengan penulis karena hadith tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa pendapat rasul harus didudukkan sesuai dengan kapasitas beliau. Sebagai rasul, beliau tidak mungkin salah, tetapi sebagai manusia beliau dapat saja melakukan kesalahan. Pendapat yang timbul dari sisi manusia ini tidak seluruhnya wajib untuk diikuti.

Perlu ditenkankan di sini bahwa penulis tidak bermaksud menafikan hak Nabi Muhammad untuk memberikan perintah yang tidak ada dalam ruang lingkup wahyu. Banyak dalil yang dapat dikemukakan untuk menegaskan bahwa Nabi Muhammad secara pribadi juga harus dipatuhi, selain Allah. Beliau mempunyai otoritas untuk membuat hukum baru yang tidak ditegaskan dalam Al Qur’an. Namun, itu di luar bahasan makalah ini.

C.     Klasifikasi kapasitas Nabi Muhammad.

Untuk lebih jelasnya perlu diuraikan lebih terperinci tentang kapasitas beliau. Untuk tujuan itu, penulis akan membagi tindakan dan sabda beliau dalam tiga kategori, yaitu:

1.      Kapasitas sebagai rasul.

Rasulullah adalah orang yang diutus pada manusia untuk menunjukkan jalan yang benar. Beliau memberitakan wahyu yang tidak mungkin diketahui oleh manusia yang lain. Dalam kapasitas beliau sebagai rasul, seluruh sabda beliau dapat menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Beliau harus diikuti dan dipatuhi oleh seluruh muslim, suka atau tidak. Dalil dari argumen ini adalah firman Allah dalam al Qur’an tentang wajibnya taat kepada rasul yang tentunya telah banyak diketahui bersama.

2.      Kapasitas nabi sebagai pemimpin masyarakat.

Rasulullah Muhammad tidak hanya hidup sebagai rasul. Beliau juga menjadi seorang pemimpin masyarakat, bahkan kemudian menjadi pemimpin negara. Sebagai seorang pemimpin, beliau menjalankan roda pemerintahan islam di Madinah seperti layaknya kepala negara. Beliau mengadakan rapat dengan orang-orang kepercayaannya, mengirim surat­surat kenegaraan ke negeri lain, memimpin perang, mengatur masyarakat dan sebagainya.

Berbagai hadith dalam kapasitas beliau sebagai seorang pemimpin banyak jumlahnya, di antaranya:

عن ابن عمر رضي الله عنهما ، قال : استشار رسول الله صلى الله عليه وسلم في الأسارى أبا بكر فقال : قومك وعشيرتك فخل سبيلهم . فاستشار عمر فقال : اقتلهم . قال : ففداهم رسول الله صلى الله عليه وسلم « فأنزل الله عز وجل ( ما كان لنبي أن يكون له أسرى حتى يثخن في الأرض ) إلى قوله ( فكلوا مما غنمتم حلالا طيبا ) قال : فلقي النبي صلى الله عليه وسلم عمر قال : كاد أن يصيبنا في خلافك بلاء[9]

Dari Ibn Umar ra, Rasulullah bersabda: “Kemudian Nabi Muhammad bermusyawarah dengan Abu Bakar tentang para tawanan. Abu Bakar berkata: ‘Kaummu dan masyarakatmu, maka biarkan mereka’. Kemudian beliau bermusyawarah dengan Umar dan Umar berkata: ‘bunuh mereka’. Ibnu Umar kemudian mekanjutkan; kemudian rasul menyuruh para tawanan tersebut membayar fidyah, maka Allah menurunkan firmannya: (Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi) hingga kalimat (makanlah apa yang menjadi ghanimahmu secara halal dan baik). Ibnu Umar melanjutkan: kemudian rasul menemui Umar dan bersabda: ‘hampir saja ada bencana yang menimpa kita karena berbeda pendapat denganmu’.

أن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  لما أراد أن   يسرح معاذا  إلى اليمن استشار ناسا من أصحابه فيهم أبو بكر وعمر وعثمان وعلي وطلحة والزبير وأسيد بن حضير فاستشارهم فقال أبو بكر لولا أنك استشرتنا ما تكلمنا فقال إني فيما لم يوح إلي كأحدكم قال فتكلم القوم فتكلم كل إنسان برأيه[10]

Sesungguhnya rasulullah saw, ketika hendak mengutus Mu’adh ke Yaman, bermusyawarah pada para sahabatnya. Di antara mereka ada Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair dan Asad bin Hudlair. Abu Bakar berkata: ‘seandainya anda tidak mengajak kami bermusyawarah, maka kami tidak akan bicara. Nabi menjawab: ‘sesungguhnya aku, dalam sesuatu yang tidak diwahyukan padaku, sama saja dengan kalian’. Mu’adh berkata: ‘kemudian orang-orang mau berpendapat. Tiap orang berkata sesuai pendapatnya masing-masing’.

Hadith di atas menunjukkan bahwa nabi, sebagai kepala negara, dapat mengambil keputusan yang keliru dan masih membutuhkan pendapat orang lain untuk memecahkan masalah kenegaraan.

