Hikmah 5: Terhapusnya mata hati karena prioritas duniawi


اجتهادُكَ فيما ضَمِنَ لكَ وتقصيرُكَ فيما طَلَبَ منكَ دليلٌ على انْطماسِ البصيرةِ منْكَ

Usaha kerasmu dalam hal yang sudah dijamin untukmu dan kelalaianmu dalam hal yang dituntut darimu adalah pertanda terhapusnya mata hatimu.

Hal yang telah dijamin untuk manusia adalah rizkinya sebagaimana firman Allah yang artinya: “Tidak ada satupun makhluk hidup di muka bumi kecuali atas Allah jaminan rizkinya” (QS. Hud: 6). Allah menjamin riqki tiap makhluk yang dihidupkan-Nya ke dunia-Nya yang besar kecilnya rizki tersebut diberikan berdasarkan kebijakan-Nya. Adapun hal yang dituntut dari seorang hamba adalah pengabdian kepada Allah seperti disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an. Pengabdian adalah tujuan pokok tiap hamba hidup di dunia ini.

Bila seseorang bekerja keras sedemikian rupa untuk mengejar rizki yang sebenarnya sudah ditentukan untuknya dan pada waktu yang sama dia melalaikan kewajibannya kepada Allah, itu adalah pertanda bahwa mata hatinya telah terhapus. Mata hati ini adalah kemampuan jiwa untuk melihat kebenaran hingga jauh ke depan. Dengannya, manusia bisa tahu apa yang harus jadi prioritas utama dalam hidupnya. Tanpa mata hati, orientasi hidup seseorang bisa keliru dan akibatnya dia akan menyesal kelak di akhirat. Allah berfirman: وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ  “akhir yang baik hanya bagi orang yang bertaqwa” (QS. Al-A’raf: 128).

Sebaliknya, orang yang mengetahui hakikat ini sehingga hatinya lebih banyak disibukkan dengan zikir dan ibadah daripada melulu memikirkan rizkinya, maka mata hatinya akan terbuka lebar sehingga bisa menangkap cahaya kebenaran dengan baik. Mata hatinya akan membuatnya melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang dan dia mampu menangkap rahasia yang paling tersembunyi dari setiap peristiwa.

Yang harus dihindari di sini adalah kerja keras sedemikian rupa dengan menghabiskan banyak waktu serta pikiran dalam mencari rizki, bukan bekerja mencari rizki itu sendiri. Adapun bekerja mencari rizki dengan cara yang sewajarnya dan tanpa melalaikan ibadah adalah sunnatullah yang mesti dilakukan, seperti dalam firman-Nya yang artinya: “Bila engkau sudah shalat, maka menyebarlah di muka bumi dan carilah kemurahan Allah (rizki dari-Nya) serta banyak ingatlah kepada Allah agar kalian beruntung” (QS. Al-Jum’ah: 10). Bahkan bila tujuannya sebagai bekal ibadah dan mencukupi nafkah keluarga, maka berkerja dapat menjadi poin ibadah juga. Dalam konteks ini Rasul bersabda: من بات كالاً من طلب الحلال بات مغفوراً له “barang siapa yang istirahat di malam hari dalam keadaan payah karena mencari rizki, maka dia istirahat di malam hari dalam keadaan diampuni dosanya”.

______________________

Special Note:

Banyak orang—bahkan orang yang dikenal sebagai da’i dan khatib jum’at sekalipun—yang keliru memahami dalil-dalil islam berikut hingga sampai pada kesimpulan bahwa bekerja untuk dunia dan akhirat idealnya harus sama-sama seimbang dan harus sama-sama diprioritaskan. Dalil yang sering disalahpahami tersebut adalah:

1.    وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا   “carilah negeri akhirat yang telah Allah berikan kepadamu dan jangan lupakan bagianmu dari dunia”. (QS. Al-Qashash:77).

Ayat ini tidak memerintahkan untuk mencari dunia dan akhirat 50%-50%, tetapi perintah untuk berusaha keras mencari akhirat dengan catatan penghidupan duniawi jangan ditinggal seratus persen. Perbandingannya, sama dengan nasehat orang tua pada anaknya: “Nak, belajarlah yang giat di kampus, tapi jangan lupa istirahat”. Nasehat itu bukan perintah untuk belajar giat dan istirahat dengan giat juga bukan? Bukan juga perintah untuk belajar 50% dan istirahat 50%, tetapi istirahat seperlunya saja dan selebihnya belajar yang giat. Dalam konteks ayat tersebut, berarti pesannya adalah: Beribadahlah dengan giat untuk akhirat dan carilah dunia seperlunya saja, jangan diprioritaskan melebihi akhirat dan jangan ditinggalkan seratus persen.

2.    Hadith Nabi احرز لدنياك كأنك تعيش أبدا واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا “Kumpulkanlah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”. (H.R. al-Harith.). * Hadith senada juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi.

Hadith di atas juga tidak untuk menekankan kesejajaran prioritas dunia dan akhirat. Bagaimana mungkin antara “hidup selamanya” dan “mati besok” mempunyai arti yang sama, yaitu: “melakukan dengan giat dan sungguh-sungguh”, seperti yang sering diartikan oleh banyak da’i dan motivator muslim. Maksud hadith di atas sebenarnya adalah: Kumpulkan kebutuhan duniawimu tanpa harus terlalu “ngoyo” seakan engkau akan hidup selamanya; masih banyak waktu dan tak perlu tergesa-gesa. Sebaliknya, beribadahlah untuk akhirat segiat dan se-khusyuk mungkin seolah tidak ada waktu santai lagi karena hidupmu akan berakhir besok. Dalam kitab Ittihaf al-Khiyarah karya al-Bushiri, hadith ini diletakkan dalam bab yang menerangkan celaan terhadap orang yang menomorduakan akhirat daripada dunia.

Kesimpulan yang keliru tersebut meskipun sepintas enak di dengar karena bisa dijadikan dalil etos kerja untuk dunia dan akhirat sekaligus, namun bertentangan dengan banyak dalil-dalil lain yang tak terhitung jumlahnya. Semoga kita semua mendapat hidayah dan dijauhkan dari ketergesa-gesaan dalam menyimpulkan dan membawakan dalil. Amin. Wallahu A’lam.

Karya Asli Abdul Wahab

Perihal Abdul Wahab
Lecturer, Writer and Chief of Aswaja Center Jember.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s