3. Kapasitas nabi sebagai pribadi biasa.

Selain sebagai rasul atau pemimpin, Nabi Muhammad juga harus dinilai sebagai pribadi yang babas. Beliau melakukan hal-hal yang juga dilakukan orang lain di lingkungannya. Untuk point ini terdapat banyak sekali hadith yang bisa ditemukan dengan mudah di kitab-kitab hadith.[11] Hadith berikut dapat jadi contoh yang cukup representatif:

رأيت رسول الله على المنبر و عليه عمامة سوداء قد أرخى طرفيها بين كتفيه.[12]

Aku melihat rasul di atas mimbar sedang beliau memakai serban hitam. Beliau menjulurkan kedua ujung serbannya di antara kedua pundaknya.

Abu Bakar Al Baihaqy menyebutkan hadith ini dalam kitabnya yang membahas tentang tatakrama, seolah memberi kesan bahwa memakai serban seperti itu termasuk tindakan yang patut diteladani dan merupakan akhlak yang baik.[13] Konon, serban hitam kemudian dijadikan pertanda bahwa pemakainya adalah ningrat atau keturunan nabi. Menurut hemat penulis, hadith tersebut hanya gambaran tentang keadaan nabi dan serbannya saja dan tidak ada sangkut pautnya dengan kesunnahan atau akhlak karena nabi sendiri tidak pernah memerintahkan umatnya untuk meniru “fashion” beliau.

Kita tahu bahwa pemakaian serban sudah dilakukan orang arab jauh sebelum Nabi Muhammad lahir. Dengan begitu dapat kita simpulkan bahwa kaitan serban sebenarnya bukannya dengan syari’at islam, tetapi dengan budaya masyarakat arab, yang Nabi Muhammad adalah salah satu anggotanya. Serban sendiri sebenarnya bukan urusan ibadah dan di luar koridor pengaturan wahyu (kerasulan).

D.     Contoh hadith-hadith yang sering disalahpahami

Tidak semua orang sependapat dengan penulis dalam pembagian peran nabi. Sebagian orang melakukan hal tertentu yang sebenarnya bersifat budaya namun dianggap sebagai sunnah yang dapat menghasilkan pahala bagi pelakunya. Pendapat mereka biasanya dilandaskan pada hadith tertentu yang secara letterlijk seolah mendukung pendirian mereka.

Ada beberapa hadith yang dapat dijadikan contoh dalam hal ini. Misalnya:

ثم ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار[14]

Dari Abu Hurairah ra dari rasulullah saw. Beliau bersabda: “…kemudian semua sarung yang lebih rendah dari mata kaki, maka akan masuk neraka”.

Hadith di atas tampaknya menjadi landasan bagi sebagian golongan Islam di negeri kita ini untuk memakai sarung atau celana setinggi betis (di atas mata kaki). Sebenarnya sabda tersebut muncul karena budaya Arab pada waktu itu yang menjadikan pakaian yang panjangnya melewati mata kaki sebagai simbol keangkuhan/kesombongan, seperti halnya memakai arloji berlapis emas dalam budaya kita. Kesimpulan ini didapat dengan mengamati hadith berikut:

من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة فقال أبو بكر إن أحد شقي ثوبي يسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه فقال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ثم إنك لست تصنع ذلك خيلاء[15]

‘Barang siapa yang memanjangkan bajunya karena angkuh, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat’. Kemudian Abu Bakar berkata: ‘sesungguhnya salah satu dari dua bagian bajuku menjulur kecuali bila aku menjaganya’. Maka rasul saw bersabda: ‘sesungguhnya kamu bukan orang yang berbuat demikian karena sombong’.

Hadith tersebut menjelaskan bahwa larangan memanjangkan pakaian hingga melebihi mata kaki hanya berlaku bila ada unsur kesombongan. Menurut penulis, hadith tersebut pada saat ini tidak berlaku bagi kita, orang Indonesia, karena siapapun di antara kita sekarang yang memanjangkan celana atau sarungnya tidak akan punya pikiran bahwa hal itu menandakan kesombongan. Simbol yang berlaku di Arab, seperti simbol menjulurkan sarung tersebut, tentunya berbeda dengan yang berlaku di luar Arab. Dalam tradisi kita, justeru orang laki-laki yang memakai celana atau sarung terlalu tinggi atau di atas mata kaki justeru terkesan merusak pemandangan.

Pemahaman serupa terjadi pada hadith berikut:

عن أم سلمة رضي الله عنها قالت ثم لم يكن ثوب أحب إلى رسول الله  صلى الله عليه وسلم  من القميص[16]

Dari Umi Salamah ra. Dia berkata: `tidak ada baju yang lebih disukai rasul saw melebihi jubah (gamis).

Sebagian orang menganggap bahwa memakai jubah merupakan tradisi Islam. Padahal kenyataannya, jubah sudah dipakai orang arab sejak jaman jahiliyah. Nabi tetap memakai jubah dan tidak menganggapnya sebagai warisan jahiliyah karena memang jubah adalah model pakaian, dan model pakaian itu tidak ada hubungannya dengan agama, tapi lebih sebagai identitas suatu kaum. Hadith di atas juga tidak berupa perintah dari nabi untuk memakai jubah dan bukan pula termasuk konteks kalimat berita dalam arti wajib.

Kejadian serupa juga terjadi pada hadith berikut:

عن أبي رمثة قال ثم انطلقت مع أبي نحو النبي  صلى الله عليه وسلم  فرأيت عليه بردين أخضرين [17]

Dari Abu Rumthah, Dia berkata: `aku berangkat bersama ayahku ke tempat rasulullah saw, kemudian aku melihat beliau memakai dua selendang yang berwarna hijau’.

Serban/selendang hijau selama ini identik dengan keluarga priyayi. Tak heran juga kenapa partai-partai Islam di Indonesia sering berwarna hijau. Hadith di atas sepertinya mendukung pemahaman seperti ini. Namun seperti yang telah disebutkan, nabi adalah seorang pribadi bebas. Dengan begitu beliau sebagai pribadi, pasti memiliki rasa suka secara subjektif terhadap warna tertentu, rasa tertentu ataupun model tertentu. Semuanya itu karena faktor jibily (watak/naluriah) yang melekat pada setiap manusia.

Begitu banyak hadith yang berbicara tentang hal-hal seperti ini. Keterbatasan ruang dan waktu penulisan tidak memungkinkan penulis untuk menyebutkan kesemuanya. Pengkajian secara menyeluruh tentang topik ini memerlukan waktu yang lama dan penguasaan terhadap ilmu-ilmu pendukung, seperti Ulumul Hadith dan Ushul Fiqh. Syarat lain yang harus dimiliki peneliti topik ini adalah sopan santun kepada Nabi Muhammad saw sehingga tidak terjerumus pada kesimpulan yang tidak layak dicapai seorang muslim.

E.      Kesimpulan

 Nabi Muhammad sebagai manusia tentunya tidak luput dari berbagai kekurangan, seperti lupa dan salah. Beliau sendiri selama hidupnya tidak hanya bertugas menjadi rasul, namun juga sebagai pemimpin negara dan sebagai pribadi.

Hadith-hadith nabi sebagai produk beliau mestinya juga dipilah-pilah dengan cermat. Harus ada penentuan, mana hadith yang memang keluar dari kapasitas beliau sebagai rasul dan mana hadith yang keluar bukan dari konteks kerasulan. Dengan begitu kita tidak terjebak pada ajaran yang kaku dan monoton.

Lepas dari itu semua, orang yang meniru hal-ihwal jibiliyah Nabi Muhammad semirip pastilah mendapatkan pahala, namun atas kecintaannya kepada beliau, bukan atas perbuatannya. Wallahu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Muhammad Husain, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2002.

Abu Bakar al Baihaqy, al ‘Adab, Beirut: Dar al Kitab ai Ilmiyah, 1986.

Abu Daud, Sulaiman, Sunan Abi Daud Beirut: Dar al Fikr,tt.

Abu al-Qasim Al-Tabrany, al Mu’jam al Kabīr, Mosul: Maktabah UIu n wa at hikam, 1983.

Ali bin Muhammad al-Amudy, Al Ahkārn fī UsūI al Ahkām, Beirut: al Maktabah al Islamy,tt.

Malik Al Juwayni, Abdul, Al Burhān Fī UsūI fiqh, Mesir: Al Wafa’,tt.

Muhammad al Sharkhashy, Abu Bakr, UsūI al-Sharkhashī, Bairut: Dar al-Kitab al `Ilmiyah, 1993.

Muhammad bin Abdullah al Hakim, Mustadrak ‘alā al Sahīhain, Beirut: Dar al-Kitab at ‘Ilmiyah, 1990.

Muhammad bin Ismail al-Bukhary, Sahīh al-Bukhāry, Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1987.

Muhammad bin Muhammad, Kitāb al-taqrīr  wa al-tahrīr, Beirut: Dar al-Fikr, 1996.

Muslim bin Hujjaj al-Naysabury, SahīhMuslim, Beirut: Dār Ihyā’i al-Turāth al-‘Arabī, tt.

Rauf al Manawy, Abd, Faid al-Qadīr, Mesir: al-Maktabah al-Tijāriyah al-Kubrā, 1937.


[1] Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2002), 54.

[2] Abdul Malik Al Juwayni, Al Burhān Fī UsūI fiqh, (Mesir: Al Wafa’,tt) I, 321.

[3] Muhammad bin Muhammad, Kitāb al-taqrīr  wa al-tahrīr, (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), II, 403.

[4] Ali bin Muhammad al-Amudy, Al Ahkārn fī UsūI al Ahkām, (Beirut: al Maktabah al Islamy,tt), 227-228.

[5] Abu Bakr Muhammad al Sharkhashy, UsūI al-Sharkhashī, (Bairut: Dar al-Kitab al `Ilmiyah,1993), II, 86-87.

[6] Al-Qur’an, 33 (al-Ahzab): 21.

[7] Al-Qur’an, 59 (al-Hasyr): 7.

[8] Muslim bin Hujjaj al-Naysabury, SahīhMuslim, (Beirut: Dār Ihyā’i al-Turāth al-‘Arabī, tt), IV, 1835.

[9] Muhammad bin Abdullah al Hakim, Mustadrak ‘alā al Sahīhain, (Beirut: Dar al-Kitab at ‘Ilmiyah, 1990), II, 359.

[10] Abu al-Qasim Al-Tabrany, al Mu’jam al Kabīr, (Mosul: Maktabah UIu n wa at hikam, 1983), XX, 67.

[11] Cara yang paling mudah untuk mencari hadith dalam kategori ini adalah dengan mencari hadith dengan kata kunci كان رسول الله  atau langsung melihat kitab Faid al-Qadīr karya al Manawy pada bab huruf kāf pada hadith yang berawalan dengan frase  كان.

[12] Abu Bakar al Baihaqy, al ‘Adab, (Beirut: Dar al Kitab ai Ilmiyah, 1986), 359 dari riwayat Muslim, Abu Daud, Ibn Majah, Nasa’i dan Ahmad bin Hambal.

[13] Ibid, 359.

[14] Muhammad bin Ismail al-Bukhary, Sahīh al-Bukhāry, (Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1987), V, 2182. (Hadith no. 5450).

[15] Ibid, III, 1340 (Hadith no. 3465).

[16] Al Hakim, IV, 213

[17] Sulaiman Abu Daud, Sunan Abi Daud (Beirut: Dar al Fikr,tt), IV, 52.

Karya Asli Abdul Wahab

Normal
0

false
false
false

MicrosoftInternetExplorer4

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

A.     Pendahuluan

Kita tahu bahwa Nabi Muhammad adalah salah satu dari sekiau banyak tokoh sejarah. Perbedaan beliau dengan tokoh sejarah lain adalah dalam kapasitas beliau sebagai penyampai wahyu. Tokoh-tokoh sejarah selain beliau, sebagai msnusia, hanya mampu menghasilkan ajaran-ajaran yang kebenarannya temporal, terbatas ruang dan waktu. Nabi Muhammad berbeda dari mereka semua karena ajaran beliau sebagai rasul terakhir haruslah berlaku abadi sampai hari akhir.

Suatu fakta sejarah yang tidak mungkin dipungkiri adalah bahwa selain sebagai rasul, Nabi Muhammad juga seorang manusia. Artinya, Nabi Muhammad mempunyai sisi manusiawi seperti manusia lainnya. Beliau bisa saja melakukan salah dan mempunyai keterbatasan keterbatasan yang dimiliki manusia lainnya. Sisi manusiawi ini dicoba untuk diungkap dalam makalah ini guna mendudukkan posisi beliau dalam tempat semestinya, tentunya tanpa mengurangi respect terhadap kemuliaan dan keutamaan beliau sebagai rasul terbaik  atau mereduksi rasa cinta kita kepada pribadi beliau.

Pengetahuan tentang sisi manusiawi nabi dapat memberi pemahaman yam lebih utuh tentang hadith-hadith beliau. Dengannya, kita tahu sejauh mana ruang lingkup sabda beliau, apakah berlaku umum lintas sejarah, ataukah hanya berlaku khusus di masa beliau saja. Tanpa tahu mana hadith yang keluar dari kapaitas beliau sebagai rasul dan kapasitas beliau sebagai manusia, kita dapat terjerumus dalam kesimpulan yang keliru, kaku dan sempit karena kita tidak mampu membedakan mana dimensi ilahiyah dan mana dimensi historis.

Lepas dari semua itu, penulis sadar bahwa karya ini terlalu kecil dan tipis untuk sebuah tema besar yang diusungnya yang karenanya, tidak mungkin memberikan kata putus yang tidak bisa ditawar lagi. Semua keterbatasan dalam karya ini masih dapat dikritisi tmtuk mencari kebenaran yang hakiki. Namun, besar harapan penulis semoga karya sederhana ini dapat memperluas wawasan dan menjadi awal dari penelitian yang lebih besar.

B.     Perbuatan Nabi Muhammad

Kita sepakat bahwa Nabi Muhammad adalah uswah hasanah bagi setiap muslim. Kita juga sepakat bahwa ajaran islam yang beliau bawa mencakup semua umat dan berlaku untuk selamanya. Namun, apakah semua perbuatan beliau harus kita jadikan sebagai tolok ukur kebaikan? Apakah semua yang beliau lakukan harus kita tiru semirip mungkin tanpa menghiraukan kenyataan bahwa antara beliau dan kita di sini dan di masa ini ada perbedaan sosio-kultural yang sangat besar? Untuk menjawabnya kits perlu melihat pendapat para ulama dalmu menyikapi peran ganda Nabi Muhammad.

Muhammad Husain Abdullah membagi perbuatan nabi menjadi:

1.    Perbuatan-perbuatan jibiliyah, yaitu perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh kebanyakan manusia, seperti, berdiri, mendaki, makan, minum, berjalan, tersenyum, dan sebagainya. Tidak ada perselisihan lagi, bahwa perbuatan-perbuatan semacam ini hukumnya mubah (boleh), baik bagi rasul maupun bagi ummatnya.

2.    Perbuatan-perbuatan yang telah ditetapkan, bahwa perbuatan-perbuatan tersebut merupakan kekhususan bagi Rasul saw. Perbuatan-perbuatan semacam ini tidak boleh diikuti oleh umatnya, seperti wajibnya shalat dhuha dan bolehnya puasa wishal bagi beliau saw. Kedua perbuatan tersebut merupakan kekhususan dari Allah bagi Rasul saw.

3.    Pabuatan-perbuatan yang tidak termasuk perbuatan jibiliyah dan bukan pula merupakan kekhususan bagi Rasul saw. Pada perbuatan-perbuatan semacam imi, umat Islam diperintahkan umtuk mengikutinya.[1]

Hal senada disampaikan oleh para ulama lain seperti Al Juwayni[2], Mohammad bin Muhammad[3], al-Amudy[4] dan Abu Bakr Muhammad al‑Sharkhashy.[5] Secara garis besar, mereka semua mengklasifikasikan perbuatan nabi seperti klasifikasi di atas, meskipun cara menguraikannya berbeda-beda sesuai gaya tulis masing-masing.

Hadith-hadith Nabi yang menerangkan perbuatan beliau yang muncul karena sifat manusiawi (bersifat naluriah/kewatakan), seperti cara makan, minum, berpakaian, berjalan, diam, bergerak berdiri, duduk den sebagainya hanya menunjukkan pada bolehnya tindakan seperti itu. Hadith jibihyah seperti itu tidak dapat dipahami sebagai anjuran atau aturan yang harus diikuti kaum muslimin karena Nabi Muhammad melakukannya bukan dalam kapasitas sebagai rasul, namun sebagai pribadi. Perbuatan beliau yang harus diikuti hanyalah perbuatan yang di luar unsur kebiasaan manusia dan bukan termasuk hal yang khusus bagi beliau semata.

Pernyataan penulis di atas tidaklah berarti bahwa kita dilarang mengikuti beliau, atau seorang muslim yang berjalan, tidur, duduk, berpakaian dan sebagainya meniru persis perbuatan nabi adalah keliru, bukan itu maksudnya. Orang tersebut boleh melakukannya, namun dia harus menyadari bahwa apa yang dilakukannya tidak termasuk perbuatan sunnah. Karenanya, dia tidak berhak mendapatkan pahala atas perbuatan meniru tersebut. Namun, bisa saja dia mendapat point pahala karena kecintaannya pada Nabi Muhammad.

Penulis sadar bahwa ada sebagian orang yang mungkin tidak sependapat dengan pembagian ini dan menganggap bahwa perbuatan nabi mesti diikuti seluruhnya berdasarkan firman Allah dalam Al Qur’an, yaitu:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا[6]

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Ayat tersebut di atas tidak tepat untuk menyanggah pendapat penulis karena penulis juga sependapat bahwa Nabi Muhammad adalah panutan. Yang menjadi persoalan adalah apakah semua perbuatan nabi menjadi panutan ataukah hanya perbuatan syar’i saja?. Jawaban penulis adalah tentu yang menjadi panutan hanyalah perbuatan syar’i saja.

Sebagian pihak mungkin mengajukan ayat berikut untuk membantah pendapat penulis. Ayat tersebut adalah:

…وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا…[7]

…Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah…

Ayat tersebut sebenarnya bagian dari ayat yang berbicara tentang harta  fay’ (rampasan dari musuh yang tidak mampu melawan) sehingga kurang relevan dengan bahasan kita. Namun, meskipun kita memberlakukan keumuman lafaznya sekalipun, ayat tersebut tetap tidak dapat menyanggah apapun karena penulis juga yakin bahwa apa yang dibawa rasulullah harus harus dilakukan, namun seperti sebelumnya, apakah itu berlaku umum atau ada pengecualian? Dalam hal ini penulis melihat ada banyak dalil yang membatasi keumuman penggalan ayat tersebut.

Untuk menguatkan argumen penulis, di bawah ini penulis utarakan hadith yang menunjukkan sisi kemanusiaan beliau disamping sisi kerasulannya. Rasulullah bersabda:

إنما أنا بشر  إذا أمرتكم بشيء من دينكم فخذوا به وإذا أمرتكم بشيء من رأي فإنما أنا بشر[8]

Sesungguhnnya aku adalah manusia. Jika aku memerintahkan kalian sesuatu dari perkara agama, maka ambillah. Jika aku memerintahkan sesuatu dari pendapatku sendiri, maka sesungguhnya aku juga manusia.

Hadith tersebut disebutkan oleh Imam Muslim pada bab khusus yang berjudul “باب وجوب امتثال ما قاله شرعا دون ما ذكره  صلى الله عليه وسلم  من معايش الدنيا على سبيل الرأي”, artinya bebasnya adalah “Bab tentang kewajiban mengikuti pendapat syar’i yang disabdakannya dan bukannya apa yang dituturkannya dari akal”.  Tampaknya Imam Muslim sependapat dengan penulis karena hadith tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa pendapat rasul harus didudukkan sesuai dengan kapasitas beliau. Sebagai rasul, beliau tidak mungkin salah, tetapi sebagai manusia beliau dapat saja melakukan kesalahan. Pendapat yang timbul dari sisi manusia ini tidak seluruhnya wajib untuk diikuti.

Perlu ditenkankan di sini bahwa penulis tidak bermaksud menafikan hak Nabi Muhammad untuk memberikan perintah yang tidak ada dalam ruang lingkup wahyu. Banyak dalil yang dapat dikemukakan untuk menegaskan bahwa Nabi Muhammad secara pribadi juga harus dipatuhi, selain Allah. Beliau mempunyai otoritas untuk membuat hukum baru yang tidak ditegaskan dalam Al Qur’an. Namun, itu di luar bahasan makalah ini.

C.     Klasifikasi kapasitas Nabi Muhammad.

Untuk lebih jelasnya perlu diuraikan lebih terperinci tentang kapasitas beliau. Untuk tujuan itu, penulis akan membagi tindakan dan sabda beliau dalam tiga kategori, yaitu:

1.      Kapasitas sebagai rasul.

Rasulullah adalah orang yang diutus pada manusia untuk menunjukkan jalan yang benar. Beliau memberitakan wahyu yang tidak mungkin diketahui oleh manusia yang lain. Dalam kapasitas beliau sebagai rasul, seluruh sabda beliau dapat menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Beliau harus diikuti dan dipatuhi oleh seluruh muslim, suka atau tidak. Dalil dari argumen ini adalah firman Allah dalam al Qur’an tentang wajibnya taat kepada rasul yang tentunya telah banyak diketahui bersama.

2.      Kapasitas nabi sebagai pemimpin masyarakat.

Rasulullah Muhammad tidak hanya hidup sebagai rasul. Beliau juga menjadi seorang pemimpin masyarakat, bahkan kemudian menjadi pemimpin negara. Sebagai seorang pemimpin, beliau menjalankan roda pemerintahan islam di Madinah seperti layaknya kepala negara. Beliau mengadakan rapat dengan orang-orang kepercayaannya, mengirim surat­surat kenegaraan ke negeri lain, memimpin perang, mengatur masyarakat dan sebagainya.

Berbagai hadith dalam kapasitas beliau sebagai seorang pemimpin banyak jumlahnya, di antaranya:

عن ابن عمر رضي الله عنهما ، قال : استشار رسول الله صلى الله عليه وسلم في الأسارى أبا بكر فقال : قومك وعشيرتك فخل سبيلهم . فاستشار عمر فقال : اقتلهم . قال : ففداهم رسول الله صلى الله عليه وسلم « فأنزل الله عز وجل ( ما كان لنبي أن يكون له أسرى حتى يثخن في الأرض ) إلى قوله ( فكلوا مما غنمتم حلالا طيبا ) قال : فلقي النبي صلى الله عليه وسلم عمر قال : كاد أن يصيبنا في خلافك بلاء[9]

Dari Ibn Umar ra, Rasulullah bersabda: “Kemudian Nabi Muhammad bermusyawarah dengan Abu Bakar tentang para tawanan. Abu Bakar berkata: ‘Kaummu dan masyarakatmu, maka biarkan mereka’. Kemudian beliau bermusyawarah dengan Umar dan Umar berkata: ‘bunuh mereka’. Ibnu Umar kemudian mekanjutkan; kemudian rasul menyuruh para tawanan tersebut membayar fidyah, maka Allah menurunkan firmannya: (Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi) hingga kalimat (makanlah apa yang menjadi ghanimahmu secara halal dan baik). Ibnu Umar melanjutkan: kemudian rasul menemui Umar dan bersabda: ‘hampir saja ada bencana yang menimpa kita karena berbeda pendapat denganmu’.

أن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  لما أراد أن   يسرح معاذا  إلى اليمن استشار ناسا من أصحابه فيهم أبو بكر وعمر وعثمان وعلي وطلحة والزبير وأسيد بن حضير فاستشارهم فقال أبو بكر لولا أنك استشرتنا ما تكلمنا فقال إني فيما لم يوح إلي كأحدكم قال فتكلم القوم فتكلم كل إنسان برأيه[10]

Sesungguhnya rasulullah saw, ketika hendak mengutus Mu’adh ke Yaman, bermusyawarah pada para sahabatnya. Di antara mereka ada Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair dan Asad bin Hudlair. Abu Bakar berkata: ‘seandainya anda tidak mengajak kami bermusyawarah, maka kami tidak akan bicara. Nabi menjawab: ‘sesungguhnya aku, dalam sesuatu yang tidak diwahyukan padaku, sama saja dengan kalian’. Mu’adh berkata: ‘kemudian orang-orang mau berpendapat. Tiap orang berkata sesuai pendapatnya masing-masing’.

Hadith di atas menunjukkan bahwa nabi, sebagai kepala negara, dapat mengambil keputusan yang keliru dan masih membutuhkan pendapat orang lain untuk memecahkan masalah kenegaraan.

3. Kapasitas nabi sebagai pribadi biasa.

Selain sebagai rasul atau pemimpin, Nabi Muhammad juga harus dinilai sebagai pribadi yang babas. Beliau melakukan hal-hal yang juga dilakukan orang lain di lingkungannya. Untuk point ini terdapat banyak sekali hadith yang bisa ditemukan dengan mudah di kitab-kitab hadith.[11] Hadith berikut dapat jadi contoh yang cukup representatif:

رأيت رسول الله على المنبر و عليه عمامة سوداء قد أرخى طرفيها بين كتفيه.[12]

Aku melihat rasul di atas mimbar sedang beliau memakai serban hitam. Beliau menjulurkan kedua ujung serbannya di antara kedua pundaknya.

Abu Bakar Al Baihaqy menyebutkan hadith ini dalam kitabnya yang membahas tentang tatakrama, seolah memberi kesan bahwa memakai serban seperti itu termasuk tindakan yang patut diteladani dan merupakan akhlak yang baik.[13] Konon, serban hitam kemudian dijadikan pertanda bahwa pemakainya adalah ningrat atau keturunan nabi. Menurut hemat penulis, hadith tersebut hanya gambaran tentang keadaan nabi dan serbannya saja dan tidak ada sangkut pautnya dengan kesunnahan atau akhlak karena nabi sendiri tidak pernah memerintahkan umatnya untuk meniru “fashion” beliau.

Kita tahu bahwa pemakaian serban sudah dilakukan orang arab jauh sebelum Nabi Muhammad lahir. Dengan begitu dapat kita simpulkan bahwa kaitan serban sebenarnya bukannya dengan syari’at islam, tetapi dengan budaya masyarakat arab, yang Nabi Muhammad adalah salah satu anggotanya. Serban sendiri sebenarnya bukan urusan ibadah dan di luar koridor pengaturan wahyu (kerasulan).

D.     Contoh hadith-hadith yang sering disalahpahami

Tidak semua orang sependapat dengan penulis dalam pembagian peran nabi. Sebagian orang melakukan hal tertentu yang sebenarnya bersifat budaya namun dianggap sebagai sunnah yang dapat menghasilkan pahala bagi pelakunya. Pendapat mereka biasanya dilandaskan pada hadith tertentu yang secara letterlijk seolah mendukung pendirian mereka.

Ada beberapa hadith yang dapat dijadikan contoh dalam hal ini. Misalnya:

ثم ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار[14]

Dari Abu Hurairah ra dari rasulullah saw. Beliau bersabda: “…kemudian semua sarung yang lebih rendah dari mata kaki, maka akan masuk neraka”.

Hadith di atas tampaknya menjadi landasan bagi sebagian golongan islam di negeri kita ini untuk memakai sarung atau celana setinggi betis (di atas mata kaki). Sebenarnya sabda tersebut muncul karena budaya arab pada waktu itu yang menjadikan pakaian yang panjangnya melewati mata kaki sebagai simbol keangkuhan/kesombongan, seperti halnya memakai arloji berlapis emas dalam budaya kita. Kesimpulan ini didapat dengan mengamati hadith berikut:

من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة فقال أبو بكر إن أحد شقي ثوبي يسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه فقال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  ثم إنك لست تصنع ذلك خيلاء[15]

‘Barang siapa yang memanjangkan bajunya karena angkuh, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat’. Kemudian Abu Bakar berkata: ‘sesungguhnya salah satu dari dua bagian bajuku menjulur kecuali bila aku menjaganya’. Maka rasul saw bersabda: ‘sesungguhnya kamu bukan orang yang berbuat demikian karena sombong’.

Hadith tersebut menjelaskan bahwa larangan memanjangkan pakaian hingga melebihi mata kaki hanya berlaku bila ada unsur kesombongan. Menurut penulis, hadith tersebut pada saat ini tidak berlaku bagi kita, orang Indonesia, karena siapapun di antara kita sekarang yang memanjangkan celana atau sarungnya tidak akan punya pikiran bahwa hal itu menandakan kesombongan. Simbol yang berlaku di Arab, seperti simbol menjulurkan sarung tersebut, tentunya berbeda dengan yang berlaku di luar Arab. Dalam tradisi kita, justeru orang laki-laki yang memakai celana atau sarung terlalu tinggi atau di atas mata kaki justeru terkesan merusak pemandangan.

Pemahaman serupa terjadi pada hadith berikut:

عن أم سلمة رضي الله عنها قالت ثم لم يكن ثوب أحب إلى رسول الله  صلى الله عليه وسلم  من القميص[16]

Dari Umi Salamah ra. Dia berkata: `tidak ada baju yang lebih disukai rasul saw melebihi jubah (gamis).

Sebagian orang menganggap bahwa memakai jubah merupakan tradisi islam. Padahal kenyataannya, jubah sudah dipakai orang arab sejak jaman jahiliyah. Nabi tetap memakai jubah dan tidak menganggapnya sebagai warisan jahiliyah karena memang jubah adalah model pakaian, dan model pakaian itu tidak ada hubungannya dengan agama, tapi lebih sebagai identitas suatu kaum. Hadith di atas juga tidak berupa perintah dari nabi untuk memakai jubah dan bukan pula termasuk konteks kalimat berita dalam arti wajib.

Kejadian serupa juga terjadi pada hadith berikut:

عن أبي رمثة قال ثم انطلقت مع أبي نحو النبي  صلى الله عليه وسلم  فرأيت عليه بردين أخضرين [17]

Dari Abu Rumthah, Dia berkata: `aku berangkat bersama ayahku ke tempat rasulullah saw, kemudian aku melihat beliau memakai dua selendang yang berwarna hijau’.

Serban/selendang hijau selama ini identik dengan keluarga priyayi. Hadith di atas sepertinya mendukung pemahaman seperti ini. Namun seperti yang telah disebutkan, nabi adalah seorang pribadi bebas. Dengan begitu beliau sebagai pribadi, pasti memiliki rasa suka secara subjektif terhadap warna tertentu, rasa tertentu ataupun model tertentu. Semuanya itu karena faktor jibily (watak/naluriah) yang melekat pada setiap manusia.

Begitu banyak hadith yang berbicara tentang hal-hal seperti ini. Keterbatasan ruang dan waktu penulisan tidak memungkinkan penulis untuk menyebutkan kesemuanya. Pengkajian secara menyeluruh tentang topik ini memerlukan waktu yang lama dan penguasaan terhadap ilmu-ilmu pendukung, seperti Ulumul Hadith dan Ushul Fiqh. Syarat lain yang harus dimiliki peneliti topik ini adalah sopan santun kepada Nabi Muhammad saw sehingga tidak terjerumus pada kesimpulan yang tidak layak dicapai seorang muslim.

 


E.      Kesimpulan

Nabi Muhammad sebagai manusia tentunya tidak luput dari berbagai kekurangan, seperti lupa dan salah. Beliau sendiri selama hidupnya tidak hanya bertugas menjadi rasul, namun juga sebagai pemimpin negara dan sebagai pribadi.

Hadith-hadith nabi sebagai produk beliau mestinya juga dipilah-pilah dengan cermat. Harus ada penentuan, mana hadith yang memang keluar dari kapasitas beliau sebagai rasul dan mana hadith yang keluar bukan dari konteks kerasulan. Dengan begitu kita tidak terjebak pada ajaran yang kaku dan monoton.

Lepas dari itu semua, orang yang meniru hal-ihwal jibiliyah Nabi Muhammad semirip pastilah mendapatkan pahala, namun atas kecintaannya kepada beliau, bukan atas perbuatannya. Wallahu a’lam.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Muhammad Husain, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2002.

Abu Bakar al Baihaqy, al ‘Adab, Beirut: Dar al Kitab ai Ilmiyah, 1986.

Abu Daud, Sulaiman, Sunan Abi Daud Beirut: Dar al Fikr,tt.

Abu al-Qasim Al-Tabrany, al Mu’jam al Kabīr, Mosul: Maktabah UIu n wa at hikam, 1983.

Ali bin Muhammad al-Amudy, Al Ahkārn fī UsūI al Ahkām, Beirut: al Maktabah al Islamy,tt.

Malik Al Juwayni, Abdul, Al Burhān Fī UsūI fiqh, Mesir: Al Wafa’,tt.

Muhammad al Sharkhashy, Abu Bakr, UsūI al-Sharkhashī, Bairut: Dar al-Kitab al `Ilmiyah, 1993.

Muhammad bin Abdullah al Hakim, Mustadrak ‘alā al Sahīhain, Beirut: Dar al-Kitab at ‘Ilmiyah, 1990.

Muhammad bin Ismail al-Bukhary, Sahīh al-Bukhāry, Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1987.

Muhammad bin Muhammad, Kitāb al-taqrīr  wa al-tahrīr, Beirut: Dar al-Fikr, 1996.

Muslim bin Hujjaj al-Naysabury, SahīhMuslim, Beirut: Dār Ihyā’i al-Turāth al-‘Arabī, tt.

Rauf al Manawy, Abd, Faid al-Qadīr, Mesir: al-Maktabah al-Tijāriyah al-Kubrā, 1937.


[1] Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, (Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2002), 54.

[2] Abdul Malik Al Juwayni, Al Burhān Fī UsūI fiqh, (Mesir: Al Wafa’,tt) I, 321.

[3] Muhammad bin Muhammad, Kitāb al-taqrīr  wa al-tahrīr, (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), II, 403.

[4] Ali bin Muhammad al-Amudy, Al Ahkārn fī UsūI al Ahkām, (Beirut: al Maktabah al Islamy,tt), 227-228.

[5] Abu Bakr Muhammad al Sharkhashy, UsūI al-Sharkhashī, (Bairut: Dar al-Kitab al `Ilmiyah,1993), II, 86-87.

[6] Al-Qur’an, 33 (al-Ahzab): 21.

[7] Al-Qur’an, 59 (al-Hasyr): 7.

[8] Muslim bin Hujjaj al-Naysabury, SahīhMuslim, (Beirut: Dār Ihyā’i al-Turāth al-‘Arabī, tt), IV, 1835.

[9] Muhammad bin Abdullah al Hakim, Mustadrak ‘alā al Sahīhain, (Beirut: Dar al-Kitab at ‘Ilmiyah, 1990), II, 359.

[10] Abu al-Qasim Al-Tabrany, al Mu’jam al Kabīr, (Mosul: Maktabah UIu n wa at hikam, 1983), XX, 67.

[11] Cara yang paling mudah untuk mencari hadith dalam kategori ini adalah dengan mencari hadith dengan kata kunci كان رسول الله  atau langsung melihat kitab Faid al-Qadīr karya al Manawy pada bab huruf kāf pada hadith yang berawalan dengan frase  كان.

[12] Abu Bakar al Baihaqy, al ‘Adab, (Beirut: Dar al Kitab ai Ilmiyah, 1986), 359 dari riwayat Muslim, Abu Daud, Ibn Majah, Nasa’i dan Ahmad bin Hambal.

[13] Ibid, 359.

[14] Muhammad bin Ismail al-Bukhary, Sahīh al-Bukhāry, (Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1987), V, 2182. (Hadith no. 5450).

[15] Ibid, III, 1340 (Hadith no. 3465).

[16] Al Hakim, IV, 213

[17] Sulaiman Abu Daud, Sunan Abi Daud (Beirut: Dar al Fikr,tt), IV, 52.

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